Hal-hal Penting Seputar Menulis Novel

Novel bukan sekadar cerita panjang apalagi cerita yang dipanjang-panjangkan.

Sebuah ide bisa menjadi menjadi  novel bila ide tersebut tidak bisa diselesaikan dalam sebuah cerita pendek. Kerap ditemukan, novel-novel yang edar di pasaran hanya sekadar cerita pendek yang dipanjang-panjangkan. Peristiwa-peristiwa yang dituliskan, hanya sekadar penyambung napas novel agar tetap panjang. Peristiwa-peristiwa itu kurang bermakna dan kadang tidak relevan dengan cerita. Untuk itu, sebelum mulai menulis novel, setidaknya seseorang harus memperhatikan beberapa hal berikut:

1. Apa yang ingin diceritakan.

Ingin mengisahkan perjuangan tokoh X meraih mimpi menjadi penyanyi rekaman? Fotografer terkenal? pilot? penulis? Atau ingin mengisahkan kehidupan pesantren? Apapun itu, pastikan, bahwa kamu sudah menyusun peristiwa-peristiwa penting yang akan ‘bercerita’ mengenai idemu. Sebuah peristiwa disebut penting, bila:

a. Relevan dengan ide

b. Merupakan pijakan untuk melangkah ke peristiwa berikut

Dengan demikian, segala peristiwa yang tidak ada hubungannya dengan dua hal di atas, dianggap spam alias tidak penting. Misal, kamu ingin menulis tentang perjuangan tokoh X menjadi koki terkenal. Lalu, kamu membuat peristiwa X terjatuh dari motor, kemudian mencari tukang urut ke sana ke mari (alhamdulillah ketemu), setelah itu si X sembuh, dan kembali masuk sekolah memasak. Peristiwa jatuh-mencari tukang urut-sembuh ini memakan (kira-kira) tiga halaman kertas HVS. Nah, pertanyaannya, relevan nggak peristiwa mencari tukang urut ini dengan ide meraih mimpi jadi koki? Mungkin ada yang jawab, ‘relevan dong. kalau kakinya terkilir terus, dia kan nggak bisa meraih cita-citanya.’ Di dunia nyata, memang ide ini relevan, tapi di dunia fiksi, di mana semua peristiwa harus bermakna dan harus mengikat satu sama lain, kejadian ini jadi kurang relevan.

Jadi, pastikan semua peristiwa bermakna dan relevan dengan ide cerita. Bila tidak, maka novel hanya sekadar cerita pendek yang dipanjang-panjangkan saja.

2. Siapa saja tokoh-tokohnya.

Jangan sampai, karena novel memiliki sangat banyak ruang, maka kamu memasukkan begitu banyak orang dengan peran tak penting ke dalamnya. Sebuah novel tak perlu banyak orang, cukup hadirkan yang relevan dengan cerita. Tokoh yang terlalu banyak akan menimbulkan kebingungan pembaca untuk mengingat, terutama bila semuanya diberi porsi yang nyaris sama untuk bercerita. Untuk menghadirkan tokoh, tak bisa sembarangan, perlu ada syarat tertentu:

a. Tanpa tokoh itu, cerita tak ada . Kita bisa sebut dia tokoh utama

b. Tanpa tokoh itu, tokoh utama kurang berfungsi dalam cerita. Kita sebut dia tokoh pendukung

Nah, tokoh pendukung ini punya kriteria pula, yakni kehadirannya relevan dengan cerita. Jadi, bila di novelmu bertebaran tokoh-tokoh pendukung yang kehadirannya cenderung kurang relevan, sebaiknya buang saja.

Saya kasi contoh ya. Dalam Harry Potter (saya pilih novel ini dengan anggapan, banyak yang mengenalnya), tokoh-tokoh pendukung dihadirkan untuk suatu maksud. Jadi bukan sekadar penggembira tak jelas. Prof. Trelwney, misalnya, dia hadir untuk meramal masa depan Harry Potter. Prof. Lupin datang untuk mengajarkan Harry Potter mantra untuk menghadirkan patronusnya (yang digunakan Harry untuk melawan dementor). Tak satu pun tokoh pendukung hadir dengan maksud tak jelas. Dengan demikian relevansinya dengan cerita tampak.

Jadi, kalau di novelmu yang mengisahkan perjuangan X menjadi koki terkenal, ada tokoh tukang urut yang memakan porsi sekian halaman (tanpa ada relevansi apapun dengan ceritamu), maka sebaiknya hapus saja. Kalau pun ada kisah calon koki beken kita ini pergi ke tukang urut, cukup ceritakan dalam beberapa kalimat.

Pada dasarnya, antara peristiwa dengan tokoh ada hubungan yang saling mengait. Tanpa tokoh, peristiwa tak ada, tanpa peristiwa, tokoh ngapain, ya? :) Jadi, bila peristwa dan tokoh dihadirkan untuk menjelaskan ide, maka, pastikan itu relevan. Bila segala sesuatu dalam cerita kita ukur relevansinya dengan ide, dengan sendirinya cerita akan fokus, tidak melebar ke mana-mana.

Nah, saya rasa sekian dulu. Kapan-kapan disambung lagi.

Share Button

Leave a Reply

Your email address will not be published.