Kupu-Kupu Fort De Kock: Suara Regionalisme

Donny Syofyan[1]

 

Turner (1920) mengatakan bahwa ada dua istilah yang sangat penting pada waktu berbicara mengenai regionalisme yaitu istilah region (wilayah) dan section (kelompok atau golongan). Pengertian region menunjuk pada area geografis dan batasan-batasannya, sedangkan section mengacu pada area yang mempunyai kesamaan politik,  kultur,  dan intelektual. Demikian pula, pengertian region merupakan bagian dari keseluruhan, sedangkan section cenderung mengacu pada perbedaan. 

Dari sudut literatur dan kultur, Rubin (1998:11) berpendapat bahwa konsep region berdasarkan dialek atau ujaran yang khas dimiliki oleh suatu  daerah atau kelompok. Istilah southern dan midwestern, misalnya, dikaitkan dengan orang-orang yang berasal dari suatu daerah.  Penulis regional selalu sadar akan  keberadaan mereka di dalam atau di luar dialektika.  Kesadaran tersebut terlihat dalam penggunaan kata ‘kami’ versus ‘mereka’, dan pada saat yang sama kata kami sama  dengan mereka, sedangkan  Tate (1968:535-546) mengatakan bahwa sastra regional  lebih berfokus pada section (bagian) dengan pendekatan-pendekatan universal.  Dengan kata lain,  masalah bersifat  kontekstual   dengan  pemecahan  secara universal. Donald Davidson dalam Regionalism and Nationalism menggarisbawahi pendapat Tate. Ia mengatakan bahwa berbicara tentang region berarti berbicara tentang nation. Keduanya tidak  dapat dipisahkan.

We cannot define regionalism unless at the same time we define nationalism. The two are supplementary aspects of the same thing. Regionalism is a name for a condition under which the national American literature  exists as a literature; that is, its constant tendency to decentralize rather than to centralize; or to correct overcentralization by conscious decentralization,  or it describes the conditions under which it is possible for literature to be a normal artistic outgrowth of the life of a region  (Davidson, 1957:277)

 

(Kita tidak dapat mendefinisikan istilah regionalisme jika tidak sekaligus mendefinisikan nasionalisme. Keduanya merupakan aspek yang saling melengkapi dari suatu hal yang sama. Regionalisme merupakan julukan bagi suatu kondisi yang didalamnya terdapat kesusasteraan Amerika nasional sebagai sebuah kesusasteraan; yaitu dengan kecenderungannya untuk lebih berdesentralisasi, bukan bersentralisasi; atau untuk mengoreksi sentralisasi yang berlebihan dengan desentralisasi yang penuh kesadaran. Atau menggambarkan kondisi-kondisi yang memberikan peluang tumbuhnya kesusasteraan, secara wajar, sebagai bentuk artistik dari kehidupan suatu daerah).

 

Novel Kupu-Kupu Fort De Kock (KKFdK), karya Maya Lestari GF, bisa dikategorikan sebagai menyuarakan regionalisme kesusastraan.  Sejumlah catatan merelasikan gagasan ini.

Pertama, novel ini menegaskan fiksi warna lokal. Fiksi warna lokal menggali dan meninjau kembali nilai-nilai masa lalu  yang mungkin berguna untuk kehidupan masa sekarang. Fiksi ini  disebut sebagai  elegi  budaya  (Campbell, 1997:8). Lewat KKFdK, penulis mengabarkan pembacanya tentang filosofi Minangkabau yang terpatri dalam wujud ragam persilatan yang dijumpai di Ranah Minang. Pembaca akan mengenal istilah-istilah semisal Silek Kumango, Silek Harimau, Silek Sitalarak, Silek Lintau lain-lain. Sebagai representasi elegi budaya, ragam silek di Minangkabau bukanlah bertujuan untuk memperlihatkan kelebihan dan kepongahan puak tertentu melainkan sebagai alat (wasilah) untuk menuju kebenaran.

Eksposur filosofi dan terminologis ini oleh penulis sejatinya merupakan ikhtiar untuk mempersatukan pembaca dengan cerita-cerita dan  tradisi-tradisi masa lalu yang kemudian diteruskan kepada generasi berikutnya. Kisah-kisah semisal Energi Putih dan Energi Kemusykilan memperlihatkan bukan saja hikmah intrinsik para pesilat. Tak kalah krusialnya adalah bahwa dua cerita ini mengajarkan untuk menghadapi era yang tidak menentu diperlukan kombinasi nilai-nilai  kelestarian,  kebersamaan,  penghargaan pada masa lalu, ketabahan dan kesabaran  yang merupakan  nilai-nilai  masa lalu.

Kedua,  novel ini mewakili semangat New Historicism. Pendekatan New Historicism tidak memisahkan karya sastra dengan pengarangnya, juga tidak memisahkan karya sastra itu dengan konteks zamannya. Bagi sejarawan yang beraliran new cultural historian, yang tidak lagi memisahkan fakta dan fiksi, sangat menganggap penting setiap karya sastra yang lahir pada suatu zaman. Dalam novel ini tren demikian dijumpai amat tegas pelbagai faktualitas alih-alih fiksionalitas, semisal Jl. Damar 1, Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Bairurahmah Padang, Damar Plaza, Gunung Pangilun, Bukittinggi, bus Tranek, Jam Gadang, Lubang Jepang, benteng Fort de Kock, Balai Sidang Bung Hatta, Hotel The Hills, taman Bung Hatta, bus RNS, bus ANS, Siteba, Silaiang, dan sebagainya.

Dengan pendekatan ini, saya menduga penulis hendak mengutarakan bahwa kesamaan tempat, lokasi atau wilayah faktual-fiksional tersebut hakikatnya merupakan upayanya untuk memediasi fiksi yang bersifat artistik dan fakta yang objektif. Fiksi didefinisikan sebagai lensa untuk menjadikan data-data faktual lebih fokus. Mediasi berbeda dengan refleksi. Bila mediasi berperan membentuk, makan refleksi fungsional untuk mencerminkan pemahaman zaman terhadap pengalaman potensi kemanusiaan. Perlu dikasih stabilo bahwa kehadiran nama-nama tempat atau lokasi faktual di novel KKFdK hanya berada pada lingkup presensi, bukan eksistensi. Di sini penulis tidak ikut mengeinterpretasikan, tetapi hanya memberikan gambaran seperti apa adanya. Gaya bahasa yang dipilih merupakan ungkapan semua pengamatan yang dilakukannya. Dalam konteks regionalisme kesusastraan, pendekatan seperti ini mengantarkan penulis berperan mencoba menjadi sejarawan, mencatat segala sesuatu bukan secara mekanis dan sederhana.

Ketiga, sungguhpun novel ini berisikan jalan kisah persilatan, KKFdK bisa pula disebut humor frontier yang biasanya  menggunakan dialek yang ekstensif. Pembaca terbiasa dengan konvensi dialek sketsa humor frontir. Tradisi humor frontir membentuk  dua macam  fiksi warna lokal yaitu anekdot dan sketsa karakter (Dike, 1952:86). Dalam novel KKFdK ini, sketsa karakter lebih dominan. Saya mendapati bahwa penulis lebih menekankan tokoh daripada plot sebagai prinsip penulisan fiksinya. Menikmati KKFdK, pembaca lebih mampu menyimpan dan mengidentifikasi nama-nama tokoh-tokoh rekaan ala Minang dalam repertoire mereka—Limpapeh, Dama Kuniang, Angin Batu Merah, Singo Balang, dll—ketimbang konflik dalam komponen-komponen yang membentuk alur cerita. Pilihan untuk memberikan judul novel sebagai Kupu-Kup Fort De Kock juga menyiratkan hal demikian: keinginan untuk memberikan fokus pada tokoh. Bentuk fiksi yang mengambil energi dari tokohnya menciptakan sebuah pembuka bagi penceritaannya sehingga alur cerita kurang mendapatkan perhatian.

Sungguhpun isu ketokohan sangat sentral dalam novel ini, problem persilatan tidak melulu menjadi fokus dalam novel ini. Pembaca bakal menjumpai hingar bingar kehidupan masyarakat modern di Minangkabau yang dililiti oleh penyakit-penyakit sosial budaya kontemporer, semisal obat-obatan terlarang. Takluknya Singo Balang, sebagai bos mafia sindikat narkoba dan pembunuh bayaran yang memiliki ilmu hitam, oleh lima guru silat di tanah Minang ternyata tidak mengkhatamkan konflik lantaran Singo Balang ternyata mempunyai seorang anak yang berupaya keras untuk membalas dendam atas kematian bapaknya. Ketegangan kontekstual ini dalam dimensi ruang dan waktu perlu dipahami secara komprehensif dalam pembacaannya, bukan lagi dibaca terpisah secara diferensial. Ini kian relevan mengingat novel KKFdK relatif sukar dipahami bila tidak dibaca secara tuntas atau hanya dibaca secara terpisah-pisah.

Keempat, Maya Lestari GF sebagai pengarang bergerak untuk membangun suatu tradisi yang dinamakan the truth without the stretchers (kebenaran tanpa pembawa) yang merupakan  unsur  fiksi warna lokal  yang  ditulis oleh  penulis-penulis perempuan. Ada kecenderungan selama ini bahwa status regionalisme atau warna lokal  dianggap lebih rendah daripada realisme. Penulis perempuan dimasukkan ke dalam kelompok regionalisme. Alam konteks ini, pengarang mencoba mendekonstruksi tren dan duduk tegak persoalan demikian dengan membahas terma-terma persilatan yang selama ini seolah-olah menjadi domainnya pengarang laki-laki.

Pengarang mencoba memfokuskan tokoh untuk melihat perkembangan dan penemuan jati diri, khususnya dalam hubungannya dengan rumah, daerah, dan masyarakat. Sunggupuh tokoh-tokoh dalam novel ini bukanlah yatim piatu atau perempuan yang dikaitkan dengan perempuan lain, namun pengarang membangun hubungan antartokoh berupa narasi dalam narasi. Konflik yang berlangsung antar karakter dalam novel ini tidak memblokir upaya untuk bergerak menuju pusat pencarian identitas diri.


[1] Dosen Sastra Inggris Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas dan Kolumnis/Kontributor Harian The Jakarta Post

Makalah disampaikan pada ‘Pekan Kritik Sastra’ 21-22 November 2013 yang diselenggarakan oleh HMJ Sastra Indonesia,

   Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas

 

Share Button

Leave a Reply

Your email address will not be published.