Tentang Paragraf dan Hal-hal yang Sebenarnya Tak Perlu Terlalu Dirisaukan

Oke, saya akan menceritakan sedikit tentang paragraf. Sebenarnya, terus-terang saya tidak terlalu memikirkan teori membuat paragraf. Bahkan jujur saja, pada awalnya saya bahkan tidak tahu bahwa membuat paragraf pun ada teorinya. Hanya saja kemudian, seiring perjalanan waktu, saya mulai menyadari bahwa sebuah paragraf sebenarnya memiliki teorinya sendiri. Kesadaran ini datang setelah saya membaca tulisan sendiri dan tulisan beberapa orang yang meminta saran-saran terkait ceritanya. Saya beberapa kali menemukan paragraf-paragraf yang menganggu mata.  Seharusnya bagian yang disebut paragraf itu, belum pantas menjadi paragraf, namun karena keteledoran, sang penulis memilih untuk menjadikannya sebuah paragraf.

Bingung? Well, sekali lagi saya bilang, hal-hal seperti ini sebenarnya tidak terlalu perlu dirisaukan karena saya percaya, seiring kerapnya seseorang menulis, ia akan paham kapan sebuah ide menjadi pragraf dan kapan yang tidak. Teori tentang paragraf ini sebenarnya hanya ilmu turunan yang bisa didapat secara otodidak. Jadi, menurut saya, kalau seseorang masih baru dalam tahap mulai belajar menulis, sebaiknya tak usah terlalu memikirkan teori-teori turunan seperti ini. Fokus saja melatih imajinasi dan banyak-banyaklah membaca.  Itu saja.

Baiklah, kita kembali ke topik.

Sebuah cerita sebenarnya adalah sebuah ide besar, sementara paragraf adalah ide kecil. Rangkaian ide kecil ini membentuk cerita. Itu artinya, ada satu ide dalam satu paragraf. Jika sebuah ide kecil sudah selesai, maka itu artinya, seorang penulis siap untuk masuk ke paragraf baru.

Ada beberapa tanda yang menunjukkan bahwa kita siap untuk lanjut ke paragraf baru.

1. Karakter baru muncul.

Misal,

Boy melempar buku itu ke meja. Brengsek! makinya dalam hati. Gara-gara buku sialan itu ia kehilangan kesempatan mengikuti wawancara Nature.

Mia memandanginya dari ambang pintu. <—- muncul karakter baru.

2. Ada peristiwa baru

Misal,

Denting nyaring bel terdengar lagi. Baldini menajamkan telinga ke arah suara di lantai bawah. Tampaknya Chenier sudah pulang dan pelayan wanitanya juga enggan menjawab membukakan pintu. Jadilah Baldini turun sendiri

Baldini melepas grendel dan membuka pintu <—- peristiwa baru

(Perfume, Patrick Suskind)

3. Muncul ide baru

Misal,

…Baru pada saat menjelang Revolusi Prancis, setelah beberapa bangunan makam runtuh dan baunya sedemikian tak tertahankan sampai diprotes masyarakat sekitar, tempat itu ditutup dan terlantar. Jutaan tulang dan tengkorak diserok begitu saja ke dalam liang kubur Montmartre. Di tempat ini pula sebuah pasar makanan kemudian didirikan.

Alkisah, di tempat terbusuk seantero kerajaan inilah Jean-Baptiste Grenouille lahir pada tanggal 17 Juli 1738. <— ide baru

(Perfume, Patrick Suskind)

4. Ada perubahan latar (baik latar tempat atau waktu)

Misal,

Ia tahu sudah terlambat baginya untuk menceritakan semua pada Desi. Jadi, yang bisa ia lakukan adalah mengemasi semua barang secepatnya, lalu bergegas meninggalkan tempat itu dengan taksi. 

Keesokan paginya, ketika hujan pertama di bulan Juli mulai turun ke bumi, ia turun ke jalan untuk mendengarkan pembicaraan orang-orang. Ia penasaran apakah peristiwa kemarin sudah diketahui publik atau belum. <—- latar berubah.

5. Tokoh lain berbicara.

Misal,

“Tidak,” kataku sambil menatap Jean. Lingkaran hitam di bawah matanya tampak lebih jelas dari terakhir aku melihatnya, “kau tahu bahwa itu tidak mungkin.”

“Jadi ini semua sudah berakhir,” suara Jean lebih menyerupai erangan. <—- kalimat dari tokoh yang berbeda.

 

Nah, itu dia sedikit teori tentang paragraf. Mengulangi kata-kataku sebelumnya, pengetahuan semacam ini sebenarnya bisa ‘built in’ dalam diri seorang penulis secara otodidak, selama penulis tersebut mau terus menerus melatih diri untuk menulis tanpa pernah bosan.

Selamat menulis 🙂

Share Button

Leave a Reply

Your email address will not be published.