Sekelumit Cerita Tentang Ditolak dan Diterima (Penerbit)

Ditolak itu memang tidak enak, tapi tidak melakukan apapun lebih tidak enak lagi. Pertama kali aku berani mengirim naskah ke majalah terjadi pada saat aku masih SMP. Lupa kelas berapa. Waktu itu karena nggak punya mesin ketik, aku nulisnya pake pena. Bikin dua cerita pendek lalu dikirim ke majalah Bobo. Hasilnya? alhamdulillah ditolak. Tidak apa-apa. Aku tetap menulis, karena itu hobiku. Cintaku pada dunia tulis menulis tidak ada hubungannya dengan penolakan atau penerimaan. Emang sih sedikit kecewa,  tapi waktu itu aku nyadar juga, mana mungkin cerita dengan tulisan cakar ayam itu diterima Bobo. Bisa dibaca aja udah syukur.

Pas SMA, karena suka baca majalah Anita Cemerlang, aku coba bikin cerpen remaja. Waktu itu kalau gak salah judulnya Cinta Dari Semua Sisi (*tutup muka). Kisahnya tentang cowok yang jatuh cinta ama ceweknya karena tuh cewek punya kuku yang baguuus banget (melongo? tunggu dulu! masih ada yang lebih seru), trus si cewek memotong kukunya dan memberikan kuku itu ke si cowok sambil bilang, ‘nih kuku gue, kan elu cuma cinta kuku gue doang!’ (*mukul kepala ama wajan). Akhirnya si cowok bilang ‘gak kok, gue cinta ama elu seutuhnya, gak cuman kuku elu doang’. (kok bisa aku bikin cerita kayak gini *gigit tembok). Selesai cerpen itu, aku bikin cerpen berikut, judulnya Arti Setia. Cerita tentang cowok yang udah punya cewek, tapi kemudian naksir ama temannya sesama anggota klub drama. Di akhir cerita, pacarnya si cowok nanya, ‘sepanjang perjalanan kita akan menemukan orang-orang yang bisa jadi jauh lebih menarik dari pasangan kita, apakah akan setiap waktu kita berganti hati? Melelahkan, bukan?’  Mereka break sebentar. Si cowok mikir, pas menjelang pementasa drama ia ketemu satu momen yang membuat hatinya berdetak untuk calon selingkuhan ini. Malam itu ia bertekad mutusin ceweknya.

Esok paginya, dia ketemu lagi ama pacarnya, dia udah siap untuk mutusin, tapi kemudian si cewek kembali melontarkan pertanyaan yang sama plus tambahan, ‘bila nanti kamu bersamanya, lalu menemukan bahwa aku jauh lebih menarik dari dia, apa kamu akan kembali berganti hati? (*tumben ya anak SMA bijak banget kayak gini. Kayaknya aku salah umur deh waktu itu). Si cowok mikir lagi, lalu mulailah membandingkan. Setelah beberapa waktu ia sampai pada satu keputusan. Ia tetap bersama pacarnya. Dua cerita itu aku ketik rangkap dua pake kertas karbon. Kalau ada kata yang salah ketik, kukasi tip-ex. Malangnya, kata yang salah ketik itu banyak, jadi tulisannya compang-camping gitu. Mana rata kiri kanannya gak ada lagi. Paragraf pertama terlalu ke kanan, paragraf kedua terlalu ke tengah.  Hihuhihu, makanya gak dimuat Anita Cemerlang. Tampilannya aja horor gitu.

Pernah juga aku bikin novel 70-an halaman, tentang pendakian ke Gunung Semeru. Ceritanya benar-benar seru karena:  aku bukan pendaki gunung, aku nggak tau seperti apa Gunung Semeru dan nggak ngerti metode penyelamatan tim SAR. Jadilah cerita puluhan halaman itu berisi imajinasi doang yang kalau diadu fakta pasti cuma dapat nilai 5, dari rentang 1-100.

Setelah lulus SMA aku mulai ngirim naskah ke majalah Annida. Naskah pertama yang dimuat adalah puisi. Honornya waktu itu Rp. 75 ribu. Hihi…seneng banget, soale kan itu honor dari majalah skala nasional gitu :D. Duitnya kupake beli martabak buat syukuran sekeluarga.

Nggak lama setelah publikasi puisi, terbit beberapa cerpenku di Annida. Yang pertama judulnya Raul. Hihi …nama Raul kupilih karena waktu itu ngefans ama Raul Gonzalez, pemain sepakbola Spanyol yang kece badai. Saking senengnya dimuat, aku nulis lagi, lagi dan lagi. Hampir tiap minggu aku ngirim cerpen sampai kru Annida sebel kayaknya. Saking sebelnya, cerpen-cerpen itu mereka muat terus hehehehe….

Buku pertamaku terbit tahun 2004. Waktu itu da Melvi Yendra yang bekerja sebagai editor di Beranda Hikmah meminta naskah cerpen-cerpenku buat diterbitin. Prosesnya cepat. Dalam hitungan dua apa tiga bulan tu ya, terbit Kumcer Kutukan Pitopang. Kumcer itu sempat dilaunching bersama kumcer Yetti A.Ka berjudul Numi di gedung Dewan Kesenian Sumatra Barat. Respon pembaca cukup menyenangkan dan aku menemukan beberapa review yang sangat positif di internet. Sebagian review itu kayaknya udah terhapus ya karena terpajang di multiply yang sekarang sudah almarhum. Namun, sebagian review lagi masih bisa dibaca di situs Goodreads.

Aku dulu sempat ngirim naskah ke Gramedia Pustaka Utama (GPU), dan alhamdulillah ditolak. Saat aku menerima pengembalian naskah, ada seseorang yang kukenal, mengejekku. Dipikirnya ditolak itu memalukan kali. Padahal kalau naskah ditolak, dukun…eh, maksudnya, sikap pantang menyerah harus bertindak. Saat dia nertawain, muncul tekad dalam diriku, bahwa suatu saat aku akan nembus GPU, dan dia gak bisa lagi ngejek aku. Hihuhihuhihu. Marah itu memang tidak baik, tapi marah yang membuat kita berhasil mengalahkan perasaan negatif itu harus dipelihara. Buktinya, enam tahun setelah peristiwa itu naskahku bukan cuma sekadar tembus di GPU, tapi juga memenangkan perlombaan menulis yang mereka adakan. Gak perlu patah semangat oleh ejekan.

Inti dari semua cerita ngalor ngidul aku ini adalah: ditolak itu biasa. Rata-rata penulis mengalaminya kok. Jika kamu ditolak, maka kamu harus ngasi selamat ke dirimu sendiri, sebab itu tandanya kamu sudah bergabung ke APSPSPSTBHAD atau Asosiasi Penulis yang Sudah Pernah Ditolak Penerbit/Redaktur tapi Tetap Berjuang Hingga Akhirnya Diterima. Nah keren kan asosiasinya. Nggak sembarang orang bisa masuk asosiasi ini lho. ^_^

Bila naskahmu diterima, maka itu sebenarnya bonus dari perjuanganmu. Kehidupan penulis yang sebenarnya ada pada proses menghasilkan karya. Menulis itu adalah kerja intelektual, dan pekerjaan semacam ini tidak pernah ada kata akhirnya. Suatu karya hanyalah batu loncatan intelektual menuju batu loncatan berikutnya. Menulis adalah kerja yang tiada habis. Sebab, sumber idenya ada di ruang tanpa batas.

Nah, selamat menulis. Selamat menghasilkan karya. Mari isi teko pemikiran kita dengan ribuan tulisan, hingga nanti dari teko itu akan keluar juga ribuan pemikiran bernas.

Salam.

 

Share Button

One Reply to “Sekelumit Cerita Tentang Ditolak dan Diterima (Penerbit)”

  1. Anonymous

    Lucu sih …?????
    aku juga lagi belajar membuat novel ,cuma jadinya nggk terarah , sudah satu minggu membuat 7 kali sudah aku revisi ,hem…

Leave a Reply

Your email address will not be published.