Pendidikan Karakter, Membangun Niat Membangun Gerakan

The essential thing is not knowledge, but character

(Joseph Le Conte, Profesor Universitas Barkeley)

Russel T. Williams, penggiat pendidikan karakter di Amerika Serikat mengisahkan, selama 25 tahun menjadi konselor ia menemukan satu hal penting berkaitan pembangunan karakter. Itulah perseverance alias ketekunan. Kata ini berkaitan erat dengan ketangguhan. Ketangguhan menghadapi tekanan, kemampuan mengatasi rintangan dan keberanian memutuskan sesuatu.  Sikap tangguh dibangun oleh enam karakter utama yang menurut kesepakatan Konferensi Aspen (Juli 1993 di Aspen, Colorado) wajib ada sebagai basis pembangunan. Enam karakter utama itu ialah trustworthy (loyalitas, komitmen, disiplin), respect (menghormati orang lain),  responsibility (bertanggungjawab, pengendalian diri), fairness (keadilan), caring (kepedulian) dan civic virtue and citizenship (pemahaman akan kepentingan umum dan peraturan negara). Premis pada konferensi itu adalah : karakter moral yang baik tidak terbangun secara otomatis, karena itu perlu ada usaha yang bersungguh-sungguh untuk membantu membangun nilai-nilai tersebut.

Tak lama setelah konferensi itu muncul gerakan mengimplementasikan pendidikan karakter di sekolah-sekolah AS. Usaha itu disokong pemerintah federal yang kemudian mengucurkan dana jutaan dolar ke negara-negara bagian. Berbagai program pendidikan diluncurkan. Salah satunya No Child Left Behind Act, yang pelaksanaannya didanai hingga 24 juta dollar.

Menurut Edward F. DeRoche dan Mary F. Williams, penulis buku Educating Hearts and Minds: A Comprehensive Character Education Framework, setidaknya ada sembilan kunci keberhasilan program pendidikan karakter, yakni  kepemimpinan, ekspektasi, suasana sekolah, kriteria penerapan, standar, latihan, kemitraan, sumber daya dan taksiran. Dan karena pendidikan karakter yang dimaksud di sini, diajarkan serta ditanamkan di sekolah, maka penting memperhatikan delapan hal berikut yaitu, penerimaan akademis, kurikulum, suasana kelas, program ekstrakurikuler, instruksi, kemitraan, budaya di sebuah sekolah, dan program khusus anti kekerasan di sekolah. Itu artinya, tidak ada program pendidikan karakter yang persis sama di setiap daerah. Sebab, program mestilah disusun dengan memperhatikan budaya setempat, suasana sekolah, sumber daya, dan bentuk kemitraan yang mungkin dilakukan sekolah dengan lembaga terkait.

Penerapan Pendidikan Karakter

Pendidikan karakter bukanlah hal baru di Indonesia. Pendidikan ini pernah ada di sekolah dengan nama PMP (Pendidikan Moral Pancasila) yang kemudian berganti menjadi PPKn (Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan). Di kedua mata pelajaran ini, siswa diajarkan nilai-nilai moral (pancasila) dan segala hal terkait kewarganegaraan. Namun, umumnya mata pelajaran ini diajarkan untuk memenuhi target pengajaran saja. Siswa disuruh mengisi Lembaran Kerja Siswa, lalu dikumpulkan dan diberi nilai. Pendidikan karakter sebatas pengetahuan di atas kertas. Belum cukup usaha untuk menjadikannya bagian dari kehidupan sekolah.

Pendidikan karakter adalah sebuah pendidikan yang komprehensif. Melibatkan seluruh elemen sekolah, dan partisipasi masyarakat (orang tua dan lembaga kemitraan). Dalam menyusun program pendidikan pun, sekolah harus melibatkan masyarakat secara aktif. Dengan demikian, program bisa diharapkan berjalan maksimal.

Setidaknya ada empat hal yang harus diperhatikan sekolah dalam menyusun sebuah program pendidikan karakter:

Pertama, penanaman visi bersama pada semua yang terlibat program. Memiliki visi bersama ini penting, sebab, sasaran pendidikan adalah untuk mencapai visi tersebut. Sekolah yang tak mampu membuat visi apapun, tak akan mungkin berhasil menjalankan program pendidikan karakter.

Kedua, sekolah tidak mungkin 100% menangani program karena keterbatasan sumber daya. Untuk itu sekolah perlu bekerja sama dengan lembaga-lembaga terkait. Di Amerika Serikat 31 sekolah bekerja sama dengan lembaga Jefferson Center for Character Education untuk menjalankan program STAR (Stop, Think, Act, Review). Sebuah program untuk menekan angka kekerasan pada remaja. Dalam program ini siswa diajarkan untukstop (berhenti) bertindak saat terlibat masalah, setelah tenang mereka harus think (berpikir) mengenai langkah apa yang harus dilakukan selanjutnya. Langkah ini mestilah bijak. Setelahnya, siswa dianjurkan act (bertindak) sesuai pikirannya. Terakhir siswa harus review (memikirkan kembali) tindakannya. Program ini terbukti efektif menurunkan tingkat kekerasan yang berkaitan dengan perkelahian, minuman beralkohol dan penggunaan senjata hingga 25% (Euis Sunarti, 2005). Untuk mendapatkan mitra yang tepat, sekolah bisa mengundang beberapa lembaga untuk mempresentasikan idenya, untuk nanti dipilih satu atau dua yang terbaik.

Ketiga, ciptakan suasana sekolah yang mendukung pendidikan karakter. Guru dan para pegawai administrasi sekolah mestilah santun. Pendidikan karakter takkan sukses bila guru masih berkata kasar atau bahkan memukuli murid karena sebuah kesalahan. Sudah bukan zamannya lagi guru memosisikan diri sebagai penguasa murid-muridnya. Guru harus berlaku sebagai mitra atau fasilitator.

Keempat, aktifkan peran konselor di sekolah. Konselor jangan difungsikan sebatas pemberi nasehat pada siswa yang melanggar disiplin. Konselor juga semestinya diajak bekerja sama dengan semua guru untuk membuat semacam program harian. Program ini bertujuan untuk mengajak siswa mengenali sisi-sisi positif dirinya sendiri, juga membantu siswa untuk menerima kekurangan dan kelebihan orang lain. Siswa yang memiliki pandangan positif terhadap diri dan lingkungannya, berkemungkinan besar akan berhasil di semua mata pelajarannya.

Pendidikan karakter, meski tampak rumit namun penerapannya cukup sederhana. Yang terpenting adalah kemauan menerapkannya. Bila kita bersungguh-sungguh dari sekarang, maka buah yang manis tentulah akan didapat di masa depan.

Share Button

Leave a Reply

Your email address will not be published.