Penjara Pikiran dalam Prisoners: Review Film

unduhan

Terus terang aku mengambil film ini dari rak karena ada nama Jake Gyllenhaal dan Hugh Jackman saja. Sepanjang riwayat nonton filmku, belum pernah aku menemukan film-film mereka berdua yang jelek banget. Rata-rata film Gyllenhaal dan Jackman punya rating 3,5 dari lima. Itu artinya, film-film yang mereka bintangi termasuk kategori cukup memuaskan.

Pas baca sinopsinya rada ngeri juga sih mau nonton, soalnya kisahnya tentang penculikan anak. Aku agak trauma nonton film yang ada penderitaan anak-anaknya. Gak kuat gitu. Aku dulu pernah kena  insomnia gara-gara lihat kisah macam begitu, dan ini membuat aku say bye bye aja deh ke film macam begini.

Tapi…sekali lagi sodara-sodara, karena di situ ada Gyllenhaal dan Jackman, maka kuberanikan diri juga nonton film ini (lebay nggak sih?). Untuk menghilangkan cemas aku nontonnya sambil masak, jadi kalau ada adegan mengenaskan aku bisa pura-pura benerin kuali gitu >_<. Sebenarnya gak enak nonton sambil bersibuk ria, tapi kan aku ini perempuan multitasking, sambil nonton bisa masak, nyetrika, nyuci pakaian dan kalau perlu nyetir sekalian >_<

Maka akupun mulai menonton film Prisoner yang disutradari Villeneuve ini.

Ternyata oh ternyata sodara-sodara, aku gak bisa berhenti melototin film ini dari awal sampai akhir (untung masakanku gak hangus–akhirnya rada nyesel juga kok nonton sambil masak). Film ini betul-betul luar biasa. Sangat penuh dan dalam. Mengguncang dan menekan psikis serta menyisakan banyak perenungan. Bener-bener layak masuk nominasi Oscar! Secara sinematografi juga sangat memuaskan. Skenarionya rapat dan padat. Two thumbs up deh. Layak dikasi empat bintang!

Prisoner sendiri bercerita mengenai Keller (Jackman) yang kehilangan putrinya yang masih berusia enam tahun. Pada saat merayakan hari thanksgiving di rumah temannya, Anna, putri Keller minta izin pulang sebentar untuk mengambil pluitnya. Kebetulan rumahnya gak jauh dari rumah tempat perayaan thanksgiving itu. Anna membawa serta temannya, Joy, putri pemilik rumah. Setelah berjam-jam mereka berdua tidak kembali hingga akhirnya dilakukan pencarian ke seluruh komplek perumahan tersebut. Karena tak ketemu juga akhirnya mereka minta bantuan polisi untuk memperbesar area pencarian.

Dari hasil penyelidikan, diketahui beberapa jam sebelum hilang, Anna dan Joy bermain di dekat sebuah van yang diparkir tak jauh dari rumah mereka. Setelah kedua gadis cilik itu menghilang, van itupun menghilang. Polisi mencari si pemilik van dan ketemu. Detektif Loki (Gyllenhaal) ditugaskan untuk melakukan investigasi terhadap kasus tersebut.

Apa daya, polisi tak berhasil menemukan petunjuk apapun dari si pemilik van. Ia dianggap tidak bersalah, dan dilepaskan. Keller yang yakin lelaki pemilik van itu punya hubungan dengan hilangnya putrinya, lalu menculi si pemilik van, membawanya ke apartemen tuanya yang sudah lama tak ditinggali, dan menginterogasi (dengan penyiksaan) di situ. Namun sampai berhari-hari, tetap tak ada petunjuk. Si pemilik van itu sekarat, sementara tidak diketahui benarkah dia bersalah atau tidak.

Detektif Loki terus berupaya mencari petunjuk keberadaan dua gadis cilik tersebut. Usahanya membawa Loki ke orangtua angkat si pemilik van. Dari sekian wawancara Loki menyimpulkan bahwa tak ada hubungan apapun antara si pemilik van dengan keberadaan anak yang hilang. Meski begitu tetap ada sesuatu yang mengganjal di benaknya.

Ending film ini sungguh mengejutkan dan sedikit bikin syok sebenarnya. Pertarungan-pertarungan pikiran dan psikologis kentara sekali sepanjang film ini. Aku sendiri merasa tertekan sepanjang nonton film. Tertekan dalam pengertian betapa kuatnya cerita itu menjerat leherku hingga aku tak bisa beranjak darinya. Film ini juga memberi sedikit perenungan bagi kita bagaimana sebuah peristiwa bisa meninggalkan trauma jiwa yang tak disembuhkan, hingga membuat si penderita membawa orang lain pula untuk mengalami trauma itu. Menyedihkan.

Setelah nonton fim ini aku sempat bertanya-tanya apa sebenarnya yang dimaksud dengan prisoners (para tahanan) di judul film. Bila kata prisoners itu ditujukan pada pemilik van yang disandera Keller, rasanya tak terlalu tepat. Soalnya kan judul film mengacu pada beberapa orang ya. Akhirnya kusimpulkan, kata prisoners ini sebenarnya sebuah metafora bahwa para pelaku sebenarnya adalah tahanan bagi trauma-trauma mereka sendiri. Keller adalah tahanan bagi pikirannya yang kalut, sehingga untuk membebaskan dirinya dari itu, ia mau melakukan apa saja, termasuk menyiksa si pemilik van. Loki adalah tahanan bagi pekerjaannya yang membuat ia tertekan. Pemilik van adalah tahanan dari  trauma masa lalunya. Sementara orangtua angkat pemilik van juga adalah tahanan bagi kenangannya. Makna prisoner sangat filosofis. Ini mengingatkanku pada film Crash yang dibintangi Matt Dillon dan Sandra Bullock. Di film itu, setiap orang mengalami crash pada jiwanya terkait pandangan mereka terhadap keberadaan etnis lain. Crash juga sangat menekan pikiran dan menggugah. Aku juga memberinya bintang empat.

Well sodara-sodara, film ini sangat recommended. Kuat dan padat. Masukkanlah ke dalam daftar tonton akhir pekan ini. Selamat menikmati  🙂

 

Share Button

Leave a Reply

Your email address will not be published.