Menjadikan Cinta Sebagai Bumbu Cerita

Orang bilang, cerita tanpa bumbu cinta, seperti sayur tanpa garam. Fungsi kisah cinta serupa garam, berfungsi sebagai penarik rasa. Meski sebenarnya ini tak terlalu betul ya, sebab banyak juga kubaca novel-novel yang nggak ada kisah cinta di dalamnya, dan tetap menarik. Contohnya novel Perfume, Sepetak Rumah Untuk Tuan Biswas dan The Kite Runner. Menarik tidaknya sebuah cerita tidak tergantung pada ada tidaknya kisah cinta, tapi tergantung bagaimana keterampilan penulisnya mengolah kata, imajinasi dan bentuk ceritanya. Jika ingin menjadikan cinta sebagai bumbu cerita, ada hal-hal yang patut diperhatikan.

Pertama, kisah cinta tidak merampas sebagian besar plot cerita. Mari kita lihat trilogi The Hunger Games. Kisah cinta antara Katniss Everdeen dan Peeta Mellark justru hanya sekadar sempalan saja, meski begitu, tetap bikin penasaran. Kerangka besar The Hunger Games adalah perlawanan terhadap otoritarianisme penguasa. Kisah cinta dihadirkan hanya dalam bentuk isyarat, baik itu perbuatan maupun perasaan. Tidak ada plot tersendiri untuk menjelaskan kisah cinta ini.

Kedua, kisah cinta yang dihadirkan harus sejalan dengan kerangka besar cerita. Kerangka cerita itu ibarat sungai besar, dimana seluruh arusnya mengalir menuju laut. Jadi, kisah cinta itupun harus menjadi arus kecil yang ikut dengan arus-arus lainnya ke laut.

Sebagai contoh, kamu ingin menulis kisah detektif yang memecahkan kasus pembunuhan, lalu kamu menyelipkan kisah cinta sang detektif dengan anak korban sebagai bumbu. Nah, kisah cinta ini hadir sebagai sempalan cerita yang tidak merampas plot. Kamu nggak perlu pula membuat kisah tersendiri mengenai mereka. Kan, cinta cuma dijadikan sebagai bumbu. Hadirkan cinta dalam bentuk isyarat atau perbuatan-perbuatan kecil antara sang detektif dengan anak korban. Tak perlu pula bikin bab-bab khusus untuk cinta mereka. Ini akan membuat cerita tidak fokus.

Ketiga, bumbu cinta ini dihadirkan dalam tubuh bab yang sudah ada. Kisah cinta mereka berdua tidak menjadi konflik lain dalam cerita. Ingat ya kita tidak hendak bikin novel cinta. Jika mau bikin novel kriminal  berbasis cinta, maka kisah cinta hanya sebagai latar cerita, bukan batang tubuhnya.

Nih, aku kasi contoh cara memasukkan isyarat cinta ini ke dalam tubuh cerita.

**

Pay memaksa dirinya masuk ke dalam jejeran baju-baju yang digantung dalam lemari. Di sebelahnya wajah Sofia yang pucat tertekuk di atas lututnya yang gemetar. Pay menutup pintu lemari dan lampu lemari otomatis yang selalu nyala setiap pintu dibuka, langsung memudar. Wajah Sofia hilang dalam kegelapan, meninggalkan jejak nafasnya yang ketakutan. Di luar, lamat-lamat mereka dengar suara langkah kaki. Pasti lelaki bersenjata itu. Pay tak bisa melihat jelas wajahnya yang tersembunyi dalam balutan rapat stocking. Pay mencari tangan gadis itu dalam kegelapan.

“Tenang dan berdoa,” ucapnya.

Ia sudah berkali-kali mengalami situasi seperti ini, dan selalu tidak menyenangkan bila itu terjadi bersama seorang perempuan. Pay membenci kelemahan mereka, dan lebih benci kelemahan dirinya sendiri yang tidak mampu melihat ketakutan di wajah mereka.

Tak ada jawaban dari Sofia. Pay membayangkan Sofia memnyembunyikan wajahnya yang seperti purnama itu ke balik lutut. Wajah Sofia sedikit mirip dengan ayahnya, Dhani Prasetyo. Mungkin, kalau Dhani Prasetyo masih hidup, Pay lebih bisa melihat kemiripan itu. Wajah Dhani sudah terlalu pucat saat Pay lihat di ranjang besi mayat rumah sakit. Namun ada satu hal pada wajah Dhani yang mudah Pay temukan di wajah Sofia. Alis dan hidungnya. Alis mereka berdua sama hitam dan tebal, dan hidung mereka meruncing dalam garis yang sama. Dhani pasti lelaki yang sangat tampan ketika ia hidup, sebagaimana putrinya, adalah gadis yang sangat cantik.

Di luar terdengar derit pintu dibuka. Suara langkah kaki yang lain muncul. Dari dalam lemari yang tertutup rapat ini, Pay tak mampu melihat siapa yang datang.

“Mana dia?” terdengar dingin suara di luar.

**

Nah, itu salah satu contohnya ya. Cinta cukup diberikan dalam bentuk isyarat-isyarat saja, baik berupa gambaran perasaan atau kekaguman. Tak perlu diberi plot tersendiri. Kan cinta cuma sebagai bumbu di sini.

Share Button

Leave a Reply

Your email address will not be published.