Ketika St. Claire Setara Hogwarts

hogwarts

Jika ada sekolah imaji yang begitu beken, maka kurasa itu adalah St Clare dan—tentu saja Hogwarts, tempat Harry Potter bersekolah. Sekolah-sekolah itu terdengar (atau terbaca?) begitu mengasyikkan. Di luar keajaiban yang mungkin akan kita temui di Hogwarts (seperti burung berkaki kuda yang bisa terbang—bernama Buckbeak dan orang-orang yang bisa disulap jadi kodok), Hogwarts dan St. Clare adalah sekolah-sekolah hebat, yang membuat anak-anak luar biasa penakut, gugup dan dianggap bodoh, berubah menjadi pemberani dan jenius.

Tapi, mungkin Hogwarts lebih beken dari St. Clare. Sebab di Hogwarts kita bisa berimajinasi tentang apa saja—pegasus, hippogriff, dementor, death eater, tongkat sihir, mantra-mantra, burung hantu, sapu terbang dan peron kereta api yang mampu mengantarkan seseorang ke dunia sihir, maka jangan harap menemukan semua itu di St. Clare. St. Clare hanya sekolah biasa—sama seperti sekolah kita-kita mungkin. Di sana tak ada dementor (syukurlah!), yang ada Cuma Mam’zelle yang sering marah-marah, sering  menilai orang sebagai abominable (mengerikan) namun berhati baik, Bu Theobald yang—entah kenapa mirip Albus Dumbledore, kepala sekolah Hogwarts, selalu memberikan kesempatan kepada siapapun untuk berubah baik, Janet yang nakal dan suka mengerjai guru (seperti meledakkan mercon-mercon di perapian) dan tentu saja, tokoh utama St Clare, Pat dan Isabel, si kembar identik namun beda karakter. Namun, meski dua sekolah itu jauh berbeda, baik dari segi siapa muridnya (tak mungkin Harry Potter akan bersekolah di St Clare, ia pasti takkan dapat pelajaran cara mengalahkan Lord Voldemort! Yang ada di St. Clare paling Magery, si pahlawan yang menyelamatkan temannya dari bahaya kebakaran), guru-gurunya (murid-murid St. Clare pasti akan langsung kabur begitu tahu yang mengajar mereka adalah Prof. Bins, si hantu!) dan tentu saja pelajaran-pelajarannya (Bu Theobald takkan mengizinkan Prof. McGonagal mengajari murid-murid St. Clare mengubah temannya menjadi poci teh!), namun dua sekolah itu hebat luar biasa, percayalah.

Apa yang membuat kedua sekolah itu menjadi setara hebatnya?

Pertama, keduanya sama-sama tidak suka mencap murid. Mereka tidak memberikan penilaian awal pada murid, meskipun mungkin murid itu nakal, ber-IQ jongkok, dan tukang berkelahi. Keduanya sama-sama bersedia memberikan kesempatan bagi siapa saja untuk berubah. Untuk menunjukkan dirinya pantas disebut juara

Kedua, baik Hogwarts maupun St. Clare sama-sama memiliki kepala sekolah bijaksana. Kita tahu, sebuah organisasi, sebesar dan sekaya apapun,takkan jadi apa-apa  bila dipimpin orang licik, picik, curang, bodoh, tak punya visi dan serakah. Sang kepala adalah panutan, maka ia haruslah bisa dijadikan teladan.Dan kedua kepala sekolah itu, Albus Dumbledore dari Hogwarts dan Bu Theobald dari St. Clare sama-sama memenuhi harapan tersebut.

Ketiga, Hogwarts dan St. Clare memiliki guru-guru yang bisa memotivasi siswa untuk menjadi yang terbaik. Guru-gurunya bahkan menyediakan waktu untuk memberi pengajaran tambahan bila diperlukan (tentu Prof. Snape, guru Ramuan yang sarkastis itu pengecualian, sebab dia sesungguhnya mata-mata Dumbledore untuk Lord Voldemort, hingga harus tampak meyakinkan sebagai pengikut Lord Voldemort).

Keempat, Hogwarts dan St. Clare sama-sama sekolah berasrama, dan mereka memiliki fasilitas-fasilitas untuk kenyamanan bersekolah para murid, seperti klinik, kamar tidur yang bersanitasi bagus dan perhatian para kepala asrama terhadap murid-murid asuhnya

Kelima, Hogwarts dan St. Clare sama-sama mengajari para murid untuk tidak manja. Mereka sama-sama berusaha untuk membuat para murid memiliki kedisiplinan dan tanggungjawab, bukan hanya pada diri dan keluarga tapi juga masyarakat.

Well, kurasa itu sekolah yang betul-betul hebat.

Jika kamu ingin mengunjung dua sekolah itu, temukanlah Hogwarts di seri-seri Harry Potter karya J.K Rowling dan St Clare, di seri St. Clare karya Enid Blyton. Keduanya terbitan gramedia.

 

 

Share Button

Leave a Reply

Your email address will not be published.