Lima Tahun yang Menakjubkan

Patut saya katakan, lima tahun yang saya lalui kemarin, adalah salah satu saat paling menakjubkan dalam hidup saya. Selama periode 2009-2014, saya kuliah, melahirkan dua kali, menghasilkan tiga novel, memenangkan lomba menulis, bikin film dokumenter, menggarap rubrik di koran, jadi homeschooling mom, dan lulus kuliah dengan IPK sesuai target, 3.78, tak kurang tak lebih. Sungguh mengherankan, bagaimana prediksi IPK saya dulu saat pertama kali menginjakkan kaki di IAIN Imam Bonjol, terwujud. Saya kira, kalau saja saya tidak dua kali cuti melahirkan selama kuliah, saya akan lulus dengan predikat cum laude.

Dan yang paling ajaib dari semuanya adalah, saya tidak punya pembantu rumah tangga.
Sekarang, dibarengi kelegaan karena sudah diwisuda, saya mengulang kembali tahun-tahun yang saya jalani sejak 2009. Mencoba mencari jawab bagaimana saya melakukan banyak hal. Sebenarnya, jauh di dalam diri saya, saya sama sekali tidak merasa istimewa. Biasa saja. Banyak perempuan yang saya kenal, yang memiliki pencapaian hidup jauh lebih tinggi dari pada saya. Tetapi, saya kira saya perlu menulis ini untuk menjawab banyaknya pertanyaan yang diajukan pada saya. Bagaimana saya tetap bisa menekuni passion saya dan berprestasi di situ, dan di saat yang sama mengurus keluarga dan mengasuh tiga anak. Oke, dengan maksud membagi pengalaman, dan (boleh jadi) inspirasi pada lebih banyak perempuan, saya akan mulai bercerita

Memiliki anak adalah hal yang paling menyenangkan dalam hidup saya. Sejak sebelum menikah saya memang suka dengan dunia anak-anak, ini pula yang kemudian mendorong saya untuk mengajukan lamaran menjadi guru playgroup di sebuah sekolah, dan diterima. Sebelum menikah dan punya anak, saya sudah terbiasa membeli buku-buku tentang pengasuhan anak. Adalah suatu kejutan, karena suami saya juga suka membeli buku-buku semacam itu sejak masih remaja. Saya kira, ini yang membuat kami klop ketika bertemu pertama kali.

Jadi, ketika anak saya lahir, hal pertama yang mampir di kepala saya adalah, anak ini akan menjadi prioritas hidup saya. Hal-hal lain sifatnya sebagai pelengkap saja. Itulah sebabnya, setiap pagi, hal pertama yang saya pikirkan adalah menyelesaikan urusan anak-anak. Dalam daftar kerja saya, urusan ini mendapat prediket ‘primer’.
Saya membagi tiga pekerjaan ke dalam tiga tingkatan. Primer, sekunder dan luks. Primer, adalah kegiatan yang bila itu tidak dikerjakan akan membuat saya mumet sepanjang hari. Kegiatan itu meliputi menyiapkan makanan, membersihkan rumah, membereskan pakaian. Setiap pagi, saya akan memasak tiga jenis makanan, pertama untuk sarapan, biasanya berupa bubur kacang hijau, kolak, bihun goreng, nasi goreng, roti bakar, atau sekali-sekali, soto dan nasi uduk plus lauknya. Makanan kedua adalah santapan makan siang. Sementara makanan ketiga berupa cemilan, biasanya berupa kue bolu, kacang telur, dan aneka kue basah. Semuanya saya buat sendiri. Saya mengerjakannya sekaligus, jadi hemat waktu. Saat saya merebus kacang hijau untuk sarapan, saya akan menggoreng lele (kalau menu makan siang hari itu adalah lele goreng), dan di saat yang sama saya akan bikin kue bolu. Untuk ide menu sehari-hari saya banyak mencarinya di buku-buku resep masakan. Kenapa saya perlu membuat cemilan? Karena dua hal, pertama, anak-anak tanpa cemilan akan menjadi destruktif. Bila ada makanan mereka bisa sedikit tenang. Kedua, bila anak-anak tak punya cemilan di rumah, mereka akan mencarinya di warung, dan saya tidak mau mereka jajan sembarangan saat mereka tak bersama saya. Saya ingin memastikan semua yang dimakan anak saya, saya ketahui persis bahan-bahannya dan cara pembuatannya. Kadang, kalau tak sempat, terpaksa saya relakan juga membelikan biskuit di warung, tapi biskuit itu haruslah jenis yang diakui kualitasnya, dapat sertifikat halal MUI, dan tidak ada MSG di dalamnya.
Makanan berikutnya yang tak bisa saya tinggalkan untuk dibuat adalah santapan siang. Saya kadang di kampus sampai pukul dua belas, sungguh meletihkan, bila sesampai di rumah saya harus memasak. Bukankah menyenangkan, saat tiba di rumah dalam keadaan letih, kita menemukan rumah yang bersih dan lemari berisi makan siang? Rasanya seperti ada yang membereskan rumah untuk kita, padahal tidak. Karena itu, penting sekali membereskan segala sesuatu di awal hari. Bersihkan rumah, rapikan seprei, sediakan makanan, jadi ketika pulang dari kesibukan luar rumah, kita akan menemukan kelegaan. Hati yang lega adalah modal untuk berkarya. Prinsip ini yang selalu berusaha saya pegang baik-baik.

Kegiatan yang sifatnya sekunder adalah kuliah. Jika jadwal kuliah bentrok dengan kegiatan anak, saya batalkan kuliah saya. Adapun kegiatan yang sifatnya luks adalah mengerjakan hobi saya, nonton film dan bikin craft. Biasanya saya mengerjakannya cuma sekali seminggu saja.

Lalu, dimana letak kegiatan menulis dan membaca? di daftar kegiatan primer. Kenapa? Karena penting untuk membuat saya tetap waras. Nanti akan saya jelaskan alasannya.

Saat saya kuliah, suami pergi bekerja. Lalu anak-anak? Saya titipkan di playgorup. Kebetulan playgroup tempat saya dulu mengajar, punya cabang di dekat kampus. Saya pun kenal baik semua guru-gurunya. Saya titipkan semua anak saya di situ. Saya bisa menjenguk mereka sesering yang saya mau. Durasi satu mata kuliah saya cuma satu setengah jam, jadi waktu saya meninggalkan anak-anak terhitung pendek. Bila dalam sehari ada tiga mata kuliah, saya sempatkan menjenguk mereka tiap pelajara usai. Pulang kuliah, saya jemput mereka, lalu kami bersama-sama pulang ke rumah. Syukurlah sudah ada makanan. Setelah berganti pakaian, kami bisa langsung makan dan tidur siang. Sederhana sekali.

Lalu kapan waktu mengerjakan semua tugas kuliah? Saat anak-anak tidur siang. Setelah menidurkan mereka, saya akan mulai mengerjakan semua tugas-tugas itu. Dan di saat bersamaan, saya akan masak untuk makan malam dan cemilan sore anak-anak. Untuk cemilan sore, saya bikin yang gampang saja. Misalnya bikin goreng pisang, pergedel atau bakwan. Mereka ngemil setelah makan buah. (Oh, makan buah ngemil juga yak >_<). Biasanya, saat anak-anak bangun, semua pekerjaan saya selesai, dan saya bisa mengurus mereka. Setelah mereka mandi dan ngemil, saya akan bawa mereka keluar. Mengawasi mereka bermain bersama anak-anak komplek.

Saya baru mulai menulis cerpen atau novel setelah mereka tidur malam (mereka tidur pukul sembilan, setelah dibacain cerita) atau dini hari. Saya biasanya bisa menulis sekitar sepuluh sampai dua puluhan halaman. Lama saya tidur rata-rata enam jam. Cukuplah ya. Tidak terlalu panjang atau pendek.

Apakah saya capek? Ya iyalah. Istirahat saya ada dalam menulis. Saat saya menulis, rasanya semua letih dan mumet saya hilang. Seluruh tekanan yang saya terima dalam sehari terlepaskan. Menulis adalah cara saya keluar dari tekanan, apapun jenis tulisan yang saya hasilkan. Setelah menulis, hidup saya rasanya lebih bahagia.
Apakah saya masih sempat membaca? Ya iyalah. Dari seluruh waktu menulis saya, 70%nya terdiri atas membaca. Dulu saya membaca kapan saja dan dimana saja. Saya membaca sambil menunggu dosen, dalam antrian, saat menemani anak-anak tidur siang, saat memasak, bahkan, bila kuliah terasa sangat membosankan, saya akan mengeluarkan buku dan mulai membaca. Kini, setelah saya punya tiga anak, kebiasaan itu berubah. Saya memakai metode selang sehari. Sehari membaca, sehari menulis. Bila hari ini saya menulis, maka esoknya saya hanya membaca. Dengan cara ini saya bisa menyelesaikan minimal 15 buku sebulan. Tergantung ketebalan juga sih. Kalau tipis-tipis, jumlah halamannya di bawah 400, bisa selesai dua atau tiga buku sehari. Kalau tebal, ya, sehari paling cuma satu buku.

Syukurnya, saya masih sempat mengerjakan hobi saya yang lain, nonton film dan bikin aneka craft. Saya kira, empat hal inilah–membaca, menulis, nonton film dan membuat aneka craft–yang membuat saya tetap waras. Sebab, bila hanya membenamkan diri dalam kesibukan rumah tangga+kuliah, pastilah tingkat mumetnya luar biasa. Untuk mencegah diri saya terjebak ke dalam stress, saya tetap mencari waktu mengerjakan semua hobi itu. Saya mendaftar jadi anggota di tiga rental film dan cukup rutin meminjam film di sana. Saya juga suka menyetok bahan-bahan craft seperti kain flanel, manik-manik, benang sulam, kancing hias, dakron, dll. Bila ada waktu saya akan membuat busy book, aneka aksesoris, boneka, dll.

Dengan manajemen seperti itu, dalam lima tahun ini alhamdulillah saya memiliki pencapaian seperti berikut:
1. Menghasilkan tiga novel, dua di antaranya sudah terbit, yakni Kupu-kupu Fort de Kock (Penerbit Koekoesan. 2013), dan Love Interrupted (Gramedia Pustaka Utama. 2014). Satu akan terbit inshaAllah Oktober ini.
2. Menang di tiga lomba menulis, yakni pemenang harapan dalam lomba menulis cerpen Rohto (2011), finalis lomba menulis novel Amore Gramedia (2013) dan pemenang ketiga lomba menulis novel remaja Bentang (2013)

3. Menulis tiga serial Attar, terbit di Alkautsar Kids (2013)

4. Menulis banyak cerita anak, sebagian besar di antaranya terbit di Majalah Bobo

5. Serial anak berjudul Attar dan Peta Beliyaka terpilih sebagai nominator fiksi anak terbaik Islamic Book Award 2014

6. Menulis beberapa cerpen yang dipublikasikan di beberapa koran, baik lokal (Sumbar) maupun nasional

7. Menulis belasan artikel opini dan resensi buku, dimuat di tiga harian di Sumbar

8. Mendirikan Komunitas Jurnalistik (Komjur) IAIN Imam Bonjol

9. Bersama Komjur menerbitkan empat buletin kampus

10. Berhasil menjalin kerjasama antara Komjur dengan Harian Haluan untuk menggarap rubrik Kampus satu halaman selama setahun (tahun 2011). Saya menjadi penanggungjawabnya.

11. Bersama tim, membuat dua film dokumenter, pertama tentang kisah penjual lontong keliling (saya sebagai penulis skenario), kedua tentang keris minang (saya sebagai penulis skenario dan sutradara)

12. Bersama Komjur menerbitkan antologi kisah pengalaman saat gempa yang melanda Sumbar pada 30 September 2009. Buku itu sepenuhnya ditulis anggota Komjur, berjudul 7.9 SR

13. Menulis beberapa naskah novel, sebagian sudah selesai, sebagiannya baru selesai separuh

14. Bersama teman mendirikan sanggar kreativitas untuk anak-anak

15. Ngeblog

16. Lulus kuliah dengan yudisium sangat baik.

17. Dll yang aku tidak ingat lagi (o ya, cerpenku masuk ke daam antologi penulis Sumbar “Akar Anak Tebu”.

Terus terang, saya tak bisa mencapai semua itu tanpa suami saya. Dialah yang terus mendorong saya untuk keluar dari batas nyaman, memaksa saya untuk mencapai hal-hal terbaik dalam hidup ini. Suami saya bukan hanya kekasih hati, tapi juga sahabat dan guru saya. Dia banyak sekali membuka wawasan saya. Dia mengajarikan hal paling mendasar dalam hidup: yakni cara berpikir. Dia juga selalu menyediakan diri sebagai tempat bertanya, kapan pun saya memerlukannya. Tak cuma itu, dia juga selalu membantu saya dalam menyelesaikan pekerjaan rumah tangga. Tanpa bantuannya, sulit saya bisa mencapai semua hal di atas. Bisa dikatakan, dia lebih dari sekadar penopang. Sebagai manusia, saya tahu dia punya kekurangan, tapi saya tak ingin menemukan. Bagi saya, dia sudah lengkap secara keseluruhan.

Alhamdulillah. Saya sungguh lega setelah menuliskan ini. Jika ada hal-hal baik di dalam pengalaman saya, silakan mengambilnya. Sebagai seorang ibu, perempuan memiliki posisi yang istimewa dalam hati anak-anaknya, melebihi posisi sang ayah, tapi, sebagai manusia, ibu juga punya impiannya sendiri. Oleh karena itu, saya tak jemu mengingatkan pada para ibu, anak-anak adalah prioritas, namun di sisi lain, jangan lupakan diri sendiri. Meski berkarir sebagai ibu rumah tangga, seorang perempuan tak mesti kehilangan dirinya sendiri. Ia tetap harus menjadi dirinya, dirinya yang sejati, dan dirinya yang seorang ibu. Hanya dengan beginilah hidupnya akan stabil dan bahagia. Dan ibu yang bahagia, inshaAllah akan melahirkan anak-anak yang juga bahagia.

Sekian pengalaman saya. Terimakasih sudah membacanya.

Salam

🙂

Share Button

5 Replies to “Lima Tahun yang Menakjubkan”

  1. Alita Endah Susanti

    Sebulan bisa 15 buku Mbak????
    Bagaimana caranya bisa secepat itu membaca buku Mbak? sehari bisa 3-4 buku kalau begitu…. Jika berkenan,q tolong bagi tipsnya dong Mbak bisa baca buku sehari sampai segitu….

  2. Alita Endah Susanti

    Sebulan bisa 15 buku Mbak????
    Bagaimana caranya bisa secepat itu membaca buku Mbak? sehari bisa 3-4 buku kalau begitu…. Jika berkenan, tolong bagi tipsnya dong Mbak bisa baca buku sehari sampai segitu….

    • admin

      Saya bacanya pas waktu luang, Mbak. Misalnya, di antara jadwal kuliah, saat anak tidur, saat menunggu, dll. Satu buku bisa selesai dalam satu atau dua hari. Tapi, belakangna, buku yang saya baca gak sebanyak dulu, Mbak. Pasalnya, entah kenapa saya makin pemilih terhadap buku. Jadi, tidak semua yang tersedia yang saya baca.

  3. nanik

    Aku suka banget blogmu, mbak… baru aja nemuin si.. membaca bagian ini, entah kenapa membuatku menangis. Aku paling suka bagian “sebagai manusia, saya tahu dia punya kekurangan, tapi saya tak ingin menemukan”. Thats soo more than sweet…
    Semangat terus, mbak!

Leave a Reply

Your email address will not be published.