Bukit Dalam Novel Silat Minang

Konon Bukit Karimuntiang menempati posisi yang sangat istimewa dalam jagad kependekaran minangkabau. Di bukit itu orang-orang bertaruh untuk kebaikan dan keburukan, keunggulan dan kekalahan, harga diri dan martabat. Para pesilat yang haus akan pengakuan saling melempar tantangan. Siapa saja yang berhasil menang di puncak Bukit Karimuntiang, maka ia berhak menyandang julukan pendekar nomor satu. Nyaris sepanjang usianya, bukit itu menjadi saksi pertumpahan darah para pendekar. Ada yang menantang dan menang. Ada yang menantang dan kalah. Siapapun yang pergi berdua-dua ke puncak bukit, akan turun sendiri. Di bukit itu ratusan pesilat berkubur. Di situ ratusan pertarungan minta diukur.

Dalam beberapa novel silat minang, perkara bukit tampak menjadi sesuatu yang sangat penting. Posisinya sangat strategis sebagai tempat kelahiran, kematian atau benang merah kisah. Dalam Tikam Samurai, Makmur Hendrik menggambarkan bukit sebagai tempat lahirnya sang Tikam Samurai, lelaki minang biasa yang memacu diri menjadi pendekar hebat untuk menuntut balas atas kematian keluarganya. Dalam Giring-giring Perak (masih karya Makmur Hendrik), Bukit Tambun Tulang adalah sesuatu yang bisa menjadi sakral, bisa pula terkutuk. Sakral, karena di situ bermukim muasal kehidupan Giring-giring Perak. Terkutuk, karena di situlah bermukim Harimau Tambun Tulang, sang mastermind di balik perampokan dan pembunuhan ratusan saudagar yang melewati Bukit Tambun Tulang. Bukit itu dipandang angker karena menjadi tempat pembuangan akhir jasad manusia. Dalam Pendekar Pengantin Gila karya Kang Ipul (dimuat sebagai cerita bersambung di Harian Singgalang), Bukit Kumango menjadi awal kelahiran sang pendekar pengantin. Di situlah dia digembleng menjadi pendekar oleh seorang tua berilmu tinggi. Sementara dalam novel Kupu-kupu Fort de Kock yang saya tulis, perkara bukit ini tanpa disadari juga menjadi sesuatu yang penting. Bukit Jirek, tempat berdirinya Fort de Kock, menjadi saksi pertarungan hidup dan mati kedua tokoh utamanya. Di situlah muasal kelahiran sang Kupu-kupu Fort de Kock. Yang menarik, dalam novel silat berlatar non minang, namun melibatkan orang minang sebagai salah satu tokohnya, perkara bukit sebagai tempat sentral ini juga muncul. Bisa dilihat dalam serial Wiro Sableng karya Bastian Tito dalam episode Banjir Darah di Tambun Tulang. Ini adalah episode yang melahirkan tokoh Tua Gila Dari Andalas, salah satu tokoh sentral dari serial Wiro Sableng. Dalam episode ini, Bukit Tambun Tulang menjadi benang merah yang menjalin kisah para tokohnya.

Mengapa harus bukit? Tidak bisakah pengarang menjadikan hutan saja sebagai pengikat hayat tokoh-tokohnya, sebagaimana Hutan Alas Roban menjadi pengikat dalam kisah Pendekar Selat Karimun? Atau tak bisakah desa menjadi muasal kelahiran tokoh utamanya sebagaimana dalam novel Nagabumi karya Seno Gumira Ajidarma? Atau padepokan silat sebagaimana padepokan Ksatria Pingitan yang melahirkan Upasara Wulung dalam pancalogi Senopati Pamungkas karya Arswendo Atmowiloto? Mengapa para pendekar dalam novel-novel silat minang harus terikat atau diikat penulisnya pada bukit? Apa ini sekadar kebiasaan saja, dorongan alam bawah sadar dari filosofi alam takambang jadi guru atau merupakan bagian dari peraturan tak tertulis di kalangan para pandeka yang diserap penulis, bahwa ilmu bukan untuk dipamerkan namun disimpan, hanya dikeluarkan bila perlu. Bukit dipandang sebagai tempat yang tepat bagi para pandeka melatih murid dan melayani tantangan pertarungan. Jauh dari keramaian. Jauh dari pandangan masyarakat umum. Pandangan ini diperkuat oleh mitos yang melekat pada Bukit Karimuntiang.

Bila ditarik kesimpulan secara umum, setidaknya bukit dalam novel-novel minang memiliki posisi strategis sebagai berikut:
1. Tempat kelahiran dan kematian pendekar (misalnya dalam Tikam Samurai, Pendekar Pengantin Gila, Kupu-kupu Fort de Kock, Giring-giring Perak), ajang pertaruhan harga diri kependekaran (Kupu-kupu Fort de Kock), tempat melunaskan ambisi menjadi pendekar nomor wahid.
2. Tempat belajar filosofi silat dan filosofi kehidupan (misalnya dalam Pendekar Pengantin Gila)
3. Benang merah kisah, pengikat hayat hidup tokoh-tokoh utamanya (misalnya dalam Giring-giring Perak)

Menurut pendapat saya (hal ini bisa diperdebatkan, dan dengan demikian saya membuka ruang diskusi seluas-luasnya), posisi strategis bukit ini hadir karena didorong oleh pengetahuan alam bawah sadar sang penulis mengenai filosofi silat minang. Seorang yang betul-betul pandeka dituntut untuk memiliki karakter-karakter baik, menyedekahkan ilmunya untuk kebaikan orang banyak. Dengan demikian, dalam filosofi silat minang, puncak tertinggi keilmuan pesilat terletak pada seberapa berguna sang pandeka bagi masyarakatnya. Sang pandeka dituntut menemukan Tuhan di batinnya, dan menemukan kawan di lahirnya. Silat adalah jalan sepi. Kemampuan silat tidak untuk dipamerkan. Itulah sebabnya mereka yang benar-benar pandeka jarang yang memperlihatkan silatnya di depan orang ramai, bila dipaksa, mereka lebih banyak mamancak. Suatu gerakan yang banyak digunakan dalam randai. Dalam hal ini bukit yang sepi dipandang sebagai tempat yang cocok untuk berlatih silat maupun adu kepandaian.
Saya kira, masih panjang jalan kita untuk sampai pada kesimpulan mengapa bukit mendapat tempat yang cukup penting dalam novel-novel silat minang. Artikel singkat ini hanya sebagai pembuka bagi diskusi lebih lanjut.

Share Button

Leave a Reply

Your email address will not be published.