Mengapa Aku Memutuskan Homeschooling

Memutuskan mendidik anak-anak sendiri di rumah, bukanlah keputusan mudah. Sebab, menuntut tanggung jawab, komitmen, kedisiplinan dan kesabaran yang luar biasa berat. Banyak faktor yang membuat aku memutuskan men-homeschooling-kan anak-anak. Salah satunya sebuah percakapan yang terjadi pada suatu hari yang menyenangkan.

Mengajak anak-anak berbicara tentang impian, perasaan dan kesan-kesan mereka tentang suatu hal, adalah sesuatu yang cukup sering aku lakukan. Suatu kali, setelah bercerita ini itu, aku memeluk anakku dan bertanya, apa yang paling dia sukai di sekolah. Dia menjawab, “aku paling suka saat jam istirahatnya.”
Loh! Ini nggak benar. Kataku dalam hati. Aku lalu memperhatikan semua aktivitas dan pelajaran-pelajarannya di sekolah, dan mendapatkan satu hal penting. Anakku paling suka segala hal tentang seni. Dia sangat suka membaca, menulis cerita, menggambar, bermain musik dan membuat aneka craft, tetapi di sekolah, kegiatan-kegiatan seni yang ia sukai cuma dipelajari seminggu sekali di mapel SBK (Seni, Budaya dan Keterampilan), itu pun bergiliran. Jadi, bila minggu ini ia belajar menggambar, maka minggu besoknya dia menyanyi, minggu besoknya lagi bikin craft, begitu seterusnya. Sementara, pelajaran bahasa Indonesia sangat mengecewakan kata dia. Anak-anak hanya disuruh membaca buku paket, menjawab soal, menyalin cerita lalu sesekali disuruh menulis karangan singkat. Pelajaran yang diajarkan dua sampai tiga kali seminggu adalah matematika, IPA dan IPS. Dia cukup suka tiga pelajaran itu, tapi lebih suka bila pelajaran yang ia minati juga diajarkan dalam porsi yang sama banyaknya. Wajar jadinya bila dia sering ogah-ogahan ke sekolah. Akhirnya, setelah berdiskusi serius dengan ayahnya, kuputuskan untuk mengeluarkannya dari sekolah, dan mendidiknya sendiri di rumah. Aku tidak mau anakku mengalami tekanan batin karena harus mempelajari apa-apa yang tidak dia sukai. Aku teringat dengan artikel wawancara dengan ibu Ratna Megawangi, praktisi pendidikan di Indonesia, bahwa anak-anak sekarang banyak yang stress, tertekan dengan beban pelajaran.

Aku dan anakku lalu mendiskusikan apa-apa saja yang harus dia pelajari. Dia ingin belajar menggambar dengan semua tekniknya, bermain musik, ngeblog, bikin cerita, memasak dan membuat aneka craft. Adapun menulis cerita tetap dilakoninya, dan menurutnya itu bukan bagian dari pelajaran, tapi bagian dari kesenangan. Aku menyetujui semua usulannya dengan tambahan, dia harus mempelajari mata pelajaran wajib, yakni matematika dan sains tingkat dasar. Karena belajar mandiri, tidak terikat lembaga manapun, maka aku juga merancang kegiatan-kegiatan yang bisa memacu perkembangan bakatnya. Misalnya, membawanya ke berbagai festival musik etnik/klasik, dan festival sastra. Membawanya ke berbagai acara kepenulisan, pameran lukisan, dan diskusi intelektual. Mengajaknya berkunjung ke rumah intelektual-intelektual yang kukenal. Berharap dengan itu semua dia bisa menyerap semua kecerdasan dan kebajikan. Aku juga banyak melatih kemampuan analisanya. Memiliki kemampuan analisa sangat penting, karena itu akan menjaga diri dari terjerumus ke hal-hal yang tidak baik. Islam pun sangat mendorong kemampuan ini, salah satunya bisa dilihat di ayat yang menyebutkan bahwa orang-orang yang berilmu ditinggikan beberapa derajat. Dan bukankah masyhur pernyataan bahwa agama hanya untuk orang yang berakal. Aku yakin, makna pernyataan ini bukan sekadar harafiah saja, tapi juga sangat filosofis.

Lalu, apa pencapaian setelah anakku homeschooling? Dia jadi lebih bahagia. Dan kebahagiaan itu mendorongnya untuk terus mengasah kemampuannya. Dia punya banyak rencana besar dalam hidupnya. Salah satunya, akan dia wujudkan dalam waktu dekat ini. Ini salah satu manfaat homeschooling menurutku. Anak-anak bisa lebih fokus mengasah bakatnya, ia tidak perlu membuang waktu untuk mempelajari hal-hal yang bukan minat dan potensinya.

Impianku terhadap semua anak-anakku, mereka berhasil dengan potensi yang diberikan Tuhan pada mereka, dan berhasil pula memberi manfaat untuk orang banyak dengan potensi itu. Aku yakin anak-anaku akan menjadi demikian, dan aku yakin bisa mendidiknya sampai ke situ. InshaAllah.

Share Button

Leave a Reply

Your email address will not be published.