Lima Novel Fantasi Terbaik yang Pernah Kubaca

Kisah-kisah fantasi itu mengagumkan sekaligus bikin iri. Kok bisa ya ada orang yang imajinasinya berada di ruang tanpa batas, sangat liar dan begitu mempesona? Para penulis kisah-kisah fantasi ini menurutku adalah seorang penemu brilian. Mereka menciptakan dunia sendiri dan meramu kisah-kisah dengan cara yang nyaris tak terbayangkan. Kekagumanku tak habis-habis pada mereka. Dan kali ini, dengan penuh rasa hormat pada penulisnya dan bangga karena menjadi bagian dari pembaca karya-karya hebat ini, aku membuat daftar lima novel fantasi terbaik yang pernah kubaca.

1. Lord of the Ring karya J.R.R. Tolkien

lotr

Tolkien tidak ada duanya. Dia menciptakan dunia sendiri, yakni Bumi Tengah, makhluk-makhluk aneh namun mempesona, peperangan tak lazim, bahkan bahasa. Dalam sekuel terakhir seri Lord of the Ring, “Kembalinya Sang Raja”, Tolkien bahkan membuat lampiran berupa silsilah raja-raja serta kisah mereka, nyaris sama tebalnya dengan kisah “Kembalinya Sang Raja” itu sendiri. Dia menulis dengan suatu cara, yang membuat kita merasa semua itu nyata dan pernah terjadi dalam sejarah manusia. Tak bisa kupungkiri, betapa aku mencintai Lord of the Ring. Buku inilah yang memberitahuku bahwa imajinasi adalah salah satu anugerah terbaik yang pernah diturunkan Tuhan pada manusia.

 

2. Eragon karya Christopher Paolini

eragon

Eragon mengingatkan aku pada Lord of the Ring. Dalam kisah Tolkien, tokoh utamanya adalah Frodo, makhluk biasa yang jauh dari hiruk pikuk dunia ksatria, namun takdir kemudian menyeretnya masuk ke lingkaran para ksatria yang berupaya menaklukkan ‘Great Eye’. Tokoh dalam novel Paolini, Eragon, juga makhluk biasa. Sebagai pemuda berusia belasan tahun dan hidup miskin, keahliannya hanya berburu hewan hutan untuk dijual. Takdir yang kemudian menyeretnya menemukan telur naga. Telur itu menetas, lalu menjadikan Eragon sebagai penunggangnya. Dari situ perjalanan Eragon untuk menjadi seorang ksatria dimulai.

Eragon kukira pada awalnya hanya dimaksudkan untuk dua episode, yakni Eragon dan Eldest. Namun entah kenapa buku itu kemudian pecah menjadi empat sekuel. Lanjutannya adalah Brisingr dan Inheritance. Perkiraan ini didasarkan pada fokus cerita di buku pertama hanya terpusat pada Eragon. Karena cerita belum selesai, maka lanjutan perjuangan Eragon melawan sang raja zalim akan ditamatkan di buku kedua.  Lebih logis begini. Sebab, bila mengacu pada Lord of the Ring, cerita sudah difokuskan pada beberapa tokoh sejak awal, yakni Frodo, Gandalf, Aragorn dan para ksatria penjaga cincin. Wajar jika kemudian Tolkien membuatnya menjadi trilogi. Sementara Eragon tidak begitu. Karena itu, jadi aneh ketika tiba-tiba di buku ketiga, sepupu Eragon mendapat porsi yang banyak, dan ternyata dia juga disiapkan menjadi ksatria. Perhatian pembaca dipaksa pecah. Paolini tidak mempersiapkan kemungkinan adanya pahlawan kedua dari awal. Meski begitu, kisah Eragon tetap menarik untuk diikuti. Penggambarannya sangat detail dan narasinya padat.

3. Samudera di Ujung Jalan Setapak karya Neil Gaiman

ng

Ini novel Neil Gaiman yang paling kusukai. Ceritanya memang sedikit horor, namun sangat subtil dan indah. Deskripsinya begitu detail dan hidup. Penuturannya sederhana dan menggugah. Samudera di Ujung Jalan Setapak bercerita tentang kenangan seorang lelaki pada suatu peristiwa magis di masa kecilnya. Yang teristimewa dari novel ini adalah, meski bergenre fantasi namun ceritanya terasa sangat nyata

 

4. Narnia karya C.S Lewis

narnia1

Salah satu yang menarik dari Narnia adalah penuturan dan ceritanya yang sangat anak-anak. Narnia berkisah tentang empat saudara yang tersesat ke negeri Narnia. Pintu masuk ke negeri ini adalah sebuah lemari pakaian. Di negeri ini mereka terlibat berbagai peristiwa yang sangat mendebarkan.

 

5. Stardust karya Neil Gaiman

sd

Beberapa keunggulan karya-karya Neil Gaiman adalah jalan ceritanya tak bisa diduga. Selalu ada kebaruan dalam setiap episode ceritanya. Imajinasinya luar biasa dan menggugah. Stardust bercerita tentang seorang pemuda dari Desa Tembok yang berupaya menyelamatkan seorang bintang jatuh. Ya, seorang bintang jatuh, karena ternyata bintang jatuh itu adalah manusia cantik sebangsa peri. Novel ini sudah difilmkan dengan judul yang sama. Salah satu pemerannya adalah Claire Danes

 

Share Button

Leave a Reply

Your email address will not be published.