jangan baca bukunya, jangan tonton filmnya

bb

 

BukuĀ  ini tebalnya 784 halaman–aku tak akan memberitahu judulnya. Kudapat buku ini di rak diskon, dan memutuskan membelinya, bukan karena harganya (karena meski setelah diskon pun harganya tetap tidak murah) tapi karena nama penulis yang tercetak di sampulnya. Aku suka penulis buku ini, dia salah satu penulis favoritku dan aku ingin membaca sekaligus memiliki semua buku yang ia tulis. Tapi bukunya ini beda dari buku-buku sebelumnya. Meski epik, namun mengandung beberapa hal yang aku tidak bisa menerimanya. Ada kisah-kisah yang mengandung –mungkin bisa dikatakan–samacam pelecehan terhadap orang-orang suci dari beragam kepercayaan. Bagi aku yang berpendapat bahwa kebebasan berpendapat tidak sama dengan kebebasan melecehkan kepercayaan orang lain, ini jelas memuakkan.

Alur buku ini berjalan lambaaaat sekali, dan jelas kukira jenis yang bikin bosan, meski konon kabarnya buku ini mendulang laris dimana-mana. Meski demikian aku memutuskan bersabar membacanya sampai ke titik koma ucapan terima kasih dan bla…bla yang ternyata cukup banyak di awal dan di akhir buku ini. Semua kulakukan karena: pertama, aku menghormati karya kreatif penulis ini. Aku bisa merasakan betapa melelahkan dan panjangnya waktu yang ia lalui untuk menuntaskan buku setebal ini. Kedua, karena aku tahu, sebagai penulis, ia jarang melahirkan buku jelek. Buku ini memang lamban, tapi tidak jelek. Ketiga, aku ingin menyerap energi kesabarannya, sesuatu yang dibutuhkan seorang penulis untuk menggarap tema-tema besar, unik, tak biasa, bentuk yang berbeda, mengusung kebaruan dan yang semacamnya.

Dan ya, aku selesai membaca ini dan mencapai satu kesimpulan: aku tidak menyukainya. Bukan karena karya itu jelek, tapi karena aku tidak menyukai gagasan yang kuanggap bentuk pelecehan di dalamnya. Tapi, apakah itu harus membuatku melarang orang membeli dan membaca buku ini? Oh tidak. Itu tak akan kulakukan. Bagiku, hanya ada dua jenis karya di dua ini: karya yang disukai, dan karya yang tidak disukai. Karya yang kita suka bisa jadi dibenci sampai mampus oleh orang lain, sementara karya yang tidak kita suka, boleh jadi dibela sampai mabuk oleh para penggemarnya. Kita tidak bisa memaksakan pandangan kita kepada orang lain, begitu pula sebaliknya. Jadi sungguh sangat tidak etis, bila ada seseorang yang menemukan sebuah karya yang tidak mereka suka, lalu dia mengumumkannya pada publik dan meminta orang-orang untuk tidak menikmati karya tersebut. Bagaimana jika hal serupa menimpa dirinya? bagaimana jika dia juga berkarya, dan ada orang yang melarang orang-orang lain untuk menikmati karyanya?

Gagasan sulit mati. Ketika sebuah gagasan lahir, hanya ada dua pilihan baginya: diterima atau ditolak. Pilihan manapun yang didapat, akan menghasilkan efek yang sama: dikenal. Semakin sering sebuah gagasan dibicarakan (entah dalam kapasitas diterima atau ditolak) semakin populer ia. Gagasan mungkin bisa mati dan hilang seperti dewa-dewa kaum pagan yang dilupakan. Tetapi, itu membutuhkan perjalanan waktu yang panjang.

Jadi jika engkau tidak menyukai sebuah gagasan dalam karya kreatif, yang perlu kau lakukan adalah buat gagasan tandingan, sampaikan dalam cara yang jauh lebih baik dan mempesona dari karya kreatif yang tidak engkau suka. Timpa gagasan itu dengan gagasan yang lebih besar, sehingga gagasan lama tak sanggup bahkan untuk sekadar mengintip dari balik tepiannya. Ada pelajaran sangat berharga yang dicontohkan Hassan Al Banna. Ketika ada seseorang menulis sebuah buku yang menurut murid-murid Al Banna sangat kontroversial dan dianggap melecehkan Islam, sehingga mereka merasa harus membalasnya di berbagai media, yang dikatakan Al Banna adalah: “Biarkan.” Bila hal itu diumumkan di media-media, buku itu akan populer dan gagasannya akan diketahui lebih banyak orang. Dengan mendiamkan, gagasan itu akan mengendap dan akhirnya terlupakan. Dalam hal ini, Al Banna menghindarkan diri dan murid-muridnya dari memperdebatkan hal yang tidak perlu, yang sebenarnya akan berlalu seiring berjalannya waktu.

Jadi? ya tak perlulah sampai mengumpati sebuah karya kreatif di media sosial, apalagi melarang orang menikmatinya. Tahanlah diri. Buatlah gagasan sendiri. Itu jauh lebih baik ketimbang memancing kontroversi di sana sini.

Share Button

Leave a Reply

Your email address will not be published.