Mengajarkan Pada Anak untuk Apa Adanya

Sependek pengalaman saya berinteraksi dengan sesama manusia, ada satu hal yang menarik perhatian, yakni rasa malu yang mendera saat orang mengetahui bahwa ia tak punya apa-apa. Ketidakberdayaan ekonomi dipandang sebagai sesuatu yang hina, memalukan, dengan demikian tak sepatutnya diketahui umum. Saya sendiri kadang nggak paham juga kenapa kita harus nunjukin bahwa kita berdaya pada orang. Berdaya atau tidak secara ekonomi sebenarnya bukan sesuatu yang patut dibanggakan, apalagi kalau ternyata gak ada bedanya antara kaya dengan nggak. Pelitnya tetap aja bikin jengkel 😀

 

Saya aja dulu waktu kuliah nyambi kerja di fotokopian, karena uang bulanan seret. Saya ngetikin tugas orang, bayarannya perlembar. Waktu itu selembarnya seribu. Bisa ngetik 25 lembar saya dapat 25 ribu. Lumayan banget bagi saya waktu itu >.<. Karena nggak punya komputer, saya ngetik cerpen dan novel saya di rental komputer. Ngetiknya buru-buru, soalnya kalo kelamaan, bayar rental jadi mahal 🙁. Satu jam, saya bisa ngetik cerita antara 6-8 lembar, satu spasi. Hikmah dari itu semua adalah, jari saya jadi lentur. Habis, disuruh ngebut wkwkwk.

Si abang fotokopian juga baik banget. Karena tahu saya nggak berduit, dia selalu ngasi orderan ketikan ke saya. Kalau ada kerjaan di rental saya juga sering disuruh. Pokoknya waktu itu, saya full job deh wkwkwk..

Oke, balik ke judul.

Beberapa waktu lalu saya dapat cerita, ada seorang anak yang udah berbulan-bulan nunggak uang sekolah, trus dia minta bantuan ke sebuah yayasan penggalangan dana pendidikan. Untuk keperluan penggalangan dana, tentu saja yayasan tersebut butuh data diri si anak. Kan nggak lucu kalau yayasan tersebut menggalang dana di berbagai media tapi data diri si anak dirahasiakan. Tapi, apa yang kemudian terjadi? si anak minta identitasnya dirahasiakan. Alasannya malu. Ia tak mau kesusahannya diketahui sekolahnya.

Kisah ini sungguh berbanding terbalik dengan kisah seorang anak berprestasi di Padang. Taruhlah namanya Juli, ya (cerita ini aku dapat dari dosenku, dan beliau nggak ngasi tau siapa nama anak tersebut). Si Juli ini anak tukang ojek. Penghasilan sehari-hari ayahnya cuma cukup untuk makan saja. Ketika ia berhasil lulus di SMP paling favorit di Padang berkat nilainya yang bagus, Juli harus menghadapi kenyataan, bahwa ia mesti membayar sekian sekian. Tapi, ia tak putus harapan. Ia dan sang ibu kemudian menghadap kepala sekolah dan menjelaskan kondisi mereka. Kepsek yang bijaksana, setelah meninjau sampai ke rumah si anak, lalu mencarikan orang tua asuh untuknya. Akhirnya Juli bisa belajar dengan tenang dan lulus SMP dengan nilai tinggi. Nilai itu membuat ia diterima di SMA paling favorit di Padang. Masalah berikut datang. Keluarga Juli nggak mampu bayar uang masuk dan bulanan di SMA itu. Tak hilang akal, Juli dan ibunya, beserta kepsek SMPnya menghadap kepsek SMA tersebut dan menceritakan kondisi mereka apa adanya. Singkat cerita, sang kepsek yang tak ingin kehilangan siswa berprestasi seperti Juli lalu mencarikan orang tua asuh untuknya.

Malukah Juli sekolah di situ? tidak. Sementara teman-temannya diantar ke sekolah dengan mobil bagus, sepatu mahal dan uang jajan, Juli berjalan ke sekolahnya. Jangan dikira jarak rumah-sekolah Juli pendek. Jauhnya lebih dua kilometer. Supaya tidak terlambat sampai di sekolah, Juli berangkat sehabis salat subuh. Karena tak punya uang jajan, ia membawa bekal dari rumah. Menunya, nasi dari beras raskin+lauk sederhana. Ia tidak merasa malu dengan bekalnya, sebaliknya, ia menunjukkannya ke teman-temannya. Ajaibnya, teman-temannya yang orang kaya itu malah penasaran dan berebut mencicipi nasi raskin yang ia bawa (*nyesek banget deh).

Juli tampil apa adanya. Ia memang dari keluarga susah dan ia tak menutupi itu. Apakah kemudian ia jadi kehilangan harga diri? Tidak. Justru dengan itu ia jadi dihargai karena ia mampu menghargai siapa dirinya dan orang tua yang telah membesarkan dia. Ia tak merasa malu dengan kemiskinannya atau dengan orang tuanya yang cuma tukang ojek. Ia tampil jujur.

Juli kemudian lulus dengan nilai tinggi. Ia lalu diterima di Fakultas Kedokteran UI. Lagi-lagi ia tersandung biaya. Tapi, berkat bantuan banyak orang, ia pun mendapat orang tua asuh yang mau membiayai pendidikannya. Juli kini menjadi calon dokter.  Anak pintar yang pendidikannya dibiayai banyak orang itu, inshaAllah akan menjadi dokter yang akan mengabdikan hidupnya juga untuk banyak orang. Mungkinkah ia bisa menjadi seperti itu bila sedari awal ia tidak jujur dan merasa malu dengan kondisi ekonominya? Saya sungguh ragu. Justru karena ia apa adanya orang jadi terkesan, ditambah ia punya semanngat juang yang tinggi.

Saya pikir ini salah satu hal penting yang harus ditanamkan ke anak-anak kita. Menjadi jujur, apa adanya, jadi diri sendiri. Anak hanya boleh merasa malu jika ia melakukan kejahatan seperti mencuri atau korupsi. Kemiskinan, ketidakberdayaan, bukanlah sebuah kehinaan. Justru, bila ia diajar untuk menerima kondisinya dengan lapang dada, semua ketidakberdayaan itu akan jadi bahan bakar untuk melejitkannya menjadi seseorang yang luar biasa.

Seperti yang diungkapkan pebisnis Mary Kay Ash, honesty is the cornerstone of all success, without which confidence and ability to perform shall cease to exist. (Kejujuran adalah dasar semua keberhasilan, tanpanya kepercayaan dan kemampuan takkan ada)

Share Button

Leave a Reply

Your email address will not be published.