Kenapa Sih Lelaki Nggak Bisa Multitasking Sementara Perempuan Nggak Bisa Berhenti Ngomong?

Maafkanlah untuk judul yang panjangnya nggak ketulungan ini 😀 Judul ini dengan semena-mena kuambil dari judul buku Allan dan Barbara Pease berjudul Why Men Can Only Do One Thing at One Time and Women Can’t Stop Talking. Duo Pease ini sangat terkenal berkat buku mereka sebelumnya Why Men Don’t Listen and Women Can’t Read Maps yang terjual sampai 13 juta eksemplar! Yak, sodara-sodara, angka sebesar itu emang buku semua. Menandakan bahwa banyak sekali orang yang penasaran dengan lawan jenisnya.

Nah buku yang akan kita bincangkan ini juga gak jauh dari topik perempuan dan lelaki. Buku ini mengungkap bagaimana cara otak lelaki dan perempuan bekerja. Dengan memahami ini, diharapkan timbul pengertian antara kedua makhluk, sehingga potensi salah paham bisa diminimalkan.

Okeh, tanpa berpanjang-panjang lagi yuk kita intip sedikit buku kecil yang bermanfaat ini.

1. Spesies sama dunia berbeda.

Yak ini dia. Laki-laki dan perempuan ( berasal dari spesies yang sama, namun dunia mereka jauh berbeda. Perempuan secara alami adalah seorang penyatu keluarga. Mereka mengandung, melahirkan anak dan secara naluriah jauh lebih dekat dengan anak-anaknya. Ibu adalah simpul keluarga.    Sementara lelaki, secara alamiah adalah seorang pencari makanan. Konon naluri ini dipupuk sejak awal kehadiran manusia di bumi. Perempuan, karena mengandung, melahirkan dan mengasuh anak, dipandang tidak mungkin pergi ke luar dari tempat tinggalnya untuk mencari makanan, maka lelakilah yang melakukannya.

2. Perempuan intuitif, lelaki tidak bisa mendeteksi emosi

Sebagai makhluk yang mengandung, melahirkan dan membesarkan anak, perempuan memiliki keterampilan sensoris yang lebih halus, dan punya kemampuan menangkap perubahan suasanan hati dan sikap terhalus dari orang lain yang bisa jadi menandakan kemarahan, kesedihan rasa lapar dan lain-lain. Lelaki tak terlalu paham hal-hal seperti ini. Sebagai pencari makan, lelaki tak punya cukup waktu dan kemampuan untuk mempelajari emosi atau tanda-tanda non verbal manusia.

Saat tidur, 70% aktivitas elektris otaknya berhenti, sementara pada wanita 90% aktivitas elektris otaknya tetap jalan. Ini menandakan bahwa perempuan terus menerus menerima dan menganalisis informasi dari lingkungannya. Perempuan bisa memahami harapan, impian, rasa takut, dll seseorang, sementara lelaki tidak.

3. Sudut pandang perempuan lebih luas, sementara lelaki tidak bisa menemukan mentega di kulkas

Perempuan memiliki kerucut retina yang lebih lebar yang membuatnya bisa mengawasi beberapa anak secara bersamaan, sementara lelaki kadang tidak bisa menemukan mentega di dalam kulkas. Hal ini dikarenakan ketika mencari objek yang memiliki tulisan (kata mentega memang ditulis di pembungkusnya), secara alami lelaki akan berupaya mencari barang yang ada tulisan menteganya. Lelaki tidak memiliki retina yang lebar, hingga ia tidak bisa memindai isi kulkas dengan sekali lihat. Ia hanya bisa menatap lurus ke depan, atau ke objek yang sedang dicarinya. Meski sudut pandangnya sempit, namun lelaki bisa dengan jelas melihat objek yang jauh (kalau berburu mata memang harus fokus ke objek kan?  ini warisan kebiasaan masa lalu saat pekerjaan lelaki adalah berburu hewan). Otak lelaki memang diciptakan bisa mengkonfigurasikanmata untuk pandangan jarak jauh. Mungkin ini sebabnya, ketika melihat ada cewek cantik di samping mereka, kepala dan mata langsung tertarik untuk fokus ke situ. Ujung-ujungnya kena semprot istrinya deh >_<

4. Perempuan bisa mendeteksi emosi lewat suara, lelaki tidak terlalu banyak bicara

Karena dibekali kemampuan intuitif, perempuan bisa mendeteksi emosi seseorang hanya dari nada bicaranya, sementara lelaki tidak akan tahu bagaimana perasaan seseorang bila TIDAK ADA yang memberitahukan padanya secara verbal, atau ia melihat dengan jelas tanda-tandanya. Misal, lelaki tahu seseorang sedang sedih kalau ia melihat air mata, atau wajahnya muram. Tapi, mereka sulit meraba emosi kesedihan itu bila hanya ditunjukkan lewat suara saja. Perempuan bisa melakukannya berkat kehalusan perasaan. Namun, meski lelaki tidak bisa, mereka memiliki kemampuan untuk membaca masalah dan memilah-milahnya dalam otaknya.Lelaki bisa menyimpan persoalannya dalam setiap kamar terpisah dalam gudang memorinya. Bagi lelaki mendengar dan mengamati jauh lebih penting, dengan demikian tidak berbicara itu cukup alamiah. Sementara bagi perempuan, berbicara sangat penting untuk membagun hubungan dan melepaskan emosi. Jika perempuan ingin curhat, umumnya mereka tidak bermaksud diberi solusi, hanya ingin didengarkan saja.

5. Sembilan menit itu lama

Lelaki biasanya bosan dengan kecerewetan perempuan, ketika ia mendapati situasi perempuan tidak berbicara, ia akan menganggapnya sebagai anugrah–pada awalnya. Setelah sembilan menit berlalu tanpa ada kata-kata apapun, barulah lelaki sadar ada yang salah. (Hmm…jadi lelaki butuh sembilan menit untuk menyadari ini?).

Perempuan berbicara kadang tanpa maksud apa-apa selain ingin didengarkan saja. Bagi perempuan, berkomunikasi adalah cara untuk membangun hubungan. Jadi, jika seorang perempuan terus menerus berbicara pada seorang lelaki, itu tandanya ia berniat membangun hubungan terus menerus, jika tidak, maka…yah sebaiknya si lelaki instrospeksi. Adapun lelaki, meski irit bicara, tapi sekali bicara sangat terstruktur, kalimat-kalimatnya lebih pendek dan gamblang. Beda banget dengan perempuan yang bisa membicarakan apa saja yang kadang antara pembicaraan pertama dengan kedua gak ada hubungannya >_<

6. Perempuan bisa masak sambil nyuci dan ngasuh anak, lelaki nggak bisa ngomong sambil nonton film

Otak perempuan dikonstruksi untuk bisa melakukan banyak hal dalam waktu bersamaan. Ini membuat perempuan bisa mengetik sambil nonton film sambil ngawasi anak dan saat bersamaan juga masak >_< Sementara lelaki nggak begitu. Otak mereka cuma diprogram untuk mengerjakan satu hal pada satu waktu. Makanya lelaki bisa marah saat diajak bicara pas nonton film, sementara perempuan, kadang merasa mengerjakan satu hal saja pada satu waktu adalah kemubaziran. Mereka bisa menghemat waktu dengan menyelesaikan beberapa pekerjaan secara bersamaan, dan hasil semua pekerjaan itu sama baiknya.

 

Okeh, segitu aja dulu info dari buku keren ini. Bila ingin membaca lebih jauh, sila dicari aja bukunya. Kalau gak nemu, bisa berkunjung ke web Allan dan Barbara Pease di sini

Selamat berburu buku 🙂

Share Button

Leave a Reply

Your email address will not be published.