Bagaimana Membuat Media Untuk Komunitas

Selama saya berkecimpung di beberapa komunitas penulis, ada satu hal yang hampir selalu saya lakukan, membuat media. Sebab, saya percaya, seseorang takkan jadi penulis tanpa ada media yang mau mempublikasikan karya-karyanya. Dulu FLP punya majalah Annida yang konon tirasnya pernah mencapai 80 ribu eksemplar, lalu mendirikan penerbit sendiri bernama Lingkar Pena Publishing House. Bisa kita lihat sendiri berapa jumlah penulis yang dihasilkannya (saya termasuk salah satu). Adanya media, membuat motivasi anggota untuk berkarya juga bertambah. Publikasi karya dianggap sebagai bentuk penghargaan atas kerja keras anggota menghasilkan karya. Jadi, bagi saya, memiliki media itu mutlak bagi sebuah komunitas penulis yang berniat melahirkan penulis baru.

Saat saya dulu mendirikan Komunitas Jurnalistik di IAIN Imam Bonjol, Padang, yang saya dan teman-teman lakukan pertama kali adalah: merancang sebuah buletin. Kami menamakan buletin itu sebagai On Journal. Terdiri atas 12 halaman, berukuran A3 dan dilipat hingga seukuran A4. Buletin itu difotokopi sekitar 100 eksemplar tiap edisi dan dijual ke mahasiswa IAIN. Kami merancang rubrik-rubrik yang kira-kira relevan dengan kehidupan di kampus kami. Kami juga melibatkan teman-teman mahasiswa di luar komunitas untuk menggarap rubrik. Hanya dalam dua edisi, buletin itu sudah dikenal luas di kampus.

Setelah merasa matang mengelola buletin, kami lalu mengajukan proposal kerjasama menggarap rubrik kampus satu halaman di Harian Haluan, salah satu harian terkemuka di Sumatra Barat. Proposal itu diterima, dan Komunitas Jurnalistik menggarap rubrik itu setahun penuh (Januari 2011-Desember 2011). Itu adalah salah satu prestasi terbaik komunitas, bila ditambah dengan prestasi pribadi para anggota yang kemampuan menulisnya melompat tinggi karena sering menggarap rubrik koran, maka daftar prestasi itu akan panjang.

Inti dari semuanya adalah, jika ingin membangun komunitas penulis, maka bangun pulalah wadah untuk mempublikasikan karya anggota. Menulis adalah sebuah keterampilan, dan cara untuk mengasahnya adalah dengan memotivasi anggota untuk banyak menulis. Saya cukup sering menemukan orang-orang yang malu mengirimkan karyanya ke media-media umum karena merasa tidak pede dengan kualitas karya. Nah, media internal komunitas bisa membantu mengatasi ketidakpedean itu. Setidak-tidaknya, ketika karya sang penulis pemalu ini dipublikasikan, ia sudah punya pengalaman ‘dibaca’ orang, dan ini bisa memupuk kepercayaan dirinya untuk mengirim ke media umum.

Membuat buletin itu tidak sulit. Pun tidak mesti memakai program pagemaker. Ada program yang bernama Microsoft Publisher yang ditanam di Office. Di Publisher ada banyak template newsletter/buletin yang bisa kamu pakai untuk media kamu. Setelah dipilih satu template, kamu tinggal masukin tulisan saja dan Publisher akan secara otomatis me-layout-nya. Bahkan Publisher juga menyediakan tempat untuk menaruh foto-foto pendukung artikel segala. Sangat gampang.

Bagaimana dengan biaya? Urunan dong. Jumlah yang disumbang sesuai kesepakatan bersama. Lebih bagus lagi kalau komunitas bisa nyari sponsor. Buletin On Journal milik Komunitas Jurnalistik punya sponsor setiap terbit. Setiap sponsor ditarik dana Rp. 50 ribu rupiah. Imbalannya, iklan usaha mereka dipajang separuh halaman buletin. Sponsor buletin kami waktu itu toko-toko seputar kampus saja. Setelah buletin terbit, beberapa eksemplar akan kami taruh di toko-toko tersebut, gratis untuk pelanggan mereka.

Nah, gimana? Gampang kan sebenarnya punya media komunitas sendiri. Yang penting ada niat, ada usaha. Pasti jalan.

Selamat berkreativitas 🙂

Share Button

Leave a Reply

Your email address will not be published.