Mahabharata, Fiksi atau Fakta?

Hingga saat ini, saya setidaknya sudah membaca tiga versi Mahabharata. Pertama versi penulis yang saya sudah lupa namanya, saya baca saat masih SMP atau SMA (lupa). Versi kedua ditulis Nyoman S. Pendit. Ia adalah pengarang asal Tabanan, Bali, yang menamatkan pendidikannya di Visva Bharati University, Santiniketan, India. Selain dikenal sebagai penulis, Nyoman S. Pendit juga tokoh Hindu terkemuka di Indonesia yang banyak menulis tentang falsafah Hindu. Ia bukan hanya menulis Mahabharata, tapi juga Ramayana. Saya membeli kedua buku itu dalam satu paket. Ramayana versi Nyoman S. Pendit adalah Ramayana kesekian yang saya baca. Ulasan mengenai Ramayana sendiri inshaAllah akan saya bahas suatu saat nanti. Mahabharata versi ketiga adalah karya Chitra Banerjee Divakaruni, dan merupakan versi yang paling saya sukai karena menawarkan sesuatu yang sangat baru. Ulasan saya mengenai novel Divakaruni tersebut bisa dibaca di sini.Β 

Setiap kali membicarakan Mahabharata, satu pertanyaan selalu timbul di kepala saya. Mahabharata ini apakah fiksi epos atau kisah sejarah? Pasalnya, silsilah raja-raja diterangkan secara lengkap dari Raja Barhi hingga generasi raja-raja Pandawa.Β Jumlahnya lebih dari tiga puluh orang. Tak cuma itu itu, silsilah istri, menantu, ipar-ipar dan lain-lain juga tercatat dengan baik dan detail. Jika ini kisah fiksi, sungguh besar sekali energi penulisnya untuk memikirkan silsilah semua tokoh-tokoh cerita.

Hal lain yang patut diperhatikan adalah, tidak ada ‘hero’ tunggal di Mahabharata. Tokoh-tokoh Pandawa, Kurawa, termasuk orang-orang yang menyokong mereka (seperti Krishna dan Bisma) mendapat porsi yang sama besar. Jika Mahabharata kisah fiksi, maka penulis kemungkinan besar akan menjadikan seseorang atau sebuah kelompok sebagai sentra cerita. Misalnya saja fiksi epos Lord of the Ring. Meski tokoh-tokohnya banyak, tapi fokus Tolkien sang pengarang hanya pada para kesatria pembawa cincin saja: empat hobbit (Frodo, dkk), Legolas, Aragorn, Gandalf, Gimli dan Boromir. Tak cuma itu, Mahabharata terdiri atas banyak bingkai cerita. Di dalam bingkai Mahabharata kita akan menemukan kisah Bisma dengan Amba, lalu kisah Amba yang menjadi Srikandi, kemudian kisah Kunti, Lalu Gandhari, Drona, dan lain-lain. Setiap tokoh diberi tempat sendiri untuk menceritakan kisah mereka termasuk relasi mereka terhadap orang lain. Hal ini kemungkinan cuma bisa terjadi bila Mahabharata bukan fiksi, tapi rekaman banyak peristiwa sejarah yang terjadi dalam sebuah tempat/kerajaan.

Tak cuma itu, Mahabharata juga penuh dengan falsafah hidup. Ajaran-ajaran kebajikan bertebaran sepanjang cerita, bahkan saat perang kurusetra berlangsung, Arjuna masih sempat-sempatnya diajari filsafat peperangan oleh Bisma. Jika Mahabharata kisah fiksi, maka hal-hal semacam itu akan diluputkan oleh penulis, karena seluruh energinya dikuras untuk menggambarkan peperangan yang maha dahsyat.

Kemudian, ini yang paling menarik, arkeolog menemukan semacam struktur di perairan Dwaraka, India. Dwaraka merupakan salah satu kota yang disebut-sebut dalam Mahabharata. Struktur yang ditemukan di perairan Dwaraka ini terbuat dari batu dan kemungkinan besar adalah pemukiman yang berasal dari zaman prasejarah. Kisah Mahabharata diperkirakan terjadi 3000-2000 tahun SM. Apakah struktur ini berasal dari kota Dwaraka zaman Mahabharata? Wallahualam bishowab.

Well, apapun itu, masa lalu memang menarik untuk dikaji dan disibak misterinya. Apalagi bila masa lalu itu bernama epos Mahabharata, salah satu epos terbesar yang pernah dibuat manusia. Yang kejayaannya membentang selama ribuan generasi.

 

 

Share Button

7 Replies to “Mahabharata, Fiksi atau Fakta?”

  1. slamet

    Maha barata bukan perang suci tapi perang untuk memperebutkan kekuasaan . Di dlm peperangan satu sama lain saling membantai dng tindakan yg kejam..brutal dan sangat biadab .perang baratayuda motifnya adalah perang saudara dlm rangka memperebutkan negara..Jadi kesimpulannya korban korban perang yg mati semua masuk neraka..tak terkecuali yg masih hidup seperti pandawa lima juga sri krisna sang provokator ulung mereka mereka mati masuk neraka .tapi walaupun begitu banyak orang mengagungkan tokoh para pandawa lima terutama masyarakat suku jawa . Sebagai bangsa ind terutama umat islam jng lah ikut ikutan mendewa dewa para tokoh pandawa lima …kita umat islam sudah punya panutan atau suri tauladan yg sangat baik yaitu para nabi Allah..

    • Dewi

      Ini hanya CERITA bung,, cerita.. Jgn sangkut pautkan dengan agama.. Hanya sekedar tau aja tdk masalah.. Kisah raja2 di India pada masa lampau baik itu Pandawa, Jalal ataupun Ashoka yg kemudian menganut Budha, kita hanya tertarik dengan kisahnya bukan berarti mengagungkan orang2 di dalam cerita tersebut.. Di Indonesia ga cuma ada Islam, Kristen Hindu Budha pun ada. Mlah sring dtng ke pura atau masjid tuk foto2,, itu tdk salah asalkan jangan smpai menyembah ditempat suci tersebut yg tdk sesuai dngn agama kita.. Lo ga bisa hidup sendiri tnpa pemeluk agama lain,, contohnya hp ato gadget yg lo pakai skrg belum tentu orng islam yg buat, baju, jam tangan n kendaraan yg lo pake juga. Sebenarnya lo kepo juga dengan kisah ini makanya lo sampai liat blog ini.. Benar kan? Janganlah kau munafik dan fanatic,, itu tidak baik.. Jangan lebay.. Grow up man!!!

    • Kadek

      Memang orang indonesia semuanya islam ya? Islam masuk setelah hindu? Bahkan boleh dikata “menjajah” pribumi indonesia yg sebelumnya hindu. Klo kami bilang cerita nabi2 di islam hanya mitos dan fiktif pasti anda sudah marah2 dan demo bahkan teror membunuh dan menghujat hina kepada kami. Ckckckck.. tidakkah perang2 yg orang2 kalian jg brutal? Klo tdk terima ya tdk usah mmberi tanggapan, sama seperti kami maunya wayang memasukkan tokoh islam ya kami jg tak marah, berarti anda ini punya sifat pemarah dan brutal, sedikit saja orang lain mengungkap kebenaran anda sdh sewot kebakaran jenggot dan ketakutan kehilangan umat. Maaf jika saya tdk suka kalimat anda. Oh ya kata neraka dan surga ada dlm kitab orang hindu. Hanya kami yg bisa menjelaskan seperti apa kata surga dan neraka itu, klo di islam ada ungkapan lain pakailah kata2 itu jgn mencatut2 bahasa sansekerta kami.

  2. Kadek

    Pak slamet dan bu dewi klo agama kalian yg dibilang fiksi kisah nabi2nya mau tidak? Kalau tdk mengerti dg agama org jgn seenaknya mengeluarkan pernyataan.

  3. Kadek

    Maaf saya koreksi, kalimat sy untuk bapak yg “katanya baik” tapi ternyata kata2nya menyiratkan ajakan permusuhan antar umat beragama.

Leave a Reply

Your email address will not be published.