Penderitaan Lelaki, Kepedihan Perempuan

Sejujurnya saya ingin memulai tulisan ini dengan kalimat: aku perempuan maka aku istimewa. Bukan karena ingin meniru cogito ergo sumnya Rene Descartes, tapi karena saya ingin merasa demikian. Tapi tidak. Saya tidak bisa menulis kalimat itu, sebab, dengan menulisnya berarti saya akan menganggap makhluk lainnya–dalam hal ini lelaki–tidak istimewa. Sebab–anda tahu sendiri–bahwa sesuatu tidak akan menjadi istimewa jika berada di lingkungan yang sama istimewanya dengan dia. Einstein tak akan menjadi betul-betul istimewa, bila ia duduk bersama Isaac Newton dan Stephen Hawking, tapi Einstein baru terlihat istimewa bila ia duduk bersama saya. Semua orang di planet ini sepertinya ingin selfie bareng Einstein, tapi tak ada orang yang mau susah payah untuk selfie bareng saya -_- . Jadi jelas, dari banyak sisi Einstein jauh lebih istimewa dibanding saya.

Mengapa saya tidak merasa istimewa? Jawabnya sederhana, karena yang selain saya–dalam hal ini lelaki–juga istimewa. Baik perempuan maupun lelaki sama-sama istimewa, pun sama-sama tidak istimewa, tergantung dari sisi mana kita melihatnya. Keduanya sama-sama bisa bahagia atau sedih. Pintar atau geblek. Terikat atau merdeka. Korban atau pelaku. Keduanya sama-sama bisa terpenjara dalam pikiran sendiri, bisa mengambil keputusan salah, sangat relijius, mencapai maqam malaikat atau turun menjadi setan. Kualitas keduanya sama, cara mencapainya yang mungkin berbeda. Nilainya bisa sepuluh atau nol sama sekali. Tak ada yang saling melebihi, pun tak ada yang terlalu kurang. Jadi naif sekali rasanya, bila ada yang meninggi-ninggikan satu pihak, atau yang melulu mengemukakan penderitaan satu pihak, tanpa mencoba melihat pihak lain dengan cukup adil.

Siapakah yang bisa dan pantas untuk merasa tertekan dan menderita dalam kehidupan sosial? Keduanya. Memang, perempuan banyak mengalami tekanan seiring pertambahan usia dan perubahan statusnya. Bila ia masih gadis ia diharapkan berpenampilan begini begitu, bersikap begini begitu, bila umurnya sudah mencapai tiga puluh, ia harus menghadapi tekanan orangtuanya yang tak mau sang anak jadi perawan tua. Jika ia sudah menikah, ia dituntut harus patuh pada suami, bisa mengurus rumahtangga dengan baik, bila pekerjaan rumah tak selesai, ia akan dicela, kok pekerjaan remeh itu saja tidak bisa dibereskan! Dasar istri tidak pintar! Lalu muncullah iklan-iklan bumbu dapur dan cairan pembersih lantai yang memberi contoh bahwa istri pintar masak dan tahu cara membersihkan rumah, adalah istri yang pantas disayang. Bila ia punya anak, ia wajib mendidik anak-anaknya sampai menjadi manusia berguna, bila anaknya ternyata tak seperti yang diharapkan, maka orang-orang bahkan suaminya sendiri akan mencapnya sebagai ibu tolol. Tekanan demi tekanan dihadapi perempuan untuk menjadi yang terbaik, terhebat dan tersempurna sehingga layak disebut ibu super, yakni ibu yang multitalented. Bisa melakukan apa saja. Bagi mereka yang tidak tahan, semua tekanan itu bisa membikin gila.

Tetapi jangan dikira lelaki tidak mengalami tekanan yang setara. Ketika ia kanak-kanak ia dibentak supaya jangan menangis, karena itu membuatnya terlihat cengeng. Padahal tangis setara tawa, sama-sama ungkapan perasaan. Mengapa yang satu boleh ditampakkan, yang satu lagi tidak? Seakan-akan tangis adalah anak haram jadah dalam dunia ekspresi kaum lelaki. Ketika remaja ia harus terlihat macho bak superhero. Jika jalannya kemayu sedikit saja, ia langsung disoraki bencong, dilempari sepatu, ditendang. Ketika ia punya minat menari atau menjahit, ia langsung diseret ke dunia mesin. Ini duniamu! Lelaki tidak mengerjakan pekerjaan perempuan! Ketika dewasa ia diharuskan berdaya, mampu menghidupi diri sendiri. Sebab kau, Nak, akan menjadi seorang suami yang harus mampu menafkahi anak istri. Ketika ia belum juga mampu menghasilkan uang untuk menikahi perempuan yang dicintainya, ia dicela, dasar tolol! Dulu waktu remaja ngapain aja? Hura-hura gak keruan! Sekarang pas mau nikah baru kelabakan! Setelah menikah ia harus menghasilkan uang sekian sekian untuk menghidupi dua orang, lalu tiga orang, empat orang, tergantung berapa jumlah anak. Lalu hidupnya hanya berputar ke soal mencari uang supaya istri dan anak-anaknya tak kelaparan. Bayangkan Karl Marx yang terpaksa melihat satu persatu anak-anaknya mati dalam kemiskinan. Tidakkah ini namanya maha penderitaan?

Lelaki sering menjadi pelaku kekerasan dalam rumah tangga. Apakah benar? Kalau ya, klaim itu harus disertai data, sebab, kita membicarakan fakta. Memangnya perempuan sangat jarang melakukan kekerasan dalam rumahtangganya? Saya besar dengan melihat banyak sekali kekerasan yang dilakukan para istri terhadap suaminya. Jika suami pulang tidak bawa uang, pintu dikunci, suami tidur di teras. Suami dimaki-maki, direndahkan harga dirinya di depan orang ramai, bahkan saya mengetahui ada istri-istri yang menyimpan makanannya hanya karena suami tidak membawa cukup uang ke rumah. Mau nyuruh suami mati kelaparan? Dan ingat, kaum ibu juga bisa melakukan kekerasan terhadap anak-anaknya. Betapa banyak saya melihat dengan mata kepala sendiri para perempuan yang memukuli anak-anaknya sendiri, memaki dengan sebutan anjing! Anak setan! Tega meninggalkan anak-anaknya, bahkan ada yang menghabisi buah hatinya sendiri.

Apakah kekerasan yang dilakukan perempuan sebagai akibat dari kekerasan yang diterimanya dari lelaki? Belum tentu. Sependek pengalaman, pengetahuan dan penglihatan saya, ada perempuan-perempuan yang melakukan tindakan kasar karena memang sudah bawaannya begitu. Merasa benar sendiri, tidak mau berubah, dan anehnya kadang merasa bangga sudah menjadi sang superior di rumahnya sendiri. Mirip dengan sebagian lelaki yang merasa hebat karena istrinya tunduk dan takut padanya. Jadi dalam banyak hal, lelaki dan perempuan itu sebenarnya sama saja. Sama-sama bisa pintar atau tolol.

Jadi, sebenarnya baik lelaki maupun perempuan sama-sama punya tekanan dalam hidupnya. Bentuknya beda, kualitasnya setara. Dan tentu saja kita tidak bisa mempersoalkan bentuk, sebab ia abstrak, dan hanya bisa dirasakan oleh yang mengalaminya.

Share Button

Leave a Reply

Your email address will not be published.