Benarkah Anak-anak Homeschooling Asosial?

Entah mengapa kecurigaan asosial kerap dialamatkan pada anak-anak homeschooling (hs). Sering, setiap kali mengetahui seorang anak mengikuti program hs, pertanyaan yang terlontar adalah, “bagaimana mereka bersosialisasi?” Pertanyaan semacam ini setidaknya datang dari dua kesimpulan yang salah. (1) Satu-satunya tempat bersosialisasi hanya di sekolah. (2) Anak hs dikurung sepanjang hari oleh orangtuanya di rumah. Padahal, kalau kita tinjau-tinjau, sosialisasi itu maksudnya kan kegiatan mengenal lingkungan. Dan dengan demikian, kegiatan apapun yang membuat anak bisa belajar mengenal lingkungan (termasuk orang-orangnya) bisa dikatakan sosialisasi.

Apakah anak yang bersekolah formal sudah pasti punya kemampuan sosialisasi yang baik? Belum tentu. Saya banyak mengenal orang-orang, dari SD-SMA yang tidak punya kemampuan sosialisasi yang memadai. Mereka tidak mampu mengenalkan diri, tidak mampu mengenal kawan-kawannya dengan baik dan tidak mampu pula bekerjasama dengan orang lain. Lalu, muncul pertanyaan berikut. Jika yang bersekolah formal saja tidak bisa bersosialisasi dengan baik, apalagi yang tidak sekolah. Ha-ha, belum tentu juga. Saya banyak melihat anak-anak hs justru memiliki kemampuan bersosialisasi yang lebih baik. Ini karena orangtua mereka kerap membawa mereka belajar di luar rumah, mengunjungi berbagai kegiatan, menemui orang dari beragam profesi, sehingga mereka punya pengalaman interaksi yang kaya.

Tentu tidak semua murid hs demikian, tergantung bagaimana orangtua mendidik. Tetap saja, pada akhirnya, hulu pendidikan ada di keluarga. Mau si anak bersekolah formal atau mandiri, tetap saja, sukses tidaknya mereka tergantung pendidikan di rumah. Anak-anak yang sering mendapatkan kekerasan dalam keluarganya, sering direndahkan, boleh jadi akan mengalami hambatan dalam bersosialisasi dengan lingkungannya. Mereka bisa tumbuh menjadi anak introvert, penyendiri, tidak percaya diri, selalu menyalahkan diri sendiri, tidak mampu membangun ikatan emosi dengan orang lain, atau bisa jadi malah berprilaku negatif. Intinya, kemampuan sosialisasi anak, sebenarnya tidak dibangun di sekolah, tapi di keluarga. Bila keluarga bisa menjadi tempat berpijak yang baik, maka anak bisa melompat menuju pencapaian-pencapaian sosial dan akademik terbaiknya. Sebaliknya, bila landasan di keluarga sangat lemah, sulit bagi anak menemukan pijakan untuk melompat. Meskipun ia berada di sekolah yang punya banyak sekali murid dari beragam kalangan.

Contoh terdekat dalam hal ini adalah putri saya sendiri, Ayesha dan Alifa. Secara ‘formal’ mereka belajar dengan saya di rumah. Kami banyak membahas materi-materi yang ingin dan harus mereka pelajari. Secara ‘informal’ mereka belajar di luar rumah. Datang ke berbagai seminar, belajar di sanggar-sanggar, mengunjungi ragam festival, pergi ke ladang, peternakan, masjid, dan lain-lain. Mereka punya lebih banyak pengalaman berinteraksi dengan beragam orang dari beragam budaya, profesi dan tingkat intelektualitas. Pengalaman mereka bahkan jauh lebih kaya dari pengalaman saya saat seumur mereka. Mereka datang, menyerap lingkungan, lalu belajar bagaimana berprilaku di lingkungan tersebut. Anak-anak saya tahan duduk sekian jam di ruang seminar, tanpa sedikit pun menganggu orang-orang sekitarnya. Mereka tidak merengek atau menangis. Bila bosan mereka akan mengeluarkan buku untuk dibaca atau digambar. Mereka tahu bagaimana harus berprilaku saat di gedung pertunjukan, di masjid, di ladang, di sanggar, di rumah orang, dll. Cara mereka berinteraksi disesuaikan dengan lingkungan. Hal ini bisa terjadi karena saya membiasakan mereka berada di lingkungan-lingkungan tersebut, bahkan sejak mereka masih bayi. Apakah saya merasa terganggu dengan kehadiran mereka? Tidakkah saya ingin menikmati acara sendiri saja tanpa harus dibarengi dengan mengasuh anak-anak? Well, kalau ya, maka itu sedikit porsinya. Tidak sampai 10% dari kesenangan saya datang bersama mereka. Saya justru lebih terganggu bila setelah besar nanti mereka justru tidak tahu bagaimana harus bersikap di tempat-tempat tertentu, karena saya tidak memberi mereka pengalaman. Pengalaman itu mahal. Jika bertemu kesempatan untuk mendapatkannya, maka ambillah.

Anak-anak saya juga tidak menemukan kesulitan dalam bersosialisasi dan beradaptasi dengan tempat baru. Saat saya masukkan dia ke Taman Pendidikan Alquran di masjid kampung, dengan segera ia punya banyak teman baru di hari pertama belajar. Teman-temannya bahkan datang ke rumah sehabis mengaji dan mereka bermain bersama di halaman. Keesokan paginya, datang serombongan anak mengajaknya bermain dan putri saya menjamu mereka dengan kue dadar bikinannya. Hambatan sosialisasi yang kerap dituduhkan pada anak-anak hs, tidak saya temukan pada anak-anak saya.

Jadi, menurut saya, sosialisasi sebenarnya bukan masalah anak-anak hs, tapi masalah anak-anak yang tidak mampu membangun konsep yang positif tentang dirinya, tak peduli dia hs atau bersekolah formal. Kuncinya memang ada pada orangtua. Sejauh mana orangtua mampu berperan dalam menegakkan harga diri anak, sehingga anak bisa memandang positif dirinya sendiri, dan ini berefek pada baiknya kemampuan sosialisasi dia.

Share Button

Leave a Reply

Your email address will not be published.