Cinta Dropadi dan Mahabharata yang Berbeda

the-palace-of-illusions-istana-khayalan

Dari semua buku yang kubaca, hanya sedikit yang mengesankanku, dan lebih sedikit lagi yang memikatku begitu kuat. Satu dari yang sedikit itu adalah The Palace of Illusion, novel karya Chitra Banerjee Divakaruni, penulis India-Amerika peraih banyak penghargaan.

Sungguh mengecewakan aku baru mengetahui novel itu sekarang—terlambat empat tahun! Dan dengan demikian aku tahu, sudah terlambat membuat resensinya untuk dikirim ke koran, agar orang-orang tahu betapa bagusnya buku ini. Tapi, sebenarnya tak ada kata terlambat untuk memberitahukan pada siapa saja, tentang sebuah permata berharga yang menurutku sangat layak untuk dimiliki.

Mungkin ini berlebihan, tapi inilah pandanganku. Keterpikatanku membuatku menjadi subjektif, tetapi kurasa itu hal yang bisa diterima. Begitu menamatkan novel itu, aku menyesal mengapa novel itu tidak menjadi best seller, sebaliknya, Gramedia menjualnya dengan harga begitu miring, sesuatu yang menurutku tidak layak diterima novel berharga ini. Aku rela membeli buku ini sesuai harga aslinya, karena menurutku memang itulah yang seharusnya didapatkannya. Tapi, pasar selalu memiliki hukumnya sendiri, dan buku ini, khususnya Gramedia, bertarung dengan itu. Pada akhirnya, dengan berduka aku menyadari pilihan pragmatis yang dibuat Gramedia, dengan menjualnya begitu murah.

The Palace of Illusion mengisahkan Mahabharata, epos terbesar yang pernah dibuat manusia, selain Ramayana, illiad dan Oddysey serta tentunya, La Galigo. Berbeda dari beberapa buku Mahabharata yang kubaca—aku memiliki tiga buku Mahabharata yang ditulis pengarang yang berbeda, buku ini ditulis dengan cara yang sama sekali baru.

Ini menandakan betapa Divakaruni adalah seorang penulis bagus. Penulis berbakat tidak akan pernah mau menulis kisah dengan cara yang sama dengan orang lain, ia selalu memilih caranya sendiri. Ia menunjukkan siapa dirinya dan bagaimana potensinya diciptakan, dengan rangkaian kata dan kisah-kisah yang tak terpikirkan sebelumnya oleh penulis lain. Divakaruni menulis Mahabharata dari sudut pandang Dropadi (atau Drupadi). Perempuan berkulit gelap yang sangat mempesona, yang keanggunan, kecerdasan, dan keteguhan hatinya sama dengan Cleopatra. Sebagai ratu agung, Dropadi memainkan peran penting dalam sejarah Hastinapura.

Terlahir dari api, tumbuh dengan semangat menyala akan ilmu pengetahuan, Dropadi menjadi magnet bagi siapapun yang melihatnya. Itu sebabnya ayahnya, Drupada menahannya dalam istana bertembok tinggi agar tak seorang pun yang menemukannya sampai waktu yang pantas. Begitu ia mekar sebagai bunga terindah, ia disayembarakan pada para ksatria paling gagah dan berkuasa. Pemenangnya berhak berdampingan dengan Dropadi, sebagai suami.

Seperti yang kemudian diketahui para peminat Mahabharata, Arjuna akhirnya memenangkan pertarungan itu. Tapi, hanya pertarungan, karena ternyata hati Dropadi sudah dimenangkan ksatria lain, Karna. Ksatria dengan kehebatan yang sama dengan Arjuna, yang sayangnya tidak ikut sayembara karena Dropadi—dengan keangkuhan yang tak dipahaminya sendiri, baru bertahun kemudian disadari, menghina Karna karena pemuda itu hanya anak kusir kereta. Ini adalah tragedi, bukan cuma dalam hidup Karna, tapi juga Dropadi. Kemarahan Karna—yang ternyata juga jatuh cinta pada Dropadi, mengutuk gadis itu untuk mencintainya sampai mati. Sementara cinta Dropadi, mengikat hati Karna hingga ia sekarat di padang perang Kurusetra.

Karna sesungguhnya kakak kandung para Pandawa. Ia dihanyutkan ke sungai oleh ibunya sendiri, Kunti, yang malu karena melahirkan anak pada usia 16 tahun, meskipun anak itu anugerah Dewa Matahari. Tindakan ini, pada akhirnya memicu tragedi luar biasa yang menimpa bukan cuma para Pandawa (Yudhistira, Bima, Arjuna, Nakula, Sadewa), atau Kurawa, tapi juga dinasti dan rakyat Kuru secara keseluruhan.

Dalam novel ini, Divakaruni ‘memaksa’ Dropadi menuturkan sendiri kisah hdupnya. Adalah menakjubkan, epos yang aslinya sepanjang 200 ribu bait itu mampu dikisahkan demikian nyata, seolah kisah ini hadir dalam peradaban kita pada dua atau tiga abad lampau. Divakaruni menjalin epik, mitos, sejarah, agama dalam suatu cara yang sangat ‘kontemporer’ (aku tak menemukan padanan lain yang lebih pas). Seakan kisah kehancuran Pandawa dan Kurawa merupakan suatu kejadian sejarah yang tercatat rapi dalam berbagai prasasti manusia, yang kita masih bisa melihatnya saat ini. Penggunaan sudut pandang orang pertama pada kisah Dropadi ini, membuat pembaca, khususnya aku, terhanyut dalam liku kepedihan Dropadi yang ia jalani dengan begitu tegar. Termasuk penderitaan batin yang harus dijalaninya karena terpaksa menikahi lima pandawa sekaligus, dan harus ikut pula bersama mereka dalam dua belas tahun pengasingan di hutan, dan setahun pengasingan sebagai pembantu istana.

Ini adalah kisah Mahabharata yang berbeda. Selama ribuan tahun kisah ini dituturkan oleh jutaan manusia, dan Divakaruni bukan sekadar mampu mengisahkannya kembali dengan cara yang baru, tapi juga mampu membawa tokoh-tokohnya ke luar dari buku legenda, menariknya lebih dekat ke benak kita.

Jika ada yang bertanya padaku apa itu bakat, maka kusarankan ia membaca buku ini. Divakaruni menunjukkannya secara jelas kepada kita.

 

Padang, 1 Juni 2013

Maya Lestari Gf

Share Button

One Reply to “Cinta Dropadi dan Mahabharata yang Berbeda”

Leave a Reply

Your email address will not be published.