Ada yang Salah Dalam Kepala Saya

Sejujurnya saya ingin sekali menulis sering sering di blog ini. Too much things in my head, dan saya ingin mengeluarkan semuanya. But something wrong with me. Setiap kali membuka dashboard saya paling cuma melamun, memikirkan hal-hal yang sering tak ada kaitannya dengan yang ingin saya tulis. Misalnya tentang dua perempuan yang saya temui di angkot, percakapan dengan seorang teman di Rimbun Café (café kopi favorit saya, meski saya di situ hanya minum teh dan makan beberapa kue), atau tentang hal-hal yang mungkin kurang penting untuk situasi saat itu. Misalnya, mengingat bagaimana lekuk daun saat ia diterbangkan angin, bagaimana sinar matahari berkelap di antara daun-daun akasia yang hijau dan kasar, bagaimana seekor ulat melongokkan kepalanya dari sebuah lubang di buah belimbing—yang astaganaga, buah itu bahkan ada di kebun ayah saya di kampung, dan saya lupa kapan melihat buah itu, mungkin enam bulan lalu, atau justru setahun lalu—atau mengingat bagaimana berisik orkes yang dihajat orang-orang saat malam pergantian tahun. Saya bahkan mengingat bagaimana saya naik kereta api saat masih kecil—sejenis ingatan samar-samar karena saya mungkin naik kereta api itu saat belum lagi berusia empat tahun—dan ayah menggendong saya. Kami berdiri di koridor kereta dan saya dengan heran menyadari benda yang kami tumpangi ternyata bergerak. Jendela-jendela menampilkan bayangan pepohonan dan rumah-rumah. Orang-orang berbicara dan tertawa. Dan saya cuma bisa terpesona.

Mungkin seharusnya saya menulis sesuatu. Tentang cara menulis fiksi yang baik dan benar (astaga, saya bahkan ngeri dengan topik ini, adakah sebuah karangan tentang cara menulis fiksi yang baik dan benar?), cara membuat panekuk stroberi, cara melipat seprei (kalau sampai saya menulis ini, betapa parahnya saya membuat pencitraan terhadap diri sendiri, karena serius, sampai sekarang saya bahkan tidak pandai melipat seprai yang ujung-ujungnya mengkerut itu, dengan benar), atau mungkin saya bisa menulis tentang diari seorang penulis. Ya, diari! Ha-ha, betapa kerennya topik itu. Saya kira itu ide yang luar biasa super duper keren sekali. Sebagian orang kadang suka mengintip diari orang lain, dan kalau saya membuat diari seorang penulis, betapa wakwawnya itu. Saya kira akan banyak orang yang mengintip web ini sekadar untuk tahu saya secara personal. Seperti apa merk sampo yang saya pakai, jam berapa saya bangun setiap hari, apa makanan favorit saya, kejadian memalukan apa yang saya alami hari ini de-es-be de-es-be
Tapi, parahnya saya bahkan tidak suka menulis diari. Saya tidak suka menulis apa yang saya pikirkan secara terbuka di atas sebuah kertas. Apakah saya harus menulis, “hari ini aku ketemu Maggie, astaga, cantik sekali dia hari ini. Kok bisa wajahnya yang jerawatan itu menjadi mulus kayak porselen cina? Kulitnya pun nggak hitam lagi. Ajaib banget, dua bulan nggak ketemu dia bisa jadi putih dan kinclong begitu kayak Syahrini. Jangan-jangan dia pakai suntik peluntur pigmen. Itu lho, Diary, sejenis suntikan yang mampu meluruhkan warna hitam kulitmu. Membuatmu jadi putih bersih seakan-akan kau memang ditakdirkan Tuhan lahir dengan kulit berwarna itu. Tapi, kata temanku yang orang salon, suntik macam begitu bikin ketergantungan. Mesti terus dilakukan tiap enam bulan sekali seumur hidup, atau setidaknya sampai batas terkuat tubuh menahan semua zat kimia itu. Ketika tubuh sudah tak kuat, maka suntik pigmen sehebat apapun takkan mempan, dan tubuhmu mengalami degradasi gila-gilaan. Betapa kasihannya si Maggie kalau memang dia sampai melakukan itu. Kosmetik yang bagus itu kan bukan yang memutihkan, tapi yang membantu membersihkan dan mencerahkan, apapun warna kulitmu.” Astaga…saya tak percaya akan nulis yang beginian di diary. Kok terlalu tidak cetar membahana isinya. Terlalu…terlalu…terlalu susah diungkapkanlah pokoknya.
Jadi, inti dari semua ngalor ngidul nggak keruan ini adalah, saya nggak punya ide untuk menuliskan hal-hal penting yang ada di pikiran saya. Saya cuma mempostingnya di facebook atau instagram. Betapa malangnya.

Saya pikir, sebelum ocehan ini jadi ngelantur kemana-mana, mending disudahi saja. Dan kalau kamu tiba-tiba jadi galau setelah membaca ini, maka satu-satunya hal yang bisa saya harapkan adalah: maapken karena saya telah mengacaukan harimu yang indah. Semoga tidak terjadi lagi.
Ah. Menulis itu memang tidak mudah. Ha-ha-ha.
Nb. Nah, karena kamu sudah membaca tulisan ini, maka jangan percayai semua tips menulis dari saya. Yakinlah bahwa itu seringnya tidak berguna, terutama bagi diri saya sendiri. Camkan itu baik-baik.

Dadah.

Share Button

Leave a Reply

Your email address will not be published.