Kisah-kisah Astrid Lindgren

re_buku_picture_79104Astrid Lindgren adalah penulis cerita anak-anak terkenal asal Swedia. Kisah-kisahnya sangat lucu, imajinatif dan kekanak-kanakan, tanpa beban apapun. Beberapa cerita anaknya yang terkenal adalah:

  1. Serial Pippi si Kaus Kaki Panjang
  2. Emil dari Lonneberga
  3. Karlsson si Manusia Atap
  4. Anak-anak Bullerby

Yang unik dari kisah-kisah Astrid Lindgren adalah kemampuannya menabrakkan imaji dengan realitas. Dalam kisah Pippi si Kaus Kaki Panjang misalnya, ia menggambarkan Pippi sebagai anak perempuan berusia sembilan tahun yang hidup sendirian. Ayahnya adalah seorang pelaut yang suka berlayar kemanapun. Logikanya, nggak mungkin anak umur sembilan tahun hidup sendirian, tapi, ini adalah cerita anak-anak yang sungguh-sungguh anak-anak. Dalam dunia anak-anak segalanya mungkin, dan logika-logika semacam itu tidak dikenal.

Pippi si Kaus Kaki Panjang adalah tokoh yang unik. Dalam dunianya semua serba terbalik dan itu menggugah daya imaji anak-anak (dalam kata lain: menyenangkan). Pippi memakai kaus kaki panjang yang beda warnanya antara kiri dan kanan. Kalau tidur, ia selalu menaruh kakinya di bantal, sementara kepalanya di kasur. Yang diselimuti adalah kepalanya, bukan kaki. Ia menaruh pensil dalam microwave, sepatu dalam rak piring, gelas dalam lemari pakaian dan lain-lain. Aneh? Memang iya, tapi coba kisahkan hal-hal lucu begini pada anak-anak, mereka pasti tertawa mendengarnya. Dan kalau anak-anak sudah tertawa kalau mendengar cerita, maka dipastikan mereka akan menyukainya. Kenyataannya, Pippi si Kaus Kaki Panjang adalah salah satu tokoh fiksi favorit anak-anak di seluruh dunia.

Dalam beberapa cerita dikisahkan si Pippi, meski kecil tapi sangat kuat. Saat ia berjalan, lalu bertemu kerbau, yang ia lakukan bukan menyingkiri (seperti kebanyakan logika dalam cerita anak-anak kita), tapi, ia malah mengangkat si kerbau dan menaruhnya di pinggir jalan. Saat suntuk, Pippi pergi k taman kota dan membangun rumah dari kayu di situ. Logikanya, kalau ada orang yang melakukan hal itu, pasti kena tegur wali kota kan? Tapi ini adalah dunia Pippi, dunia tanpa logika. Dunia yang bebas dari ikatan-ikatan semacam itu.

Dalam kisah Emil dari Lonneberga, logika serupa juga kita temukan. Alkisah, suatu hari Emil (anak lelaki berusia sekitar lima atau tujuh tahun, saya lupa) hendak mengambil makanan dari dalam stoples. Ia memasukkan kepalanya ke dalam stoples itu, dan wadow! Kepalanya nggak bisa ke luar lagi. Jadilah Emil kemana-mana  dengan stoples di kepalanya. Cerita ini sangat lucu, dan memancing tawa.

Dalam Karlsson si Manusia Atap, dikisahkan ada seorang makhluk aneh bertubuh gempal yang tinggal di atap rumah anak lelaki bernama Lillebror. Makhluk ini bisa terbang dengan baling-balingnya dan dipanggil sebagai Karlsson. Sementara dalam kisah Bullerby, kita akan disodorkan cerita mengenai sebuah desa yang hanya diisi enam keluarga yang tinggal bertetanggaan. Dalam cerita itu dikisahkan tingkah laku riang dan imajinatif dari anak-anak di desa sangat mungil itu.

Dari kisah-kisah Astrid Lindgren, ada satu pertanyaan penting yang muncul: Dimanakah letak pesan moral? Pertanyaan ini bisa disambung pertanyaan yang tak kalah penting, “Sejauh apa pesan moral diperlukan dalam sebuah cerita anak-anak?” Sebagian menjawab, pesan moral itu penting, sesuatu yang harus ada dalam setiap cerita anak. Namun, jawaban ini mengundang kritik: Jika pandangan seperti ini diterapkan, maka kita menganggap anak-anak sekadar subjek. Sesuatu yang pasif yang harus diajar dulu untuk mengerti, padahal, anak-anak tidaklah begitu. Anak-anak adalah pembelajar yang aktif, dan mereka harus ditempatkan sebagai objek.  Sebuah cerita anak, mestinya bebas dari beban-beban semacam itu, karena konsep-konsep moral masih abstrak bagi anak-anak. Anak-anak hanya mampu mempelajari sesuatu yang kongkrit. Sesuatu yang kelihatan, bukan sesuatu yang sekadar dibayang-bayangkan. Konsep-konsep moral dala cerita anak-anak dengan kata lain baru berada dalam tataran teori, dalam pandangan anak-anak.

Bagi yang menganut pendapat bahwa cerita anak semestinya tidak dibebani pesan-pesan moral, meyakini bahwa dalam dunia anak yang riang gembira, sebuah cerita mestinya mengajak anak untuk lebih aktif mengeksplorasi dunianya. Membukakan pintu pengetahuan seluas-luasnya. Cerita-cerita yang dibebani pesan-pesan moral dan logika orang dewasa, tidak akan sampai ke tahap itu. Membebani cerita-cerita anak dengan pesan-pesan moral, berarti memandang anak dalam kaca mata orang dewasa. Pandangan seperti ini juga menuai kritik. Bagi yang tidak setuju, menganggap sebuah cerita anak seharusnya juga media untuk mengajarkan sikap hidup bagi anak. Kisah-kisah yang menekankan konsep moral, seperti moral kepahlawanan, kejujuran, dan lainnya penting ditanamkan. Apa yang dibaca, pasti mempengaruhi pembacanya. Jadi, konsep ‘bebas pesan moral’ dalam cerita anak-anak, tertolak.

Sepanjang sejarah kita bisa melihat, bahwa cerita-cerita yang berasal dari dua pandangan ini menyebar secara massif ke seluruh dunia dan bertahan hingga kini. Misalnya dongeng-dongeng Aesop yang terus bertahan selama ribuan tahun (dimulai dari masa Yunani Kuno). Dongeng-dongeng Aesop sangat mementingkan kisah moral. Salah satu yang terkenal adalah Kisah Gembala dan Serigala, yang menekankan pentingnya kejujuran.  Dongeng-dongeng Aesop ditulis ulang ratusan kali oleh penulis-penulis cerita anak terkenal. Di sisi lain, kisah-kisah imajinatif seperti yang ditulis Astrid Lindgren di atas, juga menyebar secara massif dan disukai anak-anak. Agaknya, pilihan apapun yang diambil seorang penulis cerita anak, yang terpenting cerita-ceritanya tidak melanggar ketentuan baku dalam penulisan cerita anak, yakni: No SARA, tak ada kriminalitas dan seksual konten. Di luar itu, dipersilahkan.

Kisah-kisah Astrid Lindgren ini sangat menarik untuk disimak. Bagi teman-teman yang ingin menekuni penulisan cerita anak, saya anjurkan untuk banyak membaca karya-karya Lindgren, untuk mendapatkan rasa bahasa yang pas untuk anak-anak. Bagaimanapun, jika ingin menekuni dunia cerita anak, pertama-tama yang harus dipelajari tentu cara penulisannya, rasa dan logika bahasanya. Yang lain, bisa dipelajari kemudian.

 

Share Button

Leave a Reply

Your email address will not be published.