Novelet Pertama dan Kejutan yang Dibawanya

Tanggal 10 Januari 2015 tanpa sengaja saya membaca status Mas AS Laksana di facebook. Status itu berbunyi begini:

Storyline ini cocok untuk novelet, ada yang berminat mengerjakannya? Monggo dikerjakan cepat, lalu kirimkan naskahnya ke Moka Media: “Pada usia 17 tahun, ia menemukan pacar untuk pertama kalinya, seseorang yang membuatnya meyakini bahwa cinta itu ada, dan ia semakin mencintai pemuda itu dari hari ke hari—hanya untuk melepaskannya lagi karena dunia mereka berbeda: si Pemuda sebenarnya sudah lama mati.”

Storyline tersebut menarik, namun saat itu saya sedang mengerjakan sebuah naskah (editan terakhir), jadi saya mencoba mengabaikannya. Mencoba mengabaikan? ya, karena kenyataannya storyline itu berkelana terus di pikiran saya. Pertanyaan-pertanyaan seperti :Mengapa gadis semuda itu tidak meyakini bahwa cinta itu ada sebelumnya? Bukankah usia 17 tahun adalah usia saat kelopak-kelopak cinta bermekaran? apa hal hebat yang terjadi pada gadis ini? Mengapa ia harus jatuh cinta pada pemuda yang sudah mati? Sangat membingungkan bukan? saya tanpa sengaja memikirkan storyline itu selama lima menit saat tengah mengerjakan naskah saya, lalu menyadari, bahwa saya tak bisa mengabaikannya.

Akhirnya saya menutup naskah saya dan mulai mengerjakan cerita berdasarkan storyline itu. Saya belum punya bayangan jelas tentang ceritanya. Yang saya inginkan hanya menulis dan terus menulis, menanti kemungkinan arah yang akan dibawa imajinasi saya.

Setelah memasuki halaman kedua gambaran cerita awal mulai terbentuk di kepala saya, dan mulai mengkristal di pertengahan cerita. Saya terus menemukan dan merangkai logika cerita sembari terus menulis semua ide yang ada di kepala. Saya mulai mengerjakannya pada hari Senin, 12 Januari dan selesai hari Jumat. Saya mengerjakannya dimanapun ada waktu luang (berhubung saya juga seorang ibu dan punya banyak pekerjaan lain yang tak kalah ruwetnya :v :v ) Saya membawa notebook kemana-mana. Ke tempat les anak saya, ke pustaka daerah, menemani dia mencari buku, dll. Saya mengerjakannya menjelang tengah malam dan disambung selepas subuh. Pokoknya kapan pun ada waktu. Hari Jumat tulisan itu selesai. Saya endapkan selama beberapa jam, lalu saya baca lagi. Endingnya kurang nendang menurut saya, jadi saya ubah dan ganti dengan yang baru. Malamnya saya baca lagi, dan mendapati ending seperti itulah yang lebih senafas dengan keseluruhan cerita. Esoknya cerita itu saya baca lagi dan edit ulang. Siangnya, setelah merasa oke, saya kirim ke Moka Media. Perasaan saya sangat lega setelah mengirim naskah itu. Saya mempersiapkan diri untuk menunggu kabar naskah itu sebulan kemudian.

Namun, betapa terkejutnya saya (nyaris shock malah) ketika esok paginya saat membuka facebook, saya melihat notifikasi dari Mas AS Laksana tentang novelet yang kemarin saya kirimkan. Shock karena tak menyangka respon yang saya terima secepat itu (tercepat sepanjang  sejarah hidup kepenulisan saya (respon tercepat kedua saya terima adalah respon naskah fikfan saya yang sekarang sedang dalam proses editing di sebuah penerbit, dan respon tercepat ketiga diterima oleh novel Kupu-kupu Fort de Kock.). Notif itu berasal dari status Mas AS Laksana yang berbunyi sebagai berikut:

“Mbak Maya Lestari Gf, novelet “Dentang Ketiga Belas”, yang ditulis berdasarkan storyline yang saya sampaikan dalam status beberapa waktu lalu, sudah rampung saya baca. Bagus. Saya akan mengeditnya dan menjadikannya lebih bagus. Itu yang saya pahami tentang editing, yakni menjadikan naskah yang bagus menjadi lebih bagus–dan mencapai kemungkinan terbagus bagi naskah itu.”

 

Benar-benar kejutan. Mungkin memang benar kata orang, naskah yang ditulis sekali jadi (saat ide-ide sedang mengalir deras keluar), cenderung lebih mbulet. Lebih terkristal. Lebih ter…ter..ter…gitulah pokoknya >_<

 

Well, tak sabar menanti novel itu edar di toko dan sampai ke tangan pembaca. 🙂

 

 

Share Button

Leave a Reply

Your email address will not be published.