Haruskah Orangtua Membaca Buku Cerita Anak-anaknya?

Jawaban pertanyaan di atas simpel saja: harus. Kenapa? berikut alasannya.

Saat anak saya masih kecil sekali, saya selalu memburu buku-buku cerita anak di berbagai lapak buku diskon. Nggak peduli anak saya waktu itu umurnya masih dua tahun dan sama sekali belum bisa baca, pokoknya yang penting beli. Menurut saya, lebih baik saya nyicil beli buku cerita dia, ketimbang terengah-engah nanti membelikan saat ia sudah besar. Kalau seorang anak sudah gila baca, buku tebal pun akan siap dalam waktu sehari. Sesudah itu dia pasti merengek-rengek minta beliin buku lagi. Koitlah saya kalau itu terjadi. Nggak mungkin beli buku terus tiap hari. 

Jadi, kalau ada bursa buku murah, saya paling semangat pergi ke rak buku cerita anak. Dapat buku-buku bagus itu rezki. Sering saya dapat buku-buku keren semacam yang ditulis Roald Dahl atau Philip Pullman di situ. Bahkan, ada juga buku cerita anak terjemahan yang harga aslinya seratus ribu, tapi pas di lapak diskon banting harga jadi sepuluh ribu. Huaa…gimana gak gatal tangan ini ngambilnya? 😀

Manfaatnya saya rasakan sekarang saat anak saya sudah bisa membaca. Seluruh buku yang saya tabung itu ludes dia baca, termasuk majalah-majalah Bobo dan Donald Bebek bekas. Kalau ditotal-total jumlah semuanya mungkin ada sekitar empat ratusan (belum termasuk majalah). Novel anak-anaknya tebal-tebal. Ada yang jumlah halamannya sampai seribu. Dia nggak pernah bosan membaca semua buku itu karena memang bagus. Kenapa bagus? karena saya memang hanya memilih yang terbaik dan terbagus pada waktu itu. Jadi, semua buku yang saya beli itu, saya baca dulu untuk memastikan bahwa ceritanya memang baik untuk dia. Kalau ada cacat nilai, akan saya singkirkan.

Malangnya, setelah kesibukan saya bertambah, kebiasaan baik itu tak berlanjut. Saya mulai membebaskan dia memilih buku apapun yang dia mau di toko buku. Saya cuma lihat sampul, baca sinopsis dan penerbitnya. Pikir saya, kan genrenya buku cerita anak, jadi pastilah sesuai untuk anak-anak. Ternyata dugaan saya salah.

Suatu hari, karena buku-buku yang ia pilih sendiri sudah menumpuk di kamarnya tanpa sempat saya perhatikan, saya teringat lagi kebiasaan saya dulu yang selalu membaca dulu sebuah buku sebelum diberikan ke dia. Saya tarik sebuah judul, saya baca, dan terpana. Buku cerita anak yang ditulis oleh anak-anak dan diterbitkan oleh sebuah penerbit di Indonesia itu ternyata isinya cuma sekadar hahahihi, hura-hura, dan bagaimana caranya supaya bisa beli ini itu. Nilai-nilai hedonisme menyeruak di situ. Astaga, pikir saya. Bagaimana cerita semacam ini sampai lolos? cerita macam apa ini yang tak memberikan sentuhan pemikiran apapun kepada jiwa intelektual anak-anak? Saya periksa buku-buku lain yang serupa. Ada beberapa yang bisa dinilai ‘bolehlah’ tapi lebih banyak lagi yang nilainya di bawah ‘alakadar’. Perasaan sesak menyeruak di dada saya. Betapa teledornya saya sebagai orang tua. Bagaimana bisa hal sepenting ini luput dari perhatian saya?

Ketika saya membongkar-bongkar bacaannya yang lain, perasaan menyesal semakin berat menghimpit kepala saya. Ada komik-komik yang sepintas dari sampulnya (!!!) seperti komik untuk anak, pelakunya pun anak-anak, tapi isinya seputar kekerasan. Ada pula komik yang sepertinya bergenre komedi sekolahan, tapi isinya melulu mengenai prilaku tokoh utama yang suka mencontek. Astaga, betapa lalainya saya. Betapa banyak saya memberikan waktu pada bacaan-bacaan itu merasuki pikiran anak saya.

Hari itu juga saya berbicara pada dia. Saya tunjukkan semua buku-buku bermasalah itu dan saya tanya pendapatnya. Menurutnya isi buku-buku itu asyik. Lalu saya tanya asyiknya dimana? Dia mulai bingung. Saya berikan pada dia buku yang memuat nilai-nilai hedon itu. Saya tanya cerita itu asyiknya dimana. Dia nggak bisa jawab. Saya tunjukkan juga komik-komik bermasalah itu dan bertanya hal serupa. Dia mulai bingung. Akhirnya saya jelaskan semua padanya dengan logika anak-anak yang bisa dipahami. Saya minta pengertiannya, bahwa saya harus menyingkirkan buku-buku itu, bukan karena buku itu sangat jelek, tapi karena buku-buku semacam itu tidak cocok untuk dia, meski sepertinya asyik. Saya memberi contoh makanan. Saya bertanya padanya, makanan apakah yang sebaiknya kita hindari? Dia menjawab, makanan yang mengandung banyak zat kimia, blablabla. Nah, saya membalas, buku-buku bisa dimisalkan makanan. Buku seperti jajanan, banyak sekali yang lezat disantap, tapi tak semuanya bermanfaat untuk diri kita. Pembaca yang baik, adalah pembaca yang mengerti buku-buku mana yang sepatutnya dia miliki dan baca, dan mana yang tidak. Saya yakinkan dia, bahwa sebenarnya tak ada buku yang jelek, yang ada hanyalah buku yang sesuai atau tidak sesuai dengan diri kita. Sampai di sini dia mengerti.

Bagi saya, masa kecil adalah masa emas untuk menguatkan landasan berpikir, dan itu salah satunya dibantu oleh buku-buku yang baik. Jika yang anak-anak konsumsi adalah buku-buku yang tidak mendorong mereka untuk menjadi seorang intelektual/cendekiawan nanti di tengah masyarakatnya, maka kualitas semacam apa nanti yang bisa diharapkan dari mereka? Jadi, menguatkan fondasi itu penting, dan itu –bagi saya–dimulai dari kesediaan orangtua untuk menyeleksi semua bacaan anak-anak mereka.

 

Share Button