Beberapa Hal Tentang Menulis Novel (bagian pertama)

oleh: Maya Lestari Gf.

Novel bukan sekadar cerita panjang apalagi cerita yang dipanjang-panjangkan. Bentuk novel baru kita pilih bila peristiwa yang hendak diceritakan tidak termuat dalam cerpen. Jadi, salah sekali bila untuk memenuhi jumlah halaman novel, seorang penulis memilih memanjang-manjangkan narasi percakapan yang tidak ada relevansinya dengan cerita. Novel ibarat sebuah tim. Seluruh unsurnya, mulai dari percakapan, penokohan, latar, dan lain-lain, sama-sama difokuskan untuk mencapai tujuan cerita. Jadi, mikir dulu baik-baik sebelum membuat penokohan atau percakapan. Tanya, seberapa penting tokoh atau percakapan tersebut? relevan nggak dengan cerita? kalau enggak, buang saja.

Berikut hal-hal penting seputar menulis novel (tolong ya ditambahkan nanti):

1. Percakapan mestilah mendukung ide dan tidak boleh diulang.Misal:
Cuaca terlalu panas. Aku tenggelam dalam keringat. Kutatap Fani yang sibuk berkipas-kipas, “panas, ya,” ujarku.

Nah, dialog, “panas, ya” itu nggak diperlukan lagi. Kan udah dijelasin di deskripsi sebelumnya.
Lebih baik kalau percakapan itu seperti ini:

Cuaca terlalu panas. Aku tenggelam dalam keringat. Kutatap Fani yang sibuk berkipas-kipas, “kau yakin?” tanyaku, “acaramu itu akan sepi peminat.”

Di sini percakapan dihadirkan untuk mendukung ide cerita (bukan meneruskan deskripsi)

2. Bila novel terdiri atas bab, sebaiknya satu bab satu ide, itu lebih sederhana.

Contoh outline cerita detektif yang mengungkap kasus pembunuhan:

Bab1. Seorang anak SMA ditemukan mengambang di sungai. Dugaan polisi, anak itu terseret arus sungai. Kasus selesai.

Bab 2. Kakek korban tidak percaya, dia menghubungi seorang wartawan dan menceritakan beberapa kecurigaan yang tidak ditindaklanjuti polisi

3. Wartawan mulai menyelidiki dan menemukan beberapa fakta aneh, seperti si korban (menurut temannya) berencana pergi membeli pakaian ke sebuah plaza. Aneh sekali, kenapa kemudian si korban malah ke sungai

4. Wartawan menyelidiki panggilan telepon korban dan mendapati ada dua telepon dari nomor tak dikenal yang datang beberapa jam sebelum ia ditemukan tewas. Setelah diselidiki, satu nomor ternyata milik seorang pejabat elit. Yang menurut kakek korban, si korban dan pejabat itu tidak mungkin saling kenal

5. Dari penelusuran lanjutan, diketahui si korban beberapa minggu belakangan suka membeli barang mahal.Ketika wartawan mengecek rekening bank korban, diketahui ada tiga kali ia menerima uang dalam jumlah besar. Setelah sekian kali penyelidikan, wartawan baru tahu kalau si pejabat itu yg memberinya uang.

6. Di akhir cerita, terungkap fakta kalau si korban mengetahui bahwa si pejabat melakukan sebuah kejahatan, dan dengan itu korban memeras si pejabat. Karena kesal dengan ulah korban, akhirnya si pejabat menyuruh orang menghabisi si korban

*ada yang mau garap outline ini?

Poin selanjutnya:
3. Tokoh sebaiknya tidak banyak, tapi kalaupun terpaksa banyak, usahakan yang menonjol sekitar dua atau tiga orang saja. Menonjol dalam pengertian: olah karakternya supaya lebih kuat. Jadi banyaklah menulis cerita atau karakter dia.

Tips nulis karakter: Sebaiknya tidak diungkapkan secara verbal, seperti:
dia pemarah, dia nggak sabaran, dll. Tapi gambarkan karakternya itu melalui pilihan kata yang ia gunakan, gesturnya, dll. Contoh:

“Kau memang bangsat!” ia meludah, “aku ingin tahu apa kau masih berani datang ke sini besok pagi,” ia mengambil kelewangnya.

contoh lain:

“Aku kira semua sudah jelas, Erwin,” katanya, “kau tidak diterima. Jadi pergilah,” ia mengambil buku di atas meja, lalu berbalik menuju rak buku.

contoh lain:

“Ih, males banget ketemu elo,” Dila mencela, “gue banyak kerjaan, nih. Kapan-kapan deh ke sini lagi.”

(substansi percakapannya hampir sama, tapi rasanya berbeda. Sesuai karakter tokoh)

Sekian dulu, ya kapan-kapan disambung lagi.

Share Button

Leave a Reply

Your email address will not be published.