Bagaimana Merancang Sebuah Novel

Apa yang akan kutulis ini merupakan pengalamanku pribadi. Setiap penulis memiliki gaya dan cara mereka sendiri. Apa yang cocok bagi penulis A, belum tentu cocok bagi penulis B. Ada penulis yang membuat outline dan setia pada outlinenya sampai akhir, ada pula penulis yang menyerahkan nasib novelnya pada tokoh ceritanya. Maksudnya, si penulis tidak membuat outline, tapi ia membiarkan imajinasinya berkembang seiring dengan perkembangan cerita. Outline hanya membuat imajinasinya mandeg. ┬áAku sebenarnya termasuk penulis jenis kedua, namun akhir-akhir ini aku belajar untuk menjadi penulis outline. Pasalnya, aku terikat kerjasama dengan sebuah penerbit, dan sedari awal aku dan penerbit tersebut sudah sepakat terhadap sebuah outline. Jadi, aku belajar untuk menjadi penulis yang setia ­čÖé

Novel sangat berbeda dari cerpen. Itulah sebabnya ada penulis yang sukses sebagai novelis tapi gagal di cerpen, ada pula yang sebaliknya. Sukses sebagai cerpenis namun kurang berhasil di novel. Ada pula yang sukses di keduanya, misalnya saja penulis favoritku, Seno Gumira Ajidarma dan Arswendo Atmowiloto. Arswendo  bisa nulis lintas genre dan semuanya sama bagus. Dia bisa nulis novel silat seperti Senopati Pamungkas sampai lima jilid, bisa nulis novel humor satir semacam Sudesi (Suami Dengan Satu Istri), bisa nulis cerpen-cerpen yang keren, bahkan bisa nulis cerita anak macam Keluarga Cemara. Top banget deh.

Oke, balik lagi ke judul tulisan sebelum aku ngelantur terlalu jauh.

Karena aku ini sebenarnya penulis tanpa outline, maka ketika pertama kali dapat ide, yang kulakukan adalah menulis ide itu dalam bentuk prolog cerita. Panjang prolog bervariasi. Bisa lima halaman, bisa pula cuma satu kalimat. Misal, aku dapat ide tentang perempuan yang berjuang melawan trauma psikisnya agar bisa membesarkan anak-anaknya dengan benar, prolog yang kutulis mungkin seperti ini:

“Pagi ini dua ekor bayi kucing mati di rumah kami, dan mereka dibunuh induknya sendiri”

Kalimat ini akan memancing imajinasiku untuk mengorek lebih jauh soal karakter tokoh dan apa hubungan trauma psikis dia dengan bayi kucing yang mati itu. Untuk memperkuat karakter dan cerita, aku akan membaca buku-buku psikologi dan banyak menonton film-film psikologi. Seiring perkembangan cerita, ide-ide baru akan muncul, demikian terus hingga cerita selesai. Saat mulai menulis prolog, aku bisa jadi sudah mendapat gambaran endingnya, bisa jadi juga belum. Jadi nasib tokohku ditentukan bagaimana perkembangan cerita.

Ada satu kekurangan menulis dengan gaya ini. Cerita bisa menjadi tidak fokus. Aku pernah mengalaminya waktu nulis sebuah novel remaja sekitar delapan tahun lalu. Ceritaku jadi mengembang kemana-mana, gak fokus dan terasa sekali ada banyak lubang,  menganga di berbagai tempat, padahal udah capek nulisnya. Dari situ aku belajar merancang novel tanpa outline. Imajinasi boleh saja bergerak liar tapi tetap harus berpijak pada apa yang kusebut batang tubuh cerita.

Batang Tubuh Cerita

Bayangkan tulang punggungmu. Tulang itu memanjang dari bawah tengkuk hingga ke bawah pinggang. Tulang punggung itu menyangga tubuhmu untuk tetap tegak, dan menjadi tempat simpul-simpul sarafmu. Di sepanjang tulang punggung itu tertanam kokoh tulang-tulang rusuk dan dada. Semua tulang itu punya cerita sendiri-sendiri, meski begitu mereka semua tetap melekat pada tulang punggung tersebut.

Nah, batang tubuh cerita adalah tulang punggung itu, sementara tulang-tulang rusuk, dada dan saraf-saraf yang saling membelit di sepanjang tulang itu adalah rangkaian cerita dalam novel kita. Apapun cerita yang kita ciptakan di dalamnya, harus berpijak pada batang tubuh cerita. Inilah cara menjaga supaya cerita tetap fokus.

Namun, itu saja tidak cukup. Kita mesti tahu, meski cerita-cerita yang kita ciptakan berpijak pada batang tubuh ini, namun belum tentu semua cerita itu cocok atau layak. Dari banyak ide cerita di kepala, pilihlah yang akan membawa cerita ke babak berikutnya, bukan yang membuat cerita justru hanya berputar di tempat saja. Pangkas percakapan mubazir, adegan tak penting atau cerita yang meski bagus, namun membuat cerita jalan di tempat. Pada dasarnya novel adalah menciptakan dunia dengan masalah dan bagaimana masalah itu dipecahkan. Jadi rancanglah adegan-adegan yang membawa si tokoh pada masalah. Setelah mencapai titik puncak, baru cooling down. Ini mirip dengan senam kesegaran jasmani. Mulanya pemanasan, lalu lompat-lompat, kemudian pendinginan. Selesai.

Sedikit cerita tentang proses kreatif┬á“Love Interrupted”. Gagasan novel ini muncul tahun 2012. Saat itu aku membayangkan sebuah pernikahan, yang mana si istri sangat cinta pada suaminya, sementara si suami cuma cinta pada kekasih yang tak mampu ia nikahi. Saat merenung-renungkan gagasan itu aku mendapat gagasan lain, yakni tentang perempuan cerdas yang merancang strategi untuk membuat seorang┬álelaki jatuh cinta padanya. Gagasan itu terus berkembang hingga akhirnya jadilah “Love, Interrupted” dalam kepalaku.┬áMeski begitu, yang aku punya baru empat cerita. Cerita tentang pernikahan, ditinggalkan, kebersamaan dengan keluarga dan terakhir adegan pengkhianatan. Saat memulai cerita, aku sudah tahu bagaimana akhirnya, namun belum punya banyak cerita pendukung dalam kepalaku. Gagasan kemudian berdatangan satu satu seiring bertambahnya cerita. Sebenarnya, dua puluh halaman menjelang tamat, muncul gagasan lain di benakku mengenai endingnya. Namun, setelah kupikir-pikir, bila gagasan itu diwujudkan, akan membuat cerita menjadi hambar. Akhirnya kuputuskan tetap setia pada ending yang kurancang sejak awal.

Tidak semua cerita yang kurancang endingnya dari awal. Malah, novelku sebelum “Love, Interrupted”, yakni “Kupu-kupu Fort de Kock” (penerbit Koekoesan, terbit Juli 2013), tidak kuketahui persis bagaimana endingnya. Aku baru mengira-ngira. Baru setelah novel itu selesai tiga perempat bagian, endingnya mulai tergambar jelas di benakku. Novel “Kupu-kupu Fort de Kock” sangat berbeda dari novel-novelku lainnya. Novel ini terdiri atas keping-keping kisah yang masing-masing berdiri sendiri, namun setiap kisah membawa pembaca ke kisah berikutnya. Review atas novel tersebut┬ábisa dibaca di sini, sini┬ádan sini.

Setiap kali merancang sebuah novel, aku teringat satu hal, waktu dan tenaga untuk membuat novel bagus dan kurang bagus itu sama. Jadi pikirkan baik-baik rancangan novel tersebut. Jangan sampai, setelah lelah menulis, yang kita dapat justru kejengkelan.

Salam kreatif ­čÖé

 

 

Share Button

3 Replies to “Bagaimana Merancang Sebuah Novel”

Leave a Reply

Your email address will not be published.