Sekolah, Antara Gengsi dan Passion

Junior saya di kampus mengaku bahwa passionnya ada pada dunia jurnalisik. “Loh, trus kenapa masuk Ilmu Komputer?” tanya saya heran. Dia tersenyum.

Waktu saya SMA dulu, pembagian jurusan terjadi di kelas tiga. Seluruh siswa kelas dua yang naik kelas, diwajibkan sekolah mengikuti tes minat dan bakat. Sesuai hasil tes, saya disarankan masuk jurusan Bahasa.

Saat melihat hasil tes itu rasanya saya mau ngamuk. Umum anggapan ketika itu (bahkan sampai hari ini) anak yang masuk jurusan Bahasa adalah anak yang IQ-nya di bawah rata-rata. Saya tentu menolak hal itu. Saya merasa nggak punya masalah dengan IQ. Sejak semester satu sekolah, saya selalu masuk kelas unggulan. Nilai saya jauh di atas rata-rata, dan prestasi non akademik saya cukup bisa dibanggakan. Saya meraih beberapa penghargaan di dunia tulis menulis dan saya beberapa kali diutus mewakili sekolah dalam perlombaan.

Beberapa teman mengejek saya. Terutama mereka yang masuk IPS dan nggak pernah terdaftar di kelas unggulan. Saya dianggap nggak ada apa-apanya. Buktinya, hasil tes menunjukkan saya harus masuk Bahasa. Jurusan IPS dianggap lebih baik dari Bahasa. Kastanya setingkat lebih tinggi.

Saya menemui wakil kepala sekolah bidang kesiswaan dan mengeluh. Saya potes terhadap hasil tes. Sang wakepsek berkata dengan bijak bahwa tampaknya minat saya memang ada pada bahasa. Saya menolak pernyataannya dan bersikeras dipindahkan ke jurusan IPA. Wakepsek akhirnya mengalah.

Sesampai di rumah saya merenungi kembali keputusan tersebut. Saya bertanya dalam hati, benarkah saya sungguh-sungguh ingin masuk IPA? Apakah saya sungguh-sungguh berminat terhadap semua pelajaran kalkulus dan teori-teori fisika? Apakah saya sungguh-sungguh suka dengan segala percobaan kimia? Tidak. Saya tidak menyukainya. Saya ingin masuk IPA hanya karena kata orang itu jurusan bergengsi, dan siapa saja yang masuk ke jurusan itu dianggap keren. Saya sudah tidak menjadi diri saya sendiri. Saya hanya ingin dianggap pintar. Apakah yang sekolah di jurusan Bahasa itu bodoh? Saya menolaknya. Saya sama sekali tidak bodoh.

Akhirnya, pada hari H sekolah, saya kembali menemui wakepsek yang baik itu. Saya bilang, saya tidak ingin pindah jurusan. Saya akan tetap di jurusan Bahasa.

Apa yang terjadi kemudian setelah saya belajar di jurusan itu? Saya bahagia. Betul-betul bahagia. Saya seakan sudah menemukan rumah saya. Sesuatu yang memang sudah saya cari sejak dahulu. Bahagia sekali rasanya belajar sastra Indonesia. Membaca-baca karya sastra klasik dan mendiskusikannya bersama guru sastra. Saya ternyata juga senang belajar bahasa Arab. Kata orang bahasa Arab itu sulit. Perubahan katanya bermacam-macam. Tapi, ketika saya belajar, kok mudah sekali rasanya? Saya bahkan bisa memahami seluruh isi buku tak sampai setengah semester. Pada pelajaran Sastra Inggris, saya bahkan bisa membuat cerita pendek dalam bahasa Inggris. Saya bersyukur menyadari kesalahan saya lebih cepat, hingga tak perlu membuang usia saya untuk mempelajari sesuatu yang bukan bakat saya. Hal yang agak berbeda terjadi pada Ami, junior saya di kampus. Dia kuliah di jurusan Teknik Komputer, tapi setelah kuliah berjalan lima semester, ia baru sadar passionnya ada di dunia jurnalistik. Akhirnya dia mendaftar kuliah Prodi Jurnalistik, IAIN Imam Bonjol. Kuliah komputernya tetap jalan, tapi selesai lebih lambat. Sekarang ia sudah masuk semester 10. Waktu saya tanya, kenapa dia sampai masuk Teknik Komputer kalau passionnya memang di dunia jurnalistik? Ia menjawab jujur. Dulu ada anggapan bahwa jurusan Teknik Komputer itu bergengsi. Ada kebanggaan bisa masuk ke situ. Setelah dijalani, ia tahu kuliah berdasar gengsi itu salah. Akhirnya ia mendengarkan hati kecilnya, dan masuk dunia jurnalistik. Ia merasa bahagia.

Ada banyak anak-anak yang seperti saya atau Ami. Mereka masuk sekolah atau jurusan tertentu hanya karena menurut anggapan orang, sekolah atau jurusan itu keren, bergengsi, bagus, mudah dapat kerja. Mereka nggak diajak untuk mengenal dirinya dengan lebih baik, itu sebabnya, hingga sudah kuliah pun, mereka masih belum tahu apa sebenarnya yang mereka inginkan.

Contoh ekstrim terjadi pada adik saya sendiri.

Lima tahun ia menghabiskan usianya di jurusan Sejarah, lalu kemudian menyadari passionnya ada di dunia kriya. Ia sangat terampil membuat crochet, kerajinan dari kain flanel, dan manik-manik. Ia sangat telaten dan tekun. Ia bisa mempelajari teknik crochet hanya dengan melihat videonya sebentar di Youtube. Bandingkan dengan saya, yang sudah berjam-jam diajari cara menggulung benang di ujung jarum crochet saja, nggak bisa-bisa. Tahu begitu, kenapa ia nggak masuk SMK saja dan memulai bisnis kriyanya di usia 19 tahun? Ia sangat berbakat dan saya tak ragu ia bisa jadi pengusaha sukses. Ia masuk kuliah hanya karena ada anggapan, anak pintar itu harus kuliah setamat SMA. Padahal, semua anak yang berbakat sudah pasti pintar, apapun bakatnya. Dan anak berbakat nggak mesti kuliah.

Apa yang gagal dalam pendidikan kita adalah: membuat anak menemukan siapa dirinya. Ini sungguh berbahaya, karena taruhannya bukan saja masa depan anak, tapi juga kehidupan sebuah bangsa. Bila pendidikan tidak mampu membuat anak tahu apa yang ia mau, berarti pendidikan itu sudah gagal. Ia sudah batal sebagai sebuah kata kerja.

Filsuf pendidikan, Paulo Freire berkata, “Nenek melarangku ke sekolah, supaya aku mendapat pendidikan”. Kalimat ini bermakna, jika sekolah tidak mampu memberi anak apa yang ia butuhkan dalam kehidupannya, sebaiknya tinggalkan. Jika kita mampu memperbaiki, lakukan. Tapi tentu usaha ini tidak mudah. Perlu kemauan yang kuat dan menyeluruh dari seluruh unsur pendidikan –pemerintah, guru, orangtua dan masyarakat. Pendidikan adalah investasi. Sesuatu yang kita tanam hari ini, untuk kita ambil buahnya tiga puluh tahun lagi. Bagus tidaknya hasil panen, tergantung dari apa dan bagaimana cara kita menanam dan merawatnya.

Share Button

Leave a Reply

Your email address will not be published.