#Kelas Cerita Anak: Menyimak Logika Berpikir Anak-anak

Artikel ini merupakan materi Kelas Cerita Anak di Grup Kobimo tanggal 5 September 2014.

 

Assalammualaikum. Apa kabar semua warga Kobimo. Selamat Hari Raya Idul Adha. Semoga lebaran haji kali ini menjadikan kita insan yang betul-betul peduli secara sosial, sebagaimana semangat yang terkandung dalam ibadah kurban itu sendiri.

Baik, kelas cerita anak tetap dibuka ya. Anggap sebagai tebusan karena minggu kemarin kelas ini tutup karena suatu hal. Topik kita kali ini adalah “logika berpikir anak-anak”. Nah, ‘makhluk’ apakah itu?

Dalam berbagai pelatihan menulis cerita anak, pertanyaan yang cukup sering mampir adalah: bagaimana menulis dalam bahasa anak-anak?

Menulis dalam bahasa anak-anak dianggap salah satu hal yang paling sulit. Kalau tema, okelah ya…bisa ditemukan di banyak tempat. Tetapi, menghidangkan tema dalam bahasa yang mudah dipahami anak-anak adalah hal yang sangat sulit. Ini sama seperti bikin rendang. Mencari bahan-bahannya, gampanglah, tapi menakarnya, lalu mengolahnya menjadi rendang, bukan perkara mudah.

 

Sebenarnya, hal paling wajib kita lakukan bila ingin menulis cerita anak adalah, rajinlah berinteraksi dengan anak-anak dan buku anak-anak. Kenali gaya bahasa mereka melalui buku-buku mereka. Kenali logika berpikir mereka melalui interaksi sehari-hari. Ini penting, sebab, banyak juga saya temukan, buku cerita anak-anak, yang bahasanya pas dengan anak-anak, tapi logika berpikirnya dewasa. Misal, ketika dua anak yang saling tidak kenal, bertemu, mereka langsung memperkenalkan diri. Ini adalah logika berpikir orang dewasa, sebab, anak-anak ketika bertemu pertama kali tidak langsung memperkenalkan diri, tapi, melakukan penjajakan. Mula-mula mereka akan bermain bersama, kalau dirasa cocok dan seru sebagai teman sepermainan, maka interaksi berlanjut. Mengenai nama, baru mereka ketahui belakangan.

 

Logika dewasa lain yang kerap saya temukan dalam cerita anak-anak adalah, logika ‘hero’. Menjadikan anak-anak sebagai pahlawan. Padahal, dunia anak-anak bukanlah dunia ‘hero’ (anak-anak di sini maksudnya yang berusia sepuluh tahun ke bawah ya). Misalnya, dalam sebuah cerita, ada anak-anak yang rakus, lalu datang anak lain yang menasehati supaya jangan rakus, sebab begini dan begitu. Atau ada anak-anak yang kelakuannya kurang baik, kemudian temannya memberi nasehat. Ini namanya memaksakan logika dewasa dalam cerita anak-anak.Sebab, anak-anak yang sebenarnya, bukanlah makhluk yang bijak dan mudah memberi nasehat. Dunia mereka adalah dunia tanpa aturan. Dunia merdeka, tanpa pasal-pasal peraturan yang mengikat. Dunia mereka adalah dunia permainan, jadi, salah besar memaksakan logika dewasa ini dalam cerita anak-anak. Meski demikian, bukan berarti kita tidak bisa menyelipkan hikmah dalam kisah anak-anak. Bisa kok, hanya saja, caranya tetap harus dengan mengikuti logika berpikir anak-anak.

 

Mari kita perhatikan cerita-cerita anak populer. Rata-rata logika berpikirnya adalah logika berpikir anak-anak, dan karena itulah anak-anak suka. Misalnya kisah Alice in Wonderland karya Lewis Carrol. Di situ Alice tidak diposisikan sebagai pahlawan yang bisa begini begitu, dia hanya diposisikan sebagai anak yang takjub pada wonderland. Simak juga cerita anak-anak karya Arswendo Atmowiloto (misalnya Keluarga Cemara), di situ anak-anak tidak dipaksa melakoni peran orang dewasa. Meski demikian, kita menemukan banyak sekali hikmah yang hebatnya disampaikan dalam logika berpikir anak-anak. Dan o ya, ada juga kisah-kisah Astrid Lindgren yang betul-betul menempatkan anak-anak sebagai anak-anak sebenarnya, dan bukan orang dewasa dalam tubuh anak-anak. Dalam cerita-ceritanya, anak-anak adalah makhluk yang bebas berkreasi dan berpikir, serta mengalami petualangan-petualangan menakjubkan.

 

Jadi? ya, jadi rajin-rajinlah berinteraksi dengan anak-anak. Banyaklah membaca cerita anak-anak yang bagus untuk mengetahui bagaimana mereka berpikir. Ini modal penting sebelum mulai menulis cerita anak.

 

Sekian. Salam

Share Button

Leave a Reply

Your email address will not be published.