Ketika Parki Bertanya: Bagaimana Menulis Cerita Anak itu, Bu?

Oleh: Maya Lestari Gf.

(tulisan ini merupakan pengantar workshop menulis cerita anak di LP3I, Padang, 13 Mei 2014)

 

Semua orang tahu Parki suka membaca, tapi, tidak semua orang tahu kalau Parki ingin menjadi penulis cerita. Ia selalu kagum pada orang-orang yang pandai menulis kisah-kisah menarik. Misalnya, kisah Charlie and the Chocolate Factory  karya Roald Dahl atau Keluarga Cemara karya Arswendo Atmowiloto. Ia punya banyaaaak sekali buku berisi kisah-kisah menarik. Pernah ia menghitung jumlahnya. Dua ratus lebih! Itu hitungan enam bulan lalu, sekarang, pasti sudah lebih banyak koleksi bukunya. Sebab, Parki hampir selalu menerima hadiah buku setiap minggu. Dari ayah, ibu, kakek, nenek, paman, bibi atau teman-teman ayah dan ibu. Setiap kali dapat hadiah buku, jumlahnya selalu lebih dari satu. Pernah Parki mendapat enam buku sekaligus. Keenam buku itu merupakan seri cerita anak Si Kembar yang ditulis oleh pengarang favoritnya, Enyd Blyton. Bukan main senangnya hati Parki kala itu. Selama tiga hari ia hanya duduk di kamarnya untuk membaca seluruh seri Si Kembar. Ia tak mau main sepeda, bahkan tak mau pula bermain perang-perangan bersama Tori dan Wawan. Padahal, ia suka sekali kedua permainan itu.

Sekarang, setelah membaca ratusan buku cerita dan majalah, terbit keinginan di hati Parki untuk menjadi seorang pengarang. Pikirnya, pasti hebat sekali bila ia bisa menulis kisah tentang naga. Bukan naga yang bisa terbang, tapi naga penjaga lautan. Cerita itu pasti akan keren sekali. Sebab, setahu Parki, belum pernah ada orang yang menulis cerita tentang naga laut.

Tapi, Parki belum pernah menulis cerita, jadi ia bertanya pada ibunya.

“Ibu, bagaimana caranya menulis cerita naga?” tanya Parki suatu sore. Saat itu ibu sedang memotong-motong nenas dan jambu untuk dijadikan rujak.

“Oh, apakah engkau ingin menulis cerita?” tanya ibu. Ia tampak tertarik. Parki mengangguk.

“Apakah cerita itu akan ada gambarnya?” tanya ibu lagi. Ibu tahu Parki suka menggambar.

“Tentu,” jawab Parki, “Semua cerita anak ada gambarnya.”

“Itu benar,” Ibu mengangguk, “Ada cerita anak yang punya banyak gambar tapi tulisannya sedikit, ada pula cerita yang gambarnya sedikit tapi tulisannya banyak. Nah, kamu mau pilih yang mana?”

Parki berpikir.

“Yang tulisannya banyak,” jawab Parki.

“Pilihanmu bagus,” kata Ibu, “Biasanya, cerita anak yang gambarnya lebih banyak, dibuat untuk anak yang lebih kecil.”

“Umur berapa, Bu?”

“Lima tahun ke bawah,” jawab Ibu, “Nah, karena sekarang umurmu sudah delapan tahun, cerita yang tulisannya lebih banyak, cocok untukmu.”

“Jadi cerita untuk anak-anak itu dibuat orang berdasarkan umur ya, Bu?” kata Parki. Ia mengingat-ingat pengalaman membacanya. Dulu, waktu masih keciiil sekali, buku cerita Parki memang lebih banyak gambarnya. Misalnya buku berjudul Book of Sleep. Buku itu seluruhnya berisi gambar-gambar hewan yang sedang tidur. Tulisannya sedikit. Hanya ada satu sampai dua kalimat di setiap lembar.

“Iya, dong,” jawab ibu sambil mengunyah sepotong nenas. Wajah ibu berkerut-kerut sebentar. Parki tertawa. Pasti nenas itu rasanya asam. “Nggak mungkin kan cerita untuk anak usia dua belas tahun dibacakan pada anak usia tiga tahun,” kata ibu, “bahasa untuk anak kecil harus sederhana. Mudah dipahami.”

“Aku tahu aku tahu,” Parki mengangguk-angguk.

“Dilihat dari segi usia, ada empat jenis buku cerita anak,” kata Ibu, “pertama, buku untuk anak usia lima tahun ke bawah, kemudian usia enam sampai delapan tahun, lalu usia sembilan sampai dua belas tahun, dan terakhir usia tiga belas sampai lima belas tahun.”

“Apa sih perbedaan tiap jenis buku itu, Bu?” tanya Parki.

“Buku untuk anak usia lima tahun ke bawah umumnya punya banyak gambar. Cerita dan bahasanya pun sangat sederhana. Kamu ingat nggak buku Book of Sleep?”

Parki nggak mungkin lupa dengan buku itu. Book of Sleep termasuk buku favoritnya.

“Ingat, dong.”

“Nah, itu contohnya.”

“Kalau buku untuk anak usia enam sampai delapan tahun, Bu?” Tanya Parki.

“Hmm….” Ibu mengingat-ingat, “Buku Charlie and Chocolate Factory,” jawab Ibu.

“Wow! Aku suka buku itu,” kata Parki kemudian, “Buku untuk anak usia sembilan sampai dua belas tahun apa contohnya, Bu?” tanyanya lagi.

“Misalnya kisah Keluarga Cemara. Ibu sudah membelikanmu buku itu. Pernah dibaca?”

Parki mengangguk, “Tapi umurku masih delapan tahun,” katanya.

“Nggak apa-apa, yang penting kamu ngerti dan suka.”

Parki mengangguk lagi.

“Kalau buku untuk anak usia tiga belas tahun sampai lima belas tahun apa contohnya, Bu?”

“Hmm…” ibu tampak berpikir lagi, “Misalnya buku A Dog’s Life,” kata ibu, “kamu pernah baca, nggak?”

“Pernah, tapi cuma bagian awalnya,” kata Parki, “Sepertinya buku itu belum cocok untukku.”

Ibu tertawa.

“Nah, kalau kamu ingin tahu lebih banyak lagi. Coba baca buku berjudul Mengenal Cerita Anak yang ada di atas meja Ibu. ”

“Apakah sesudah itu aku akan bisa menulis cerita seperti Enyd Blyton?” tanya Parki.

Ibu tertawa lagi.

“Untuk menjadi penulis hebat caranya ada tiga,” jawab ibu.

“Apa, Bu?”

“Pertama, banyaklah membaca buku-buku bagus, kedua, belajarlah dari para penulis dan ketiga, menulislah terus-menerus.”

“Baik, kalau begitu aku akan menulis dari sekarang,” kata Parki semangat.

Malamnya, Parki membaca buku Mengenal Cerita Anak milik ibu. Dan ini adalah sebagian yang dibaca Parki.

Jenis-jenis buku cerita anak:

  1. Buku Bergambar. Buku ini dibuat untuk memberikan pengalaman visual pada anak. Buku ini memiliki lebih banyak gambar daripada tulisan, bahkan ada yang tidak punya tulisan sama sekali. Biasanya diperuntukkan bagi anak usia 0-5 tahun.
  2. Busy Book atau Quiet Book. Buku ini memiliki ornamen-ornamen yang bisa dimainkan anak-anak. Buku flip-flop alias buku buka tutup/buku berjendela masuk kategori buku ini. Biasanya diperuntukkan bagi anak usia 0-5 tahun
  3. Buku Cerita Bergambar. Merupakan buku cerita yang diberi berbagai ilustrasi menarik. Komposisi antara tulisan dengan gambar hamper sama banyak.
  4. Literatur Tradisional/Cerita Rakyat. Terbagi atas:
  5. Mitos. Mitos mengisahan dewa-dewi, asal-usul manusia, dunia, dll. Contohnya: Asal Usul Dewi Sri, Kisah Ibu Para Tanaman di Belitung, dll
  6. Legenda. Merupakan cerita yang mengisahkan tokoh yang dianggap benar-benar ada di masa lalu, asal mula suatu tempat atau kisah tentang makhluk-makhluk gaib/hantu. Contohnya Si Pitung, Asal Mula Ngarai Sianok.
 

c. Dongeng. Merupakan cerita yang mengambil manusia atau hewan sebagai tokoh dan dianggap tidak benar terjadi meski secara substansi kisah itu mungkin mengandung kebenaran. Misalnya Kisah Bawang Putih dan Bawang Merah, Si Kancil, Gadis Cilik Bertudung Merah.

5. Fantasi. Merupakan kisah-kisah fantasi yang kadang berpijak pada cerita rakyat. Misalnya, kisah Harry Potter yang berpijak pada cerita rakyat Eropa mengenai para penyihir, dementor dan troll.

6. Fiksi Sejarah. Merupakan cerita sejarah yang dituturkan dengan gaya bahasa anak-anak. Misalnya kisah perang kemerdekaan yang banyak ditulis oleh penulis-penulis cerita anak periode tahun 1970an-1980an

7. Fiksi realistis. Merupakan fiksi anak yang setting ceritanya berpijak pada kehidupan masa sekarang.

8. Buku Biografi. Merupakan kisah biografi yang dituturkan dalam bahasa anak-anak. Misalnya, buku seri para nabi dan sahabat nabi untuk anak.

9.  Buku Informasi. Merupakan buku yang berisi aneka pengetahuan untuk anak. Contoh: Ensiklopedi tumbuhan dan hewan untuk anak

10. Puisi dan Drama

 

“Baiklah,” kata Parki setelah membaca buku tersebut, “Besok, aku akan mulai membuat cerita tentang naga lautan.”

**

 

Referensi:

  1. DR. Murti Bunanta, SS.MA. Buku, Mendongeng dan Minat Membaca. Pustaka Tangga. 2004
  2. www.breitlinks.com

 

Share Button

Leave a Reply

Your email address will not be published.