Alice dan Kemestian Menjadi Hero

Alice melawan monster Jabberwockey? Ah, bisa-bisanya Tim Burton saja.

Jika sudah nonton Alice in Wonderland yang disutradarai Tim Burton, lalu berharap menemukan kisah yang sama di bukunya, dipastikan anda akan kecewa. Dua produk itu—film dan buku, meski bertema sama, bahkan menceritakan sosok yang sama, beda terlalu jauh.

Jangan bayangkan ada pedang Volpar, absolem si ulat bulu yang bijaksana atau Ratu Putih yang gerakannya super lebay. Monster Jabberwockey? Ho-ho, apalagi itu. Monster mengerikan

peliharaan Iracebeth (Ratu Merah) sama sekali tak ada dalam imajinasi terburuk Alice sekalipun. Karena itu tak ada pertarungan yang berdarah-darah, pemenggalan kepala monster atau pengusiran Iracebeth dari Wonderland. Yang ada sekumpulan kelinci, kura-kura tiruan, PembuatTopi (Hatter) yang cuek dan kasar, raja, ratu serta sekumpulan prajurit yang mirip kartu.

Jadi, ketika mengambil buku Alice karya Lewis Carrol dari rak buku, singkirkan dulu jauh-jauh gambaran pertarungan dahsyat Alice dengan si monster di puncak tebing. Sebab, di buku aslinya, Alice hanya ‘bertarung’ di pengadilan. Bahkan itu pun tidak bisa disebut pertarungan, karena Alice hanya tampil sebagai salah satu saksi dalam kasus: pencurian kue tart.

Kisah Alice versi buku dimulai dengan jatuhnya ia ke lubang kelinci. Terdengar familiar? Ya, ini adalah bagian dimana Tim Burton, sang sutradara film Alice in Wonderland tidak berminat menghilangkannya. Sebab, peristiwa jatuhnya Alice ke lubang kelinci merupakan pintu masuk ke kisah Alice. Tanpa peristiwa itu, takkan ada kisah ini.

Begitu sampai di dasar lubang kelinci, dimulailah petualangan Alice. Ia menemukan cairan pengecil tubuh, kue pembesar tubuh, tikus, bebek dan burung-burung. Semuanya bisa bicara dan semuanya bisa bernyanyi. Bahkan Lewis Carrol menuliskan lirik lagunya. Bagi orangtua yang biasa mendongengkan anaknya sebelum tidur, sebaiknya ikut menyanyikan lagu tersebut. Bagi telinga kanak-kanak lirik-lirik lagu yang ditulis Lewis Carrol terdengar menakjubkan dan mungkin lucu.

Ingin tertawa saat membaca kisah ini? Ya, tertawa saja, sebab kisahnya betul-betul asyik. Baca saja bab Siapa yang Mencuri Kue Tar?.Simak sidang pengadilan terhadap Jack Hati, si tertuduh pencuri kue tar. Satu persatu saksi didatangkan. Pembuat Topi datang bersama secangkir teh dan roti oles mentega.

“Maafkan saya Yang Mulia, karena sudah membawa makanan ini ke dalam ruangan, tapi teh saya belum habis ketika diminta datang.”

“Kapan kau memulainya?”

Si Pembuat Topi menatap ke arah si Kelinci Bulan Maret yang tadi mengikutinya masuk ke ruang pengadilan, bergandeng tangan dengan si Tikus Asrama, “Kurasa, 14 Maret,” jawabnya.

“Lima belas,” kata si Pembuat Topi

“Enam belas,” imbuh si Tikus Asrama

Perdebatan itu berlanjut, hanya seputar soal tanggal. Orang dewasa mungkin menganggapnya remeh bahkan tidak menarik. Mungkin, bagian itu akan langsung dihabisi oleh editor karena dianggap tak ada gunanya. Tetapi, ketika kita berbicara tentang cerita anak-anak, kita akan menemukan, bahwa bagi anak-anak bagian itu sama menariknya dengan bagian ketika Alice menghabisi monster jabberwockey bagi orang dewasa.

Kisah perdebatan soal tanggal itu jelas sangat kekanakan. Ini merupakan salah satu syarat utama cerita anak (Riris K. Toha Sarumpaet: 2010). Banyak cerita anak yang hadir di pasaran mengabaikan bagian ini. Cerita-cerita itu ditulis sesuai alur pikir dan logika orang dewasa. Orang dewasa yang seringkali terjebak pola pikir yang ‘harus begini harus begitu.’

Hal ini mungkin muncul karena anggapan bahwa anak-anak merupakan makhluk yang belum ‘berakal’ benar, jadi harus banyak diberi petunjuk.

Ironisnya, hal di atas masih asing bagi anak-anak. Bagi mereka tidak ada ‘yang harus begini harus begitu.’ Dalam dunia mereka, seseorang tidak mesti menjadi ‘hero’. Tidak harus jadi pemecah masalah. Tidak harus menjadi andalan saat dibutuhkan. Logika ‘hero’ adalah logikanya orang dewasa.

Inilah yang menjadi perbedaan besar antara kisah Alice in Wonderland versi buku dengan filmnya. Pada film, kisah Alice tunduk pada logika ini. Ia harus menjadi seorang ‘hero’. Sebab di pundaknya tersandang tanggungjawab besar: membebaskan Negeri Ajaib dari penindasan Irecebeth. Ia bukan sekadar Alice, ia adalah ‘the Alice.’ Alice yang dipilih, untuk mengalahkan monster jabberwockey peliharaan Irecebeth, monster paling mengerikan di Negeri Ajaib.

Sebaliknya, pada kisah yang ditulis Lewis Carroll, Alice hanya tunduk pada logika anak-anak. Ia tidak mesti menjadi hero. Sebab, tak ada kewajiban bagi anak-anak untuk menjadi demikian. Ceritanya pun tidak mesti runtut (mulai dari pemaparan masalah, klimaks, antiklimaks/penyelesaian). Kisahnya boleh saja berputar-putar seputar kenapa kura-kura jalannya lambat. Selama kisahnya bisa dibuat menarik dan tidak membosankan, anak-anak akan menikmatinya bagai brownies. Mungkin inilah salah satu sebab kenapa kisah Alice menjadi abadi.

Dunia Alice yang dibangun Lewis Carrol adalah dunia yang acak, dunia yang sembarang, dunia yang tanpa peraturan, tata tertib serta undang-undang. Itu adalah dunia anak-anak. Dunia yang serba tak teratur. Sementara di film? Tim Burton menjadikannya terlalu rapi, terlalu mengikut ‘peraturan’. Karena itulah harus ada pedang Volpar, harus ada Jabberwockey. Sebab, seorang tokoh di dunia orang dewasa, semestinya menjadi pahlawan. Tim Burton menjadikan Alice sebagai hero, sementara Lewis Carrol menjadikannya teman bermain.

Share Button

Leave a Reply

Your email address will not be published.