Kemana Komik Keren di Bobo Jadul?

Apa sih beda anak zaman sekarang dengan anak zaman dahulu? wehehehe…mungkin aku bakal dibilang kurang gaul atau kurang inpoh atau kurang mengikuti perkembangan zaman kali ya, kalau melontarkan pertanyaan macam begini? Tapi, beneran, pertanyaan ini sering menggayut di benakku setiap kali membuka majalah Bobo anakku. Kenapa ya, komik-komik keren yang dulu jadi salah satu daya tarik Bobo gak ada lagi sekarang? Dari semua yang pernah tampil di majalah anak-anak sepanjang masa itu, cuma dua yang tetap bertahan, komik Keluarga Bobo dan Cerita Dari Negeri Dongeng yang dua tokoh utamanya adalah Nirmala dan Oki. Komik semacam Juwita dan si Sirik, gak ada lagi. Komik-komik yang melambungkan imajinasi macam Pak Janggut, Deni si Manusia Ikan dan aneka komik lain yang pernah muncul di Bobo dulu hilang. Kenapa?

Suatu kali anakku pernah bertanya padaku, “Bu, tau nggak dengan komik Deni Manusia Ikan?” Karena itu salah satu komik favoritku ya jelas kujawab tau, dengan tambahan bahwa sekarang Bobo gak menerbitkan cerita itu lagi. Trus anakku bilang.

“Iya, tahu. Dulu ada yang pernah nanya soal komik itu di rubrik Apa Kabar Bo, trus dijawab, Bobo dulu pernah menerbitkan lagi komik itu, tapi peminatnya tidak banyak akhirnya tidak diterbitkan lagi.”

Nah lho. Kenapa bisa demikian? Apa yang membedakan daya imajinasi anak sekarang dengan zaman dahulu? Iseng-iseng aku pernah nanya ke orang mengenai ini, dan aku dapat satu jawaban, “Ya, iyalah, anak zaman sekarang gak bisa disamain dengan anak zaman dahulu. Dunianya udah beda. Dulu nggak ada tipi, sekarang ada. Dulu gak ada pilem kartun keren-keren kayak DocMcStuffin atau Jack the Pirate, sekarang ada. Lagian anak sekarang juga udah pinter-pinter.”

Hwalaah, emangnya anak zaman dulu gak pinter apa? Emangnya pembaca Bobo zaman dulu geblek-geblek ya sampai mereka ngefans bener ama komik Pak Janggut. Lagipula, aku dulu gak hidup di zaman batu kok. Aku juga nonton tipi meski nggak ada film kartun semacam DocMcStuffin. Tontonanku dulu termasuk keren untuk ukuran zaman itu, misalnya McGyer atau Voltus Lima, atau Sailor Moon, atau Ksatria Baja Hitam ^_^ atau film-film kartun Jepang.

Nah, untuk ngetes, aku menyuruh anakku baca komik Pak Janggut. Kalau dia nggak suka dengan kisah bapak cebol yang luar biasa cerdik itu, berarti benar tesis temanku bahwa anak sekarang gak suka komik-komik di Bobo jadul karena tingkat kecerdasan mereka udah lebih tinggi -_-  (bener-bener tesis yang aneh bin ajaib bin tak bisa dipertanggungjawabkan bin jawaban asal nyablak). Mau tahu apa hasilnya sodara-sodara? Ternyata anakku sukaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa (*sengaja ‘a’nya dibanyakin biar lebay) sekali dengan komik Pak Janggut itu. Malah dia sampai ngabisin kuota internet aku untuk nyari-nyari komik versi lengkap. Kisah Pak Janggut itu kan terdiri atas banyak judul, dan cerita setiap judul itu panjang-panjang. Episode ‘Perjalanan ke Barat’ misalnya, panjangnya hampir sama dengan panjang tali beruk pemanjat kelapa -_- walhasil di atas tawanya yang penuh bahagia karena sukses mendapatkan cerita lengkap, ada aku yang mimisan ngeliat saldo kuota internetku. :'(

Apakah kemudian anakku puas? Enggak. Dia nyari-nyari komik Deni si Manusia Ikan, lalu setelah mendapatkan, dia mendesak aku untuk cerita komik apalagi yang ada di Bobo jadul supaya bisa dia cari di internet. Mana aku ingat lagi judul-judulnya. Udah puluhan tahun cerita itu mengendap dalam ingatanku. Yang kuingat cuma serpihan-serpihan ceritanya. Dia gak peduli. Meski cuma serpihan aja, tolong ceritakan, tuntutnya. Walau gak bisa baca di inetrnet, mendengarnya dari aku pun cukuplah. Ya, ampun ini anak. Akhirnya terpaksalah aku menggali-gali ingatan. Ada cerita robot yang berwujud manusia yang nama robotnya entah Eli entah Elly atau apa itu (eh, kalau diucapan nyaris gak ada beda ya anta Eli dengan Elly) Ada lagi kisah dua penari balet yang sama bersaing untuk mendapatkan peran utama. Trus ada kisah orang yang tersesat di luar angkasa. Trus trus..trus…widiiih ternyata cukup banyak juga yang teringat olehku.

Inti dari semua ceritaku ini adalah, sepertinya daya ingin tahu anak-anak zaman sekarang dan tingkat ketertarikan mereka terhadap cerita nggak ada beda ya dengan anak-anak zaman dahulu. Trus apa yang membuat komik-komik keren di Bobo jadul kurang menarik minat anak-anak zaman sekarang? apa karena komik itu terlalu anak-anak sementara anak-anak zaman sekarang setiap hari dibombardir tayangan-tayangan yang menghancurkan kekanak-kanakan mereka. Lagu-lagu anak-anak terlalu dewasa, film-filmnya juga, bahkan iklan yang pemerannya anak-anak saja, dibuat dalam logika dewasa (sepasang anak ngemut coklat trus saling tertarik karena mereka ngemut coklat yang sama). Kukira inilah yang membuat komik-komik bagus di Bobo jadul kurang laku bagi pembaca masa kininya. Anak-anak zaman dulu emang nonton tipi juga, tapi tayangannya gak separah sekarang. Selain itu, anak-anak zaman dulu juga lebih banyak main, karena jam sekolah mereka lebih pendek. Dulu, jadwal belajarku cuma sampai jam satu siang (kelas 4,5,6). Pulang sekolah aku bisa main ama teman-teman sekomplekku. Waktu mainnya juga panjang, dari pukul dua siang sampai magrib. Aku main karet, main patuk lele, menjelajah bukit, dll. Pokoknya duniaku dulu adalah dunianya anak-anak petualang. Sementara anak-anak sekarang waktu mainnya lebih sedikit. Di sekolah bisa sampai pukul tiga atau empat, pas nyampe rumah udah capek, maunya istirahat di depan TV sambil nonton film-film di Disney Channel. Kalaupun main ke luar, waktunya lebih pendek, paling dari pukul lima sampai magrib aja. Apa yang bisa didapat anak kalau begitu? Wajar aja kalau mereka tidak lagi menganak-anak. Wong mereka secara tanpa sadar dianggap orang dewasa dalam tubuh anak kecil kok. Makanya dikasi beban ini itu. Kebutuhan utama mereka: bermain, berpetualangan dan berimajinas, dihancurkan oleh orang dewasa.

 

Hwadoh, jika memang demikian adanya, sungguh kasihan anak-anak sekarang. Aku dulu pernah nulis yang kayak gini di blogku yang satu lagi (ntar aku pindahin kemari aja catatan tentang itu). Isi tulisanku itu kira-kira begini, anak terlahir dengan sepasang sayap yang bisa mereka gunakan untuk terbang, tapi orang-orang dewasa kemudian memotong sayap itu dan membuat anak-anak jadi manusia dewasa bertubuh kecil dengan memberikan beban-beban ini itu. Tak ada pilihan bagi anak-anak selain mengikuti kata-kata orang dewasa, sebab, di tengah masyarakat, merekalah sesungguhnya insan terlemah yang tak mampu melindungi diri sendiri. (Kok jadi ngelantur ke sini aku ngomongnya).

INTI DARI CERITAKU INI ADALAH (*woi…caps lock woi!) aku kecewa majalah Bobo sekarang nggak nampilin komik-komik cerdas kayak dulu. Manfaat kehadiran komik-komik semacam itu sangat terasa bagiku sekarang ini. Bila aku merasa mandeg dengan tulisanku, aku tinggal baca buku, lalu menggali-gali ingatan terhadap masa lalu. Aku yakin, karya-karyaku yang sekarang ini merupakan hasil cicilan imajinasi yang ditabungkan Bobo untukku sedari aku kecil. Coba kalau aku nggak baca cerita keren-keren semacam Pak Janggut, kurasa imajinasiku nggak beranjak kemana-mana. Nggak terasah.

Aku kangen Pak Janggut serta semua komik keren yang dulu ada di Bobo jadul. Bersama mereka aku menikmati indahnya masa kecilku. Mereka melayangkan aku ke dunia imajinasi. Membawa aku menikmati segala hal yang terbaik di dunia ini, tanpa mesti takut melanggar peraturan orang dewasa. Komik-komik itu adalah harta karunku. Hadir di salah satu masa-masa terbaik hidupku.

Alangkah menyenangkannya jika Bobo memuat kembali cerita-cerita tersebut, atau kalaupun tidak, Bobo mau berbaik hati membukukannya.

Share Button

2 Replies to “Kemana Komik Keren di Bobo Jadul?”

    • admin

      Hmm, mungkin ya. Saya cuma ingat bagian si tokoh utamanya makan kue bulat-bulat kayak onde-onde ^_^
      (makanan aja yang dipikirin >_<)

Leave a Reply

Your email address will not be published.