The Sicilians

Kadang saya bermimpi Abu Dzar pun akan dinovelkan sebagaimana Salvatore Giuliano dinovelkan Mario Puzo. Giuliano, sebagai bandit buruan nomor satu Italia tahun 50-an—sekaligus pahlawan kaum miskin, di’prasasti’kan kisahnya dalam The Sicilians atau Orang-orang Sicilia. Giuliano (yang di novel menjadi Guiliano) merampok harta orang kaya dan membagi-bagikannya pada orang tak berpunya. Karena itulah kenapa ia menjadi penjahat sekaligus pahlawan.

Dalam banyak bangsa, kita kerap menemukan orang seperti Giuliano. Di Arab pada abad 6M kita mengenal Abu Dzar kepala suku Ghifar yang merampok harta orang kaya dan membagikannya pada orang miskin. Dasar perbuatannya adalah keadilan ekonomi. Sungguh miris rasanya melihat orang-orang kelaparan, sementara di sisi lain, orang-orang kaya hidup menghambur-hamburkan harta. Karena itu, ketika mendengar ada seorang Nabi yang menyuruh orang kaya memberi makan orang miskin ia langsung mengimani dan mengikuti. Nabi itu adalah Muhammad SAW.

Di Inggris sosok Giuliano ada pada diri Robin Hood sementara di Indonesia kita mengenalnya sebagai si Pitung. Sosok-sosok ini nyaris selalu ada sepanjang zaman. Muncul dari rahim ketidakpuasan akan ketimpangan sosial ekonomi.

Salvatore Giuliano, sang Robin Hood Italia, lahir di Montelepre, Italia pada 16 November 1922. Pada masa remaja ia bekerja sebagai pedagang minyak zaitun, tukang reparasi telepon dan pekerja konstruksi jalan. Giuliano mulai berurusan dengan hukum ketika ia menembak mati seorang carabineri (polisi) Italia saat membawa barang illegal. Ia menembak si polisi setelah sebelumnya tertembak dua kali. Orangtuanya kemudian mengirimnya ke Palermo untuk mengeluarkan peluru dari badannya. Saat ia di Palermo itulah polisi datang dan menangkap ayahnya serta beberapa penduduk Montelepre lain. Giuliano kemudian membantu mereka melarikan diri dari penjara. Beberapa yang ikut kabur memutuskan mengikuti pemuda itu.

Giuliano mulai dianggap radikal dan perlu diberangus saat ia bergabung dengan Gerakan Sisilia Merdeka (Sicilian Indpendence Movement). Di sini dengan cepat ia menarik perhatian. Kemampuan memimpin yang dimilikinya menjadikan ia memegang posisi penting di divisi ketentaraan gerakan ini. Keinginannya untuk menjadikan Sicilia sebagai bagian dari Amerika Serikat menimbulkan kegeraman luar biasa dari pemerintah Italia.

Aksi cepat pemerintah Italia menangkap para pemimpin kelompok separatis ini mempersempit ruang gerak Giuliano. Pada 1 Mei 1947 ia memimpin anggotanya yang tersisa untuk menangkap pemimpin komunis terkemuka, Girolamo Li Causi. Usaha ini ternyata menimbulkan hal yang tak terduga: terbantainya 14 warga sipil dan lebih 30 lainnya luka-luka. Peristiwa ini dengan segera menjadi skandal besar Italia dan menjadi headline berbagai surat kabar, dan dikenal sebagai pembantaian Portella di Ginestra

Setelah peristiwa itu, pihak Italia makin gencar mencari Giuliano. Pada tahun 1949, 300 carabineri menyerbu markas Giuliano namun gagal setelah orang-orang Giuliano meledakkan tambang yang terletak di bawah jalan konvoy carabineri. Bukannya surut, pemerintah Italia malah mengirim tambahan 1000 carabineri untuk menangkap Giuliano dan orang-orangnya.

Pada 5 Juli 1950 perlawanan Giuliano berakhir di Castelvetrano. Setelah kematiannya ada isu yang menyebutkan beberapa petinggi Italia terlibat dalam pembantaian Portella di Ginestra, karena sebelumnya mereka disebut-sebut bersua Giuliano. Namun, tuduhan itu tak terbukti di pengadilan.

Kematian Giuliano menjadi berita besar, dan menginspirasi banyak orang untuk mengangkatnya dalam cerita. Di antaranya Mario Puzo, yang mengabadikan kisah hidupnya dalam The Sicilian atau Orang-orang Sicilia. Novel ini disebut-sebut sebagai salah satu novel terbaik—setelah The Godfather yang juga ditulis Mario Puzo, yang bertutur tentang kerasnya kehidupan mafia. The Sicilian sendiri telah berkali-kali difilmkan.

Seandainya Mario Puzo tak mengangkatnya ke dalam novel, mungkin Giuliano hanya akan hidup dalam ingatan orang-orang Sicilia saja, bahkan bisa jadi Cuma tertinggal dalam berkas-berkas kepolisian Italia semata. Ia tidak menjadi abadi dan menginspirasi. Mario Puzo melihat keistimewaan kisahnya. Giuliano dituliskan dan namanya tersebar ke seluruh dunia.

Di situlah istimewanya sastra, disinilah peran penulis cerita. Menghidupkan kembali kisah-kisah menarik, untuk menjadi bagi inspirasi kita semua.

Share Button

Leave a Reply

Your email address will not be published.