Rekonsiliasi Sastra Kanon dan Sastra Pop. Kuliah Umum Bersama Prof. Budi Darma

Catatan: Kuliah umum ini adalah acara yang paling aku nantikan Juni ini. Sudah lama aku mengagumi karya-karya Pak Budi Darma, seorang akademisi sekaligus sastrawan terkemuka Indonesia. Karya-karyanya sangat bernas dan buah pikirnya membuka wawasan. Itulah sebabnya, aku memilih mengikuti kuliah ini ketimbang mengikuti ujian psikologi di kampus. Awalnya sempat bimbang juga sih, tapi setelah kupikir-pikir, dosen bisa kulobi sampai jungkir balik, aku pun bisa ketemu beliau setiap minggu di kampus, tapi kuliah bersama Pak Budi Darma nggak setiap tahun ada di Padang. Jadi aku memilih kabur dari kampus dan tancap gas ke Unand.

Well, ternyata tidak sia-sia usahaku. Banyak sekali pengetahuan berharga yang kudapat bersama Pak Budi Darma. Berikut ini oleh-oleh pengetahuan untuk teman-teman semua.

 

Kuliah bersama Prof. Budi Darma

Apa itu sastra kanon? Untuk mengetahui pengertiannya kita bisa merujuk pada sebuah peristiwa yang terjadi dalam Perang Seratus Tahun antara Perancis dan Inggris yang dimulai tahun 1337. Pada suatu kali, di masa peperangan tersebut, pasukan Inggris berhasil menguasai sebuah daerah di Prancis. Begitu digdayanya mereka, hingga tak seorang pun dari pasukan Perancis yang berani menganggu gugat keberadaan mereka di situ. Suatu hari, seorang gadis sederhana bernama Joan merasa mendapat bisikan dari Tuhan untuk melawan mereka. Ia pun mengumpulkan penduduk desa agar bersatu melawan pasukan Inggris. Usahanya ini berhasil, dan peduduk desa, dibawah kepemimpinan Joan berhasil mengusir pasukan Inggris.

Ternyata peristiwa ini membuat resah penguasa setempat. Menurut mereka Joan telah mendapat bisikan setan dan menguasai ilmu sihir. Tak mungkin seorang gadis desa sederhana seperti Joan mampu mengusir pasukan yang begitu digdaya. Akhirnya mereka menghukum Joan dan membakarnya jadi abu, sehingga Joan yang pemberani kemudian dikenal dengan Joan of Arc.

Beratus-ratus tahun kemudian, Gereja Katolik mengeluarkan fatwa bahwa pembakaran Joan adalah kekeliruan besar. Menurut pihak gereja, Joan menjadi gadis hebat bukan karena bisikan setan, tapi karena menerima wahyu dari Tuhan. Maka oleh gereja dikanonkanlah Joan of Arc sebagai gadis suci. Ia dijadikan seorang saint, manusia suci yang harus dihormati. Karena ia sudah dikanonkan, maka namanya akan dikenang selamanya.

Bila merujuk pada peristiwa kanonisasi yang terjadi pada Joan of Arc, maka kita bisa menyebut bahwa kanonisasi dalam karya sastra, berarti mengangkat sebuah karya menjadi sesuatu yang sangat dihormati dan dengan demikian pantas dikenang selamanya. Kedudukan karya sastra yang dikanonkan ini tidak dapat diganggu gugat lagi.

Apa yang menyebabkan sebuah karya menjadi kanon?

Ada beberapa hal yang membuat sebuah karya sastra menjadi sebuah kanon, salah satunya semangat yang diusungnya relevan untuk setiap masa. Karya itu menonjol dan bertahan sepanjang zaman. Perubahan sebuah karya sastra menjadi kanon melewati waktu yang lama dan melewati beberapa tahapan. Umumnya, perubahan itu dimulai dari masuknya karya tersebut menjadi karya mainstream lalu, karena karya mainstream ini mampu bertahan seiring perjalanan waktu, maka ia perlahan menjadi kanon.  Sebagai contoh kita bisa melihat apa yang terjadi pada karya-karya Sir Walter Scott (1771-1832) dan Jane Austen (1775-1817).

Sir Walter Scott menghasilkan novel-novel sejarah yang berhasil memancing nostalgia pada masa lalu. Pada masanya, perang berkecamuk dan dengan demikian karya itu sangat relevan. Karya Walter Scott masuk ke jajaran karya mainstream lalu karena mampu bertahan, karya itu kemudian bergeser menjadi kanon.

Adapun Jane Austen tidak pernah menyinggung kejayaan masa lampau dalam karya-karyanya. Tokoh-tokohnya hanyalah orang biasa yang tidak mendapat tempat dalam sejarah. Itulah sebabnya kedudukan Austen dalam karya mainstream amat lemah. Namun, kemudian zaman berubah begitu pula tuntutan zaman. Pada awal abad 20, karya-karya Jane Austen kemudian dibicarakan orang sehingga perlahan posisinya melesat ke atas hingga menjadi kanon. Sementara, karya-karya Sir Walter Scott bergeser ke bawah. Ia dipandang sebagai sastrawan kecil, dan Austen masuk ke jajaran pengarang besar.

Seperti Apa Karya Sastra yang Baik?

Bila merujuk pendapat beberapa orang, maka kita bisa mendapat kesimpulan mengenai standar karya sastra yang baik.

  1. Menurut filsuf Romawi Kuno, Horace/Horatius (65 SM-8 M), karya sastra yang baik pasti mempunyai dua unsur, yaitu dulce (rasa senang)dan utile (manfaat). Standar dulce et (dan) utile ini memang subjektif, tergantung pada setiap pembaca. Yang dimaksud Horace sesungguhnya adalah pembaca yang bisa merasakan kesenangan dan manfaat dalam membaca karya sastra yang bagus. Standarnya tentu tergantung pada kematangan pembacanya.
  2. Menurut Rene Welek dan Austin Warren dalam Theory of Literature, semua sastrawan hebat dapat mengajarkan tentang manusia, jauh lebih baik ketimbang seorang psikolog. Itu artinya, karya sastra yang baik mampu mengolah sisi psikologi tokoh-tokohnya. Sebagai contoh, penggarapan sisi psikologis yang sangat baik dalam Hamlet, membuat karya ini menjadi katalisator Freud melahirkan teori psikoanalisisnya yang terkenal.
  3. Karya sastra yang baik juga memiliki sumbangan terhadap perkembangan ilmu pengetahuan. Hal ini bisa dilihat pada Rene Girard, filsuf yang tergila-gila pada sastra. Pembacaannya terhadap banyak karya sastra menghasilkan teori- mengenai kekerasan, agama dan kambing hitam.
  4. Mampu mengekspresikan obsesi psikologis. Hal ini bisa kita lihat dalam novel Bumi Manusia karya Pramoedya Ananta Toer. Obsesi Pramoedya untuk menemukan seorang perempuan yang sesuai dengan kriterianya berujung pada terciptanya karakter Nyai Ontosoroh yang nyaris mustahil ada di dunia.
  5. Mempunya dimensi masa depan. Teori ini dikemukakan oleh E.M Forster dalam bukunya Aspects of the Novel. Menurutnya novel yang baik mampu menampilkan ramalan mengenai masa depan.  Kita bisa melihat contohnya pada karya Ronggowarsito yang berjudul Kalatida (zaman kekacauan). Di situ Ronggowarsito meramalkan bahwa akan dating suatu masa dimana kelak aka nada rel kereta api (kuda berkalung besi), Jepang akan datang selama tiga setengah tahun, perempuan akan berpakaian seperti lelaki begitu juga sebalinya.
  6. Memiliki dimensi filosofis. Sebagai contoh adalah novel-novel karya Paulo Coelho
  7. Mempunyai kemampuan mengubah dunia dan prilaku manusia. Contohnya adalah Harry Potter)
  8. Mempunya nilai ekonomi (cultural studies)
  9. Mampu menggambarkan situsi dan kondisi zaman tertentu (mengacu pada pendapat Wellek dan Warren)
  10. Memenuhi criteria disinterested contemplation, esthetic distance dan framing.

 

 

Kriteria Karya Bagus

Ada tiga kriteria yang memungkinkan sebuah karya menjadi bagus, yaitu: pertama, kontemplasi yang tidak melibatkan kepetingan diri sendiri (disinterested contemplation). Kita bisa melihat contohnya pada novel Bumi Manusia. Novel ini ditulis Pramoedya dalam status orang hukuman dan kekecewaan terhadap kesewenangan penjajah Belanda, namun saat menulis, ia mampu melepaskan dirinya dari kekecewaan itu.  Kedua,  adanya esthetic distance , yaitu kemampuan penulis membangun jarak dengan tokohnya. Ketiga, framing atau wadah. Isi sebuah karya harus sesuai dengan wadah/bentuknya. Isi adalah gagasan, sementara bentuk adalah cara menguraikan gagasan itu. Karya yang gagasannya kecil tentu tidak bisa dipanjang-panjangkan, begitu juga sebaliknya.

 

Eurosentrisme

 

Sebelum Perang Dunia II, kendali mutu kebudayaan dan kesenian tergantung pada standar Eropa. Kebudayaan apapun di luar standar Eropa, dianggap sebagai kebudayaan kelas bawah. Musik klasik dan karya sastra non pop dianggap sebagai kebudayaan kelas atas, di luar itu tidak diakui.

Seusai Perang Dunia II, Eropa terguncang,  karya musik dan sastra pop yang dulu dianggap sebagai bukan bagian budaya kelas atas berkembang dimana-mana. Budaya pop ini ternyata sanggup mempengaruhi ekonomi dan mengubah prilaku manusia. Dengan demikian, musik sebenarnya adalah musik, baik itu klasik atau pop, dan sastra adalah sastra, entah itu pop maupun non pop.

Richard Hoggart (1918-2014) dan Raymond Williams (1921-1988) adalah pakar-pakar awal yang sadar bahwa dunia sudah berubah, begitu pula standar kebudayaan, termasuk standar seni. Dengan berbekal kesadaran ini mereka membuka kelas-kelas malam di Universitas Birmingham, Inggris dan menerima orang-orang kelas bawah, yang sebelumnya tidak punya hak untuk masuk universitas, sebagai mahasiswa mereka. Diskusi-diskusi yang mereka adakan menggiring pada satu kesimpulan, bahwa pandangan eurosentrisme yang dulu menganggap bangsa-bangsa di luar Eropa bukanlah bangsa, sebenarnya adalah bangsa juga, dan semua kebudayaan entah itu datang dari kelas atas maupun bawah, adalah kebudayaan juga namanya.

Kelas-kelas malam ini kemudian dilembagakan menjadi Birmingham School of Cultural Studies pada tahun 1964. Inilah awal kemunculan cultural studies yang mengkaji asal-usul kebudayaan. Dalam kajian ini, semua kebudayaan dari kelas manapun dianggap sebagai sebuah kebudayaan. Pandangan etnosentrisme perlahan gugur.

Cultural studies lahir dari realita, bukan angan-angan seperti yang dianut pelaku eurosentrisme, dan realita menunjukkan sastra pop tidak mungkin diremehkan. Sikap penganut eurosentrisme lebih banyak didasarkan pada stigmatisasi dan bukannya realitas, karena itulah kedudukan sastra pop mau tidak mau harus dinilai kembali.

Penilaian suatu karya tidak bisa hanya berdasarkan stigma, tapi berdasarkan kasus, karena ada sastra pop yang baik ada pula yang tidak, begitu juga dengan sastra non pop, ada yang bagus, ada pula yang tidak. Novel-novel pop masa kini seperti The Hunger Games bisa dimasukkan ke dalam sastra karena memenuhi beberapa kriteria karya sastra, demikian pula seri Harry Potter, dan A Song of Ice and Fire (Game of Thrones)

 

Penutup

Dahulu, semua kajian terhadap karya pop di seluruh dunia dianggap tidak layak dilakukan, namun karena cultural studies menunjukkan bahwa batas antara pop dan non pop itu pada hakikatnya tidak ada, dan juga banyak karya yang distigmatisasi sebagai karya sastra pop ternyata punya dimensi yang sama dengan karya sastra non pop, akhirnya kajian terhadap karya sastra pop dengan non pop dianggap sama nilainya. Di Indonesia sendiri, baru pada tahun 1980-an, atas inisiatif Umar Kayam, kajian terhadap sastra pop mulai diakui sebagai kajian akademis.

 

Tulisan ini merupakan hasil dari kuliah umum bersama Prof. Budi Darma di Ruang Seminar Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Andalas, Rabu, 18 Juni 2014. Tulisan ini sebagian besarnya diambil dari makalah Prof. Budi Darma.

Share Button

Leave a Reply

Your email address will not be published.