Sudahkah Kita Menjadi Alat Propaganda Hari Ini?

Seingat saya, cuma dua kali saya bikin tulisan mengenai Jokowi. Pertama, tentang kampanye hitam yang saya analisis melalui teori framing, dan kedua tentang tol laut, salah satu program Jokowi kelak bila ia jadi presiden. Dalam tulisan tentang tol laut saya memberi contoh konsep tol laut milik Amerika Serikat yang lebih dikenal dengan sebutan marine highway. Tulisan terakhir ini dibuat setelah saya membaca banyak sekali cemoohan warga medsos tentang konsep ini. Sebagian pencemooh ini mengira bahwa tol laut itu mirip dengan Jembatan Suramadu. Dengan maksud berbagi pengetahuan, saya mengupas tentang tol laut tersebut dan dipublish di beberapa akun saya, seperti di Facebook, Twitter dan Kompasiana. 

Ternyata, dua tulisan yang bebas dari menjelek-jelekkan capres lawan Pak Jokowi itu cukup sukses membuat beberapa orang meng-unfriend saya. Padahal tulisan tersebut sama sekali tidak memuji Pak Jokowi, pun tidak menyinggung Pak Prabowo. Dalam tulisan tol laut, saya malah menyampaikan, bahwa siapapun presiden Indonesia kelak, ia harus memikirkan tol laut ini Sebab, sebagai negara kepulauan, memiliki tol laut hukumnya bisa dibilang fardhu ain. Entah saya yang salah menilai tulisan sendiri, atau memang suasana lagi sangat sensitif, maka tulisan apapun yang mengupas salah satu capres dan program-programnya, akan direspon negatif bila tidak sesuai dengan visi sang pembaca. Meskipun tulisan tersebut jauh dari provokasi. Maka di-unfriendlah saya.

Dalam masa kampanye ini saya cenderung menghindari menulis status tentang para kandidat. Bukan apa-apa, saya hanya tak mau terjebak dalam perdebatan yang tiada ujungnya. Dalam An Nahl; 125 jelas ada aturan tentang perdebatan. Kita dianjurkan berdebat secara baik, namun bila hanya akan jadi debat kusir, lebih baik tinggalkan (menurut tafsiran ayat tersebut). Nah, dalam suasana kampanye seperti sekarang, dimana rata-rata orang memilih mempertahankan pendapatnya masing-masing, memantik api perdebatan bukan sesuatu yang saya inginkan. Lebih baik tak menulis apa-apa.

Orang-orang Kalah

Mari kita merenung, apa hal baik yang kita dapat dengan membuat status dan komen yang memprovokasi? Tidak ada. Hubungan silaturahim rusak, lahir debat kusir tiada ujung, hati dipenuhi emosi. Omong kosong itu yang bilang nulis status provokasi karena ingin menegakkan kebenaran. Kebenaran macam apa yang ditegakkan dengan menulis fitnah dan menyuruh orang membaca berita-berita asbun yang tak jelas pertanggungjawabannya? Ini semua hanya politik. Isu-isu yang kita konsumsi setiap hari adalah peluru-peluru politik pihak-pihak yang bertarung. Dan di belakang itu semua ada pihak-pihak yang menarik keuntungan dari situasi panas yang ada di lapangan. Pihak-pihak tak bertanggungjawab ini menikmati aksi adu domba tersebut sambil–mungkin–tertawa terbahak-bahak menyaksikan ketololan kita.

Tanpa disadari, sebagian kita sebenarnya sudah merelakan diri menjadi ujung tombak propaganda. Sebagian kita begitu aktif menulis status dan komen yang sangat provokatif dan menyebarkan berita-berita asbun dengan dalih menegakkan kebenaran. Bahkan para elit politik negeri ini tak ketinggalan meramaikan ‘pesta propaganda’ tersebut dengan berkata seolah-olah pilpres ini adalah perang suci yang harus dimenangkan. Apakah pilpres yang di dalamnya bertarung para koruptor dan cukong-cukong ekonomi negeri ini adalah perang suci? Mari buka mata dan hati kita. Orang-orang muslim, baik dan berintegritas ada di kedua kubu. Ada Pak Mahfud MD, Man of the Year (versi Majalah Tempo tahun berapa, saya lupa) yang berani menegakkan hukum di kubu Pak Prabowo. Ada Pak Anies Baswedan yang bertahun-tahun bekerja keras membangun program Indonesia Mengajar bersama ribuan relawan Indonesia di kubu Pak Jokowi. Berkat program yang digagas beliau, sekolah-sekolah di pedalaman memiliki kesempatan untuk diajar putra-putri bangsa terbaik yang berdedikasi membangun negeri. Di kedua kubu, juga terserak orang-orang yang pernah tersangkut masalah hukum. Jadi, tidak ada kubu yang 100% baik, dan 100% buruk. Tidak ada capres yang 100% hebat, atau 100% tidak hebat.  Semua kubu ada plus minusnya. Jadi, perang suci apa yang dimaksud? Jangan terjebak dalam ilusi. Jangan menjadi orang yang delusi.

Mari kita berpikir jernih. Mari buka mata dan hati. Ini pilpres, bukan perang agama. Ini hanya politik dan kita semua dipaksa untuk menjadi alat propaganda. Dimanakah kita akan berdiri di situasi yang keruh dan panas ini? Berdirilah di sisi Alquran. Di situ kita diajarkan untuk menilai dengan benar. Ada perintah yang tegas di situ, bahwa kita harus cek dan ricek dulu semua berita yang sampai, sebelum menyebarkannya. Kita diperintah untuk berbuat adil, karena adil lebih dekat pada takwa. kita diperintah untuk membenci sekadarnya, karena bisa jadi yang kita benci itu lebih baik dari diri kita, kitalah yang tidak mengetahuinya. Janganlah kebencian kita pada suatu kaum menghalangi kita untuk berlaku adil, objektif, fair. Rasulullah pun telah mengingatkan, muslim yang baik adalah yang orang lain selamat dari lisan dan tangannya.

Akhir kata, saya hanya ingin mengingatkan. Janganlah kita menjadi orang kalah pasca pilpres ini. Yakni orang-orang yang hubungan silaturahimnya rusak. Jangan mengklaim kebenaran, merasa bahwa hanya kita dan golongan kita yang punya pengetahuan sempurna tentang para kandidat, sebab seperti yang sudah Allah beritahu kepada kita semua, bahwa tidaklah Ia berikan pengetahuan kepada kita melainkan sedikit saja.

Mengapa harus berbangga dengan pengetahuan yang sedikit?

Wassalam

 

 

Share Button

Leave a Reply

Your email address will not be published.