Keindahan Imajinasi Dalam Dongeng Brothers Grimm

b

Dalam jagad dongeng dunia, nama Brothers Grimm memiliki tempat istimewa sebagaimana raja dongeng lainnya, Hans Christian Andersen. Brothers Grimm yang terdiri atas dua kakak beradik ahli linguistik dan pecinta sastra, Jacob Grimm dan Wilhelm Grimm, telah menghabiskan banyak waktu untuk mengumpulkan dongeng-dongeng dari berbagai daerah di Jerman dan seluruh dunia. Mereka berdua jadi begitu terkenal berkat penerbitan dongeng-dongeng itu dan beroleh berbagai penghargaan.

Kini dongeng-dongeng Brothers Grimm itu dibuat versi Indonesianya dan dibukukan oleh Penerbit Elex Media Komputindo. Ada 63 dongeng dalam buku berjudul Dongeng-dongeng Grimm Bersaudara tersebut. Sebagian dongeng di dalamnya telah kita kenal dengan baik. Semisal dongeng Cinderella (Ashputtel), Pangeran Katak, Topi Merah (dikenal juga dengan Red Riding Hood atau Gadis Bertudung Merah), Rapunzel serta Hansel dan Gretel. Dongeng-dongeng ini juga telah difilmkan oleh Hollywood.

Dongeng-dongeng Brothers Grimm di Eropa telah menjadi semacam folklore (cerita rakyat) bagi masyarakatnya. Statusnya mungkin sama dengan kisah-kisah Malin Kundang, Legenda Sangkuriang, dan Asal-usul Danau Toba bagi masyarakat Indonesia. Anak-anak Eropa tumbuh dengan dongeng-dongeng ini, sebagaimana kita juga tumbuh bersama cerita rakyat dari daerah sendiri.

Ada hal-hal menarik yang kita dapat setelah membaca dongeng-dongeng dalam buku ini. Pertama, beberapa cerita populer tidak dikisahkan sebagaimana yang umum diketahui. Contohnya kisah Cinderella (Ashputtel atau Gadis Abu). Dalam versi populer, Cinderella diketahui memiliki ibu dan saudara tiri kejam yang membuatnya menjadi pembantu di rumah sendiri. Lalu, nasib Cinderella berubah ketika suatu malam ibu peri membantunya ke pesta dansa pangeran. Cinderella tampil sebagai gadis paling cantik di sana, hati pangeran pun terpikat. Ia melamar Cinderella, lalu mereka berdua menikah. Versi yang kita kenal ini sebenarnya diciptakan oleh Charles Perrault, seorang Perancis. Kisah Cinderella dalam versi Brothers Grimm lebih sederhana. Cinderella disebut tidak dibantu oleh ibu peri, tapi oleh para burung yang menyayanginya.

Kisah Cinderella versi Brothers Grimm ini mirip dengan kisah Rhodopis, seorang budak Mesir yang beruntung dinikahi seorang bangsawan kaya. Konon, kisah Rhodopis yang dicatat oleh sejarahwan Yunani, Strabo, merupakan awal lahirnya kisah Cinderella. Disebutkan, suatu hari seekor burung muncul di jendela si bangsawan kaya yang memberi isyarat agar si bangsawan mengikutinya. Burung itu lalu membawa si bangsawan ke tempat Rhodopis berada. Begitu melihat Rhodopis yang elok rupawan, si bangsawan langsung terpikat. Ia pun membebaskan Rhodopis dari perbudakan dan menikahinya.

Hal menarik kedua dari dongeng-dongeng Brothers Grimm ini  adalah hampir semua cerita berakhir bahagia. Bahkan kisah si Topi Merah yang dalam versi Charles Perrault berakhir menyedihkan, dirubah menjadi bahagia oleh Brothers Grimm. Dalam versi Charles Perrault si Topi Merah akhirnya tewas dimangsa serigala, sementara dalam versi Brothers Grimm, si Topi Merah selamat. Ini mengindikasikan bahwa bagi Brothers Grimm cerita anak-anak mestilah memberi rasa bahagia dan spirit positif. Tidak tepat bila anak-anak disuguhkan kisah-kisah pilu. Ini sedikit berbeda dengan Hans Christian Andersen, yang dalam sebagian dongengnya berakhir menyedihkan.

Dongeng-dongeng dalam buku ini cukup tepat menjadi pengantar tidur bagi anak-anak kita. Kisah-kisahnya indah, imajinatif dan membahagiakan. Bisa jadi, setelah mendengarkan dongeng-dongeng dari buku ini, mereka akan mengalami mimpi yang menyenangkan.

Biodata buku

Judul Buku          :  Dongeng-dongeng Grimm Bersaudara

Penerbit              : Elex Media Komputindo

Jumlah halaman: 480

Harga                    : Rp. 74.000,-

Tahun terbit       : 2011

sudah dipublikasikan di Harian Padang Ekspres

Share Button

Leave a Reply

Your email address will not be published.