Lho Kok Cuma Jualan Berita?

Saya sering ngos-ngosan mengikuti berbagai pemberitaan media. Habis, belum selesai berita A, nyambung ke berita B. Belum tuntas yang B, perhatian beralih ke C. Eh, pas baru aja mau mencerna berita C, tau-tau berita M, T dan Z datang bertubi-tubi. Televisi dan koran jadi mirip mitraliur. Sibuk menghajar kita dengan berita, tanpa memberi kesempatan buat narik napas dulu. Huu-aaaah….

Mungkin bukan salah media kenapa bisa jadi mitraliur berita begitu. Memang Indonesia ini memiliki amunisi berita yang gak habis-habis. Sumber berita membentang dari Sabang sampai Merauke. Dari banjir sampai kebakaran. Dari orang tewas kena sambaran petir sampai soal mayat hidup lagi. Dari dokter yang melakukan malapraktek sampai Eyang Subur. Dari guru yang suka nempeleng murid sampai pejabat bercitra bersih yang ternyata super korup. Buannyaaaaak sekali sumber berita di Indonesia. Nggak heran media-media tumbuh subur di sini. Sebab, semua berita itu nggak mungkin cuma ditampung satu media. Perlu ratusan bahkan mungkin ribuan media hanya untuk meliput satu peristiwa. Sebab, dalam satu peritiwa terkandung ribuan maksud. Satu maksud cuma bisa diberitakan satu media. Oleh sebab panjang dan berbelit-belitnya itu lho….

Sebenarnya ini pun mungkin jadi hiburan bagi kita semua. Sebab, kita mungkin cepat bosan cuma ngikutin berita yang itu itu saja. Hidup itu perlu variasi. Berita pun mesti demikian. Jadi, setelah kita disuguhi berita korupsi misalnya, mbok ya tampilkan berita pejabat berselingkuh, trus ganti berita pembunuhan, ganti lagi berita meninggalnya artis, gempa bumi, banjir bandang, tanah longsor, perburuan teroris, orang makan mayat, orang narik delman, mayat hidup lagi, Jibril menyaru manusia, dll. Kalau berita-berita itu kurang hot dan breaking news, tampilkan para pakar anu dan itu trus suruh mereka bicara soal kemungkinan Sumatra tenggelam, gunung terbang, Jawa patah, Kalimantan ambruk, tsunami setinggi seribu meter, atau kemungkinan evolusi mendadak pada manusia akibat berubahnya arah sinar kosmis, mendekatnya planet Nibiru, terbukanya konstelasi rasi anu dan itu, serta mendekatnya bumi ke pusat Bima Sakti. Pokoknya, apapun yang hot mesti ditampilkan ke masyarakat. Meski tidak logis  sama sekali.

Televisi, dalam hal ini media, serupa warung. Apa yang lagi laku dijual, ya dijual. Yang nggak laku, maaf saja, harap menyingkir jauh-jauh. Sekarang ini abadnya informasi hangat, Bung. Mereka yang nggak nampilin informasi terkini, ter-up to date, dan tak terbreaking news, akan ditinggalkan orang. Karena itu, sama sekali nggak perlu jadi pertanyaan kenapa misalnya berita korupsi anu dan itu, tewas  ketimpuk berita meninggalnya tokoh X. Petinggi negara bisa korupsi setiap hari, bung, sementara tokoh X nggak mungkin meninggal tiap hari. Jadi, untuk kasus ini kita perlu mengedapankan azas kekerapan. Semakin tidak kerap suatu peristiwa muncul, semakin penting jadi breaking news. Khusus untuk kasus budayawan besar Rendra beberapa waktu lalu ada pengecualian. Kebetulan saat itu, pamornya kalah telak dari Mbah Surip, jadi tv nggak perlu siaran langsung seharian dari rumah Rendra untuk meliput prosesi pemakaman. Petinggi negara pun tak perlu sampai menggelar konferensi pers mengucapkan duka cita mendalam atas kepergiannya. Sepengetahuan saya, dari semua media cetak yang ada, Kompas saja yang selama dua hari berturut-turut menjadikan Rendra sebagai breaking news. Bahkan menghabiskan berlembar-lembar halaman untuk mengenang sastrawan besar ini.

Di dunia media kita, selain berlaku azas kekerapan, sepertinya juga berlaku azas fenomenal. Semakin fenomenal suatu peristiwa semakin besar peluangnya menjadi berita utama. Lucunya, kata fenomenal sering setali tiga uang dengan terhangat. Jadi, bila sekarang  yang fenomenal adalah gempa Sumatera, maka media akan meliput berita itu habis-habisan, memerasnya sampai sekering-keringnya. Bila perlu tampilkan semua rekaman paling memilukan ke hadapan para pemirsa, agar  seluruh Indonesia tahu. Tak peduli rekaman itu tepat disiarkan atau tidak. Tak penting bila rekaman itu justru menimbulkan shock bahkan trauma, bukan hanya bagi keluarga korban, tapi juga bagi warga Indonesia lainnya yang jauh dari daerah bencana.

Nah, setelah berhari-hari disuguhi berita gempa, tentu pemirsa jadi bosan, media perlu mencari penyegaran. Hidup itu kan perlu variasi. Untunglah ada berita penyergapan teroris. Berita itu menjadi penyelamat kebosanan. Maka, dikerahkanlah puluhan wartawan ke lokasi peristiwa. Penyergapan itu jadi breaking news, menimpuk berita bencana gempa Sumbar, Jambi, banjir bandang (apalagi) lumpur lapindo dan korupsi. Sebelumnya, waktu muncul berita ledakan Meteor di Rusia, saya kira banyak orang (khususnya awak media) yang berharap peristiwa itu sesuatu yang besar. Tapi ternyata tidak, maka, berita itu ditinggalkan. Saya yakin kalau ledakan itu berasal dari knalpot pesawat alien dari konstelasi Aries, trus mendarat di Indonesia, pasti berita itu akan jadi super breaking news mengalahkan gempa, penyergapan teroris dan kasus korupsi. Apalagi kalau si alien memberi pengumuman dengan microphone canggih, hingga suaranya terdengar ke seluruh penjuru bumi,

“Perhatian penduduk bumi, kami membawa berita duka dan gembira bagi anda. Dukanya, bumi akan kami hancurkan pada tanggal bulan dan tahun sekian, berita gembiranya, kami akan menyelamatkan semua orang yang tidak pernah makan jengkol dan petai!!”

Pastilah Indonesia akan super gempar. Soalnya, rata-rata kita pernah makan jengkol dan petai minimal sekali seumur hidup.

 

 

 

Share Button

Leave a Reply

Your email address will not be published.