Klein Scheveningen

………………..

Tak ada yang membuatnya jatuh cinta selain tempat ini. Tempat indah yang menyejukkan jiwanya. Memberi penuh perasaannya. Melarutkan sukma dan jiwanya. Membawanya terbang tinggi ke alam khayali. Di mana ia dengan dua sayapnya, beterbangan di atas gedung-gedung tinggi Nederland. Hinggap di salah satu pelatarannya. Dan membiarkan orang terkagum-kagum ketika melihat ia memasuki salah satu pintu gedung-gedung itu. Sungguh, tak ada yang membuatnya jatuh cinta melebihi ini. Melebihi halusnya angin yang bertiup semilir. Menerbangkan anak-anak rambutnya. Menari, meliuk mengikuti helai-helai angin. Membawa hanyut perasaannya pada dunia kedamaian, kesentosaan. Tempat di mana ia bersama pikiran-pikirannya saling bicara, tentang harapan dan masa depan.

Sungguh, tak ada yang membuatnya mampu jatuh cinta pada tempat ini, selain debur ombaknya yang lamat-lamat memecah pantai. Butir-butir pasir halusnya yang wangi laut. Buih-buih ombaknya yang memutih. Harum pantainya yang menyentuh jauh hingga ke urat-urat nadinya.

Tak ada yang membuatnya sungguh-sungguh jatuh cinta selain ini: selain ini semua. Langit yang biru bersih. Awan putih yang berarak jernih. Matahari yang hangat penghilang sedih. Dan gerakan dedaunan yang merayu-rayu kantuk di matanya.

Sungguh tak ada yang membuatnya jatuh cinta selain itu. Selain itu semua. Atau justru itukah yang sepenuhnya telah membuat ia jatuh cinta? Cinta yang teramat dalam. Cinta yang teramat khusyuk. Menyentuh jauh ke pertahanan batinnya. Seolah-olah di tempat inilah ia bisa melihat langit dan bumi bersatu sedemikian padu. Seolah-olah dari tempat inilah ia bisa melihat seluruh dunia terhampar. Membentang di pelupuk matanya.

Seolah-olah dari sinilah ia bisa menjangkau seluruh mimpi-mimpinya. Seluruh harapannya.

“Klein Scheveningen.”

Kebisuan yang sedari tadi membekukan setiap percakapan mendadak pecah. Dan angin yang hening tiba-tiba bertiup nyaring. Entah kenapa, tiba-tiba saja seolah-olah telinganya mendengar tembang penuh ratapan. Penuh kesedihan. Tembang yang tak pernah ingin didengarnya. Sampai kapan pun.

“Ya,” ia memaksa diri untuk menjawab meski tahu sebenarnya itu tak perlu. Dagunya terangkat sedikit dan—entah kenapa, tiba-tiba saja sesak menghimpit dadanya. Klein Scheveningen yang indah mengabur dalam bayang-bayang air mata. Kenapa air matanya mengalir? Ia tak tahu. Ia mungkin tak akan pernah tahu. Tiba-tiba saja ia seolah memperoleh satu pengetahuan tentang apa yang hendak dibicarakan. Tempat ini, Klein Scheveningen, telah mengirimkan suara-suara gaib itu ke telinganya. Menusuk jauh ke dalam hatinya. Dan tangisnya, kini sudah berada di gerbang.

“Indah.”

Mendadak suara itu terdengar agak parau. Sejak kapankah suara itu berubah? Ia mulai memikirkan sesuatu setelah sedari tadi menghanyutkan hati dan dirinya ke dalam emosi-emosi tak berketentuan. Sudah saatnya akal mengalahkan perasaan. Ini adalah kehidupan, ia berpijak di atasnya.

“Ya.”

“Sudah berapa sering kau kemari?”

Sudah berapa sering? Ia mempertanyakan juga hal itu pada dirinya. Sudah terlalu sering ia kemari. Sudah tak bisa dihitung dengan jari. Dulu, ia sering kemari saat hari sedang panas-panasnya, lalu berenang-renang dengan asyik bersama saudara-saudaranya. Mereka melaju bersama ombak, terkadang menantangnya. Airnya hangat dan sinar matahari menjadikannya lebih hangat. Sesekali air yang asin sempat terminum. Memang asin. Tetapi itulah kenikmatannya. Kalau tak ada asin, bagaimana ia bisa tahu air di darat itu tawar? Dan meskipun seluruh tubuhnya sudah gatal-gatal akibat air laut itu, ia tetap membiarkan dirinya dibasuh oleh ombaknya yang lembut. Toh, nanti ia juga akan mandi lagi di Kabupaten. Soal kesehatan terkadang tak penting dipikirkan untuk beberapa kesempatan. Ia menikmatinya, begitu juga saudara-saudaranya. Kebersamaan mereka lebih berharga dari apa pun. Sebab di sanalah mereka bisa saling mengikatkan hati dan janji. Ia tahu, mereka bertiga, dirinya dan dua adiknya akan selalu bersama-sama.

“Sudah terlalu seringkah?” suara parau itu kembali bertanya, “Kartini?”

Kali ini ia menoleh. Untuk pertama kalinya ia merasa takjub begitu mendengar namanya disebut. Kartini. Kartini. Ya, dia adalah Kartini. Puteri dari ayahnya. Bupati Japara, Sasraningrat. Lalu apa yang membuat ia takjub? Tidak, ah, entah, entah apa yang membuatnya takjub. Tiba-tiba saja lafaz Kartini itu begitu menggentarkan hatinya. Seolah-olah, itulah satu-satunya hal yang dimilikinya saat ini. Namanya. Namanya saja.

Ia mengangguk. Agak berat bersuara. Airmatanya sudah surut ke dalam. Ke hatinya. Mungkin lebih baik begitu.

“Kau pasti sangat mencintai tempat ini, tempat yang penuh dengan kenangan-kenangan indah. Kenangan manis. Kenangan saat kau, Kardinah dan Roekmini tumbuh bersama-sama sebagai gadis bangsawan Jawa.”

Hanya getir yang menjadi nada senyumnya. Tiba-tiba saja ia merasa begitu menderita. Ia tak tahu apa sebabnya.

“Kalian, daun semanggi, yang telah membuat takjub hati Ratu Juliana, adalah puteri-puteri terbaik Jawa yang pernah dilahirkan. Tak ada yang seperti kalian, terutama…kau.”

Sosok di sebelahnya berujar lagi. Kali ini dengan suara lebih pelan. Lebih berirama. Lebih bertekanan. Memaksanya untuk mendengarkan di sela-sela kedamaian pantai Klein Scheveningen.

“Kalian puteri-puteri yang cerdas, dianugerahi bakat luar biasa. Penguasaan bahasa Belanda yang indah, Pemikiran yang jauh dan dalam, tata krama yang menakjubkan. Saya dulu tak pernah bermimpi akan bertemu gadis-gadis seperti kalian, tapi nyatanya Tuhan telah mempertemukan.”

Angin bertiup semilir. Ia melihat seekor burung terbang tinggi. Sayapnya berkelepak dan ia seolah bisa mendengar suara sayap-sayap itu.

“Gadis sepintar kalian, terutama kau, Kartini….. “ pemilik suara parau itu kini memandangnya. Cambang dan janggut pirangnya digerakkan angin pelan-pelan. Sorot mata coklatnya terlihat begitu serius dan mimik wajah itu menjadi begitu aneh. Kartini tak pernah melihat wajah seasing itu sebelumnya. Sekejap pertanyaan terlintas di hatinya. Benarkah ini Tuan Abendanon?

Lelaki jangkung itu melanjutkan ucapannya,

“…Bila saja kau ada di Nederland, maka bisa dipastikan pintu-pintu setiap universitas terbuka lebar-lebar untukmu. Tidak hanya itu, mereka mungkin akan saling berebut mengundangmu untuk menjadi mahasiswa kehormatan di universitasnya.”

Kali ini ia tersenyum. Ia hampir tak pernah menemukan pujian setinggi itu sebelumnya. Benarkah pendidikan di Eropa bisa membuat orang belajar untuk memuji setinggi itu? Ia sedikit berpikir.

“Setiap orang akan membicarakanmu dan setiap koran akan saling berebut untuk meminta tulisanmu. Mereka akan terkagum-kagum melihat dan mendengar seorang gadis seperti kamu berbicara tentang hak, tentang keadilan, tentang kemajuan, tentang pendidikan. Di Eropa, terutama di Nederland, gadis-gadis seperti itu memang cukup banyak, kau tahu, misalnya Stella …”

Tanpa sadar ia mengangguk.

“Tapi, tetap saja perlu ada satu orang di antara yang banyak itu, Kartini. Satu orang dengan keawasan pemikiran dan pengetahuan, yang akan berbicara mengenai sesuatu yang penting. Dan kau, adalah satu di antara yang banyak itu.”

Ia kembali tersenyum.

“Di Nederland, kau bisa mendapatkan semua. Kau bisa belajar tentang banyak hal. Keguruan, filsafat, pendidikan. Kau bisa bergabung ke dalam organisasi-organisasi kepemudaan, dan dalam waktu singkat kau pasti akan menjadi seorang yang sangat diandalkan oleh organisasi yang kau masuki,” Tuan Abendanon tersenyum.

“Di Nederland, kau bisa mengumpulkan semua pikiran-pikiran dan gagasan-gagasanmu yang luar biasa ke dalam sebuah buku. Kau bisa menuliskan berbagai kisah yang luar biasa, seperti…kisah anak kecil yang kau ceritakan dulu itu…”

Dipandangnya Tuan Abendanon, keningnya sedikit berkerut..

“Anak lelaki kecil yang kau ceritakan dulu, si penyabit rumput yang belum makan sejak pagi sedang dia harus bekerja untuk mencari makanan buat saudara-saudaranya…”

“Oh, ya…” terbayang kembali di matanya sosok kurus anak kecil yang ia dan ayahnya temui dulu. Teringat lagi semua kata-katanya….

…belum makan…dari pagi…adik-adik juga. Ayah…’

Ia memejamkan mata. Hampir-hampir tak sanggup membayangkan serupa apa kehidupan itu sebenarnya. Sesungguhnya tidak ada piring nasi yang penuh di luar tembok kabupaten, dan kebanyakan orang kaya hanya memikirkan tanda pangkat dari pemerintah Hindia Belanda.

“Atau…kau bisa menuliskan…mmm, siapa? Wanita India yang kau tangisi dulu…?”

“Pundita Ramabai..”

“Ya, Pundita Ramabai. Apa pun yang kau tulis, di Nederland akan bagai permata bagi orang-orang.”

“Karena itulah kami perlu pergi ke Nederland,” ujarnya agak panjang untuk pertama kalinya, “Di sana kami bisa belajar apa saja untuk kami bawa pulang kemari.”

“Betul,” Tuan Abendanon mengangguk-angguk, mungkin lelaki Belanda ini melihat nyala api di matanya. Nyala semangat. Ia ingin membuat sesuatu, ia ingin mengubah sesuatu.

“Untuk itulah…” Tuan Abendanon melanjutkan, “kau dan Kardinah perlu pergi ke Nederland. Semua orang merestuimu. Ayah, ibu, saudara, para sahabat. Kartono pun sudah dengan senang hati dan gembira yang amat sangat menunggumu di sana. Semua sahabat di sana, saat ini tengah bersiap-siap menyambut kedatanganmu. Beasiswa ke Nederland itu sudah di tanganmu. Kau hanya tinggal berangkat. Hanya tinggal menunggu waktu berangkat.”

Kartini mengangguk. Kini hatinya meluap-luap oleh perasaan gembira yang teramat sangat. Tak berapa lama lagi ia akan berkumpul dengan kakak yang paling ia cintai. Kartono. Kakak yang tak pernah berhenti memperhatikan dirinya. Mengerti semua keinginannya. Mengajarinya berbagai pengetahuan yang tak pernah ia ketahui selama ini. Kakak yang tak pernah menjemukan hari-harinya.

Lalu ada Stella di sana. Tak bisa ia membayangkan serupa apa hari-harinya bersama Stella. Hari-hari yang penuh diskusi ilmu, saling berbagi pikiran, pengetahuan.

“Luar biasa, bukan?” tanya Tuan Abendanon.

Ia mengangguk.

“Benar, Kartini. Kehidupan seperti itu luar biasa, sangat luar biasa sekali. Begitu luar biasanya, sehingga seolah-olah itu hanya mimpi.”

Kali ini ia memandang Tuan Abendanon.

“Memang sangat luar biasa,” suara Tuan Abendanon merendah, “Dan karena itu luar biasa maka, kau dan Kardinah harus menimbang segalanya dengan baik dan benar. Menimbang dengan pikiran yang matang, bebas dari emosi-emosi dan harapan-harapan.”

Sesuatu mulai menetak jantungnya. Ditatapnya mata coklat Tuan Abendanon, ingin menelusuri apa saja yang ada di benaknya.

“Apa?” tanyanya kemudian.

“Kalian, kau dan Kardinah, adalah puteri-puteri Jawa yang begitu dikagumi dan dicintai oleh semua orang. Dielu-elukan rakyat dan jadi buah bibir. Setiap tindak tanduk kalian nyaris tak bercela. Puteri Jawa berarti kelembutan, kehalusan, tatakrama. Puteri Jawa berarti keayuan, kelembutan, kebaikan. Kau pasti mengerti tentang ini.”

Ia mendengarkan. Ombak yang mencium pantai pelan-pelan mulai memberitakan sesuatu yang memedihkan.

“Sedang Eropa begitu berbeda. Sangat berbeda. Budayanya, caranya memperlakukan orang, caranya berbicara, bersikap, bertindak, memahami. Berapa lama kau akan belajar di Nederland? Masa itu bukanlah waktu yang sebentar. Ia akan memakan waktu tahunan. Dan tahun-tahun yang kau dan Kardinah lalui itu, secara perlahan, akan mulai mengikis keputrijawaan kalian sedikit demi sedikit. Mungkin tidak semuanya, tapi cukuplah itu membuat kalian menjadi asing di mata rakyat yang kalian cintai. Rakyat Hindia Belanda begitu peka terhadap perubahan sekecil apa pun. Lalu bagaimana nanti tanggapan mereka begitu melihat kau dan Kardinah, puteri bupati Japara telah mulai sedikit menjadi nona Eropa?”

Tiba-tiba saja jiwanya bergetar begitu mendengar itu semua.

“Apa tujuanmu untuk belajar ke Nederland?” tanya Tuan Abendanon. Direktur Departemen Pendidikan, Agama dan Kerajinan Hindia Belanda itu menatap Kartini lekat-lekat. Sengaja ia memberi jeda pada pertanyaannya. Mencoba membiarkan Kartini untuk mencari jawab atas pertanyaan itu dalam dirinya sendiri. Sebentar kemudian Tuan Abendanon melanjutkan, “Kau ingin memperoleh pendidikan yang bagus sehingga nanti bisa membuka sekolah untuk rakyat Hindia Belanda ‘kan?”

Pelan-pelan ia menggangguk.

“Menurutmu, mungkinkah rakyat Hindia Belanda yang rata-rata masih berpikiran tradisional mau melepaskan putera-puteri mereka untuk diajar seorang puteri Jawa yang sudah menjadi separuh Eropa?”

Tak ada jawaban dari mulutnya. Hanya jantungnya yang mulai berdetak tidak karuan. Jiwanya yang melembut oleh deburan ombak Klein Scheveningan mendadak dilukai oleh sesuatu yang tak ia mengerti.

“Kau lebih mengerti budaya rakyatmu sendiri, Kartini. Saya hanya membukakan satu kenyataan yang selama ini mungkin kau dan Kardinah nafikan. Rakyat Hindia Belanda masih terlalu tradisional untuk menerima pikiran-pikiran Eropa. Hanya sebagian kecil dari mereka yang mengerti, tapi tidak yang lainnya. Bagaimanakah sekolah yang akan kau dan Kardinah dirikan itu nantinya? Apakah mungkin tujuanmu nanti tercapai?”

Ia terdiam.

“Jika tujuanmu dan Kardinah adalah hendak memberikan pendidikan yang bagus kepada rakyat Hindia Belanda. Maka saya, punya sesuatu yang tak pernah kalian pikirkan sebelumnya….”

Angin berkesiur, agak kencang. Matahari yang hangat mulai ditutupi awan pelan-pelan. Ombak berdebur kasar meninggalkan suara aneh berkepanjangan di telinganya.

Inikah Klein Scheveningen? Tanyanya di dalam hati.

Lalu tahun-tahun yang ia lewati mendadak muncul dari dalam laut. Serupa layar yang membentang di depannya. Kenang-kenangan datang silih berganti. Hilang timbul. Suara-suara percakapan terdengar lirih lalu mulai jelas. Gambar-gambar di layar itu membentang kian panjang. Dan di sini, di Klein Scheveningen ini, seolah-olah seluruh episode kehidupannya terulang kembali. Dari awalnya.

Di layar itu, jelas ia melihat seorang gadis kecil pergi menenteng buku, wajahnya berseri bahagia. Ia pergi ke sekolah, belajar dengan tekun, seolah tak ada lagi hal yang paling menarik di dunia ini selain belajar. Sepulang sekolah gadis kecil itu menemukan leestrommel. Dari dalam leestrommel itu ia akan menemukan beragam bacaan. Ada buku-buku dan majalah berbahasa Belanda di sana. Ide-ide dalam leestrommel itu luar biasa, tapi mungkin berbahaya, sebab terlalu radikal dan revolusioner.

Tapi ia suka ide-ide itu. Meluap-luap rasa hatinya membayangkan bahwa seluruh anak perempuan bisa pergi ke sekolah setiap hari. Lalu, setamat HBS bisa melanjutkan pendidikan ke STOVIA di Batavia atau ke Nederland. Tak ada lagi perempuan yang bodoh dan mau menerima saja dengan pasrah semua perlakuan buruk terhadap dirinya. Mereka bisa melawan.

Tapi, tiba-tiba saja wajah gadis kecil di layar itu berubah sedih. Di depan gadis itu pintu kabupaten perlahan menutup dan seseorang membawanya ke dalam pingitan. Padahal saat itu usianya belum lagi 12 tahun. Air mata jatuh serupa hujan di pipinya.

“Kartini…” ia mendengar lagi suara Tuan Abendanon, “apa kamu mendengarkan?”

Kartini menoleh.

“Tapi saya telah berhasil mendapatkan beasiswa ke Nederland,” pelan ia berujar, “Tuan Van Kol telah mengusahakannya dengan susah payah.”

Dipandangnya laut lepas. Bayang-bayang masa silam yang muncul dari kedalaman pantai Klein Scheveningen yang indah perlahan bergulung dan tenggelam kembali ke dasar laut. Sekarang yang ada hanya daun-daun kelapa yang melambai-lambai. Pasir putih yang landai.

Angin berkesiur menerbangkan anak-anak rambutnya. Udara harum laut. Disesapnya sejenak. Klein Scheveningen tak pernah berhenti membuatnya jatuh cinta.

Ia teringat sesuatu. Di sinilah dahulu ia, Roekmini, Kardinah dan Tuan serta Nyonya Ovink menikmati laut malam. Mereka melayari Klein Sceveningen yang damai tenang. Laut waktu itu disaput warna malam. Bayangan bulan jatuh sepintas-pintas.

“Kartini.”

Sosok di sebelahnya berujar lagi. “Nederland memang memesona, tapi berapa lamakah kau akan tinggal di sana? Tiga tahun, bahkan bisa lebih. Bagaimana kau bisa meninggalkan ayahmu yang sudah sakit-sakitan selama itu?”

Berbicara tentang ayahnya mendadak membuatnya begitu haru. Betapa ayahnya telah begitu lama mengasuh, memelihara, menyayangi dan mencintai Kartini sepanjang usia.

”Saya tahu Menteri Idenburg sudah mengizinkanmu belajar di Nederland, tapi bukankah saya sudah mengusahakan subsidi di Batavia? Kau bisa membangun sekolahmu sendiri, Kartini. Kau raih cita-citamu tanpa harus berpisah dari ayah dan keluargamu.”

Hening sebentar. Dedaunan saling bergesekan. Kartini memejamkan mata. Inikah firasat yang dihembuskan daun-daun itu kepadanya? Ditatapnya awan yang berarak sedih. Tiba-tiba ia mendengar lagi suara itu. Suara ginonjing yang selalu melarutkan jiwa dan perasaannya. Nederland ada di ujung Klein Sceveningen ini. Mungkin. Seandainya ia punya kapal untuk bisa berlayar.

Ia menatap ombak. Satu-satu saling mengejar menyebar buih di pantai bersih. Dulu sewaktu kecil Kartini suka mencari-cari hewan laut yang mungkin dihempaskan ombak ke pantai.

Mendadak hatinya terasa pilu.

Setelah melayang-layang begitu tinggi di alam khayali, Klein Sceveningen tiba-tiba menghadirkan satu hal ke hadapannya. Apakah ombaknya yang memecah itu akan meretakkan seluruh mimpi yang sudah lama dibangunnya? Mimpi yang sudah hadir semenjak ia membaca Pundita Ramabai dan menangis untuk diri wanita India itu. Menangisi diri Pundita, perjuangannya, mimpinya.

Tetapi bukankah Pundita mencapai sesuatu?

Apa yang sudah ia capai?

Kembali ia melihat awan yang berlagu dalam senyap. Janji apakah yang pernah ia patrikan terhadap Klein Sceveningen hingga ia mau memberikan hatinya kepada laut?

Dipandangnya Tuan Abendanon.

“Apakah yang harus saya lakukan?” tanyanya kemudian.

“Kau tahu apa yang harus kau lakukan, Kartini.”

Kartini menggigit bibirnya, lalu memejamkan matanya. “Baiklah,” ia berujar. Suaranya parau seperti keluar dari sebuah jiwa yang penuh luka dan kesakitan yang sedemikian dalam. Tubuhnya menggigil dan seisi alam seolah berputar-putar tak tentu.

“Saya akan ikut.”

Tuan Abendanon membesarkan matanya.

“Kau sungguh-sungguh? Beasiswa Nederland itu akan kau batalkan?”

Ia menggigit bibirnya kuat-kuat hingga terasa pedih.

“Ya.”

Lalu tahun-tahun kelam yang sempat pudar oleh gembira dan sukacita itu muncul lagi. Dari kedalaman laut. Berputar-putar mengelilinginya. Meneriakkan setiap rasa sakit dan perih. Melemparkan rantai-rantai kotor berdebu ke arahnya. Mengikatnya, mencekiknya. Menyeretnya ke sebuah pusaran air tanpa dasar. Ia tenggelam. Tenggelam. Ke sebuah sumur tanpa dasar.

Sebaris kalimat suratnya untuk sahabatnya Stella di Nederland menghujam ingatan.

Kau tahu, Stella? Aku mau ke Nederland. Aku ingin ke sana. Aku ingin belajar yang baik, yang bersungguh-sungguh. Lalu setelah selesai aku akan bangkitkan gadis-gadis Jawa dengan pengetahuan itu

 

Ia bangkit. Berjalan menuju ombak Klein Sceveningen yang memabukkan jiwanya. Menyentuh airnya yang hangat dan wangi. Lalu membiarkan tetes-tetes air matanya jatuh, bersatu bersama ombak.

 

**

Cerpen ini dibuat berdasarkan hasil pembacaan dari Kartini Sebuah Biografi karya Siti Soemandari Soeroto

Catatan Penulis

 

Cerpen ini terpilih sebagai 21 cerpen finalis Sayembara Menulis Cerpen yang diadakan Rohto-Mentholatum 2012

Cerpen ini dibukukan dalam kumpulan cerpen Akar Anak Tebu, kumcer penulis Sumatra Barat, terbitan Pusakata Publishing

 

Share Button

Leave a Reply

Your email address will not be published.