Labirin Sang Penyihir, Hati-hati Dalam Perangkapnya

Mereka kira itu hanyalah labirin biasa
Ternyata perangkap sang penyihir untuk menjebak semua anak-anak di dalamnya
dan kini mereka harus memecahkan teka-teki untuk bisa ke luar
namun itu tak mudah, karena sang penyihir selalu mengintai
dan lorong buntu labirin siap memenjarakan mereka selamanya

11076226_10152914214309830_3287684056841479528_n

 

 

 

 

 

Ini bukan Maze Runner meskipun beberapa orang menyimpulkan–dari judulnya–bahwa cerita ini akan mirip seperti novel James Dashner itu. Settingnya memang sama-sama labirin atau maze (istilah kerennya), namun setting, tokoh, bentuk dan blabla lainnya jauh sekali berbeda. Saya sendiri baru tahu kalau Maze Runner mengisahkan anak-anak dalam labirin setelah menyelesaikan naskah Labirin Sang Penyihir ini. Alkisah, setelah suami saya tahu bahwa novel saya bersetting labirin, ia pun membelikan saya novel ini. Awalnya khawatir juga sih, kalau-kalau ceritanya bakal mirip. Kan nggak emejing banget ya setelah menulis 160-an halaman, tiba-tiba mengetahui ada orang lain yang sudah membuat cerita serupa, dan gawatnya cerita itu terkenal pula. Saya akan dituduh pengekor dong :v :v

Wahaa….untunglah ya ternyata tidak. Maze Runner itu sejenis dystopia, yakni suatu genre yang berlatar masa depan, dan manusia di situ hidup dengan teror dan pesimisme, kebalikan utopia lah ya. Di dystopia, teman sekaligus musuh manusia adalah teknologi yang saking majunya, kadang nggak terjangkau oleh nalar saya yang lemah ini (IQ berapa IQ haha…), sementara Labirin Sang Penyihir berlatar masa kini, bertempat di Indonesia dan tokoh-tokohnya adalah anak-anak Indonesia berumur hingga 15 tahun. Tokoh utamanya satu, pemeran pembantunya dua dan figurannya banyak. Kalau sang penyihir itu pemeran utama atau pembantu atau figuran ya, hahaha…jadi bingung sendiri (dasar penulis amatiran), mungkin jadi pemeran utama juga ya, soale cerita gak bakalan jalan kalau sang penyihir ini gak ada. Nah, sekarang jadi tahu kan apa artinya pemeran utama, yakni (ehem…langsung pakai blazer dan kacamata mainan, dan bergaya bak guru di depan papan tulis hahaha), eh apa tadi? ha o iya, pemeran utama adalah suatu peran yang cerita tidak akan berjalan kalau dia nggak ada (berasa pinter >_< ).

Okeh ya kembali ke topik. Labirin Sang Penyihir bercerita tentang sekelompok anak-anak yang masuk ke dalam sebuah labirin di arena permainan. Nah bagi kamu-kamu yang doyan ke pasar malam waktu kecil, mungkin pernah masuk wahana permainan yang satu ini. Biasanya sih, dalam labirin permainan itu ada hadiah-hadiah yang ditaruh di tempat-tempat tersembunyi gitu, jadi  ketika seseorang masuk ke labirin, selain nyari jalan ke luar, juga nyari hadiah gitu. Hadiah yang paling sering ditaruh adalah permen (kayak hadiah-hadiah yang sering saya dapat kalau ngunjungi swalayan gitu ya. Kalau belanja dengan kelipatan sekian sekian, akan dapat kesempatan nusuk sebuah balon yang isinya kertas bertuliskan hadiah. Di bawah balon-balon itu hadiah keren-keren dipajang cantik sekali. Ada kulkas, televisi, mesin cuci bahkan motor. Menurut saya, pajangan itu salah satu upaya paling wakwaw yang dilakukan pihak swalayan untuk menjebak pembeli dungu macam saya ini. Sebab, saya jadi belanja banyak-banyak dong supaya bisa nusuk itu balon-balon. Dan selalu, balon-balon yang berhasil saya tusuk mengeluarkan kertas yang isinya kira-kira begini: selamat. anda beruntung mendapat sekotak permen hari ini. Jangan bosan belanja lagi di tempat kami untuk mendapat hadiah-hadiah yang paling menarik! Weeeehhh, bener-bener @#$%$@^^**%%#@ lah.  Harapannya pengen dapat kulkas, tahunya cuma permen doang -_- (perhatian, harap jangan dipercaya betul cerita ini ya.)) Nah, kembali ke topik, jadi kelompok pasar malam di novel Labirin Sang Penyihir ini, selalu singgah ke berbagai daerah di Indonesia. Lama domisili di setiap daerah sekitar sebulan Mereka nggak tahu kalau ada penyihir yang membonceng pasar malam itu, mereka kira sang penyihir adalah bagian dari tim mereka juga gitu. Sang penyihir ini memiliki labirin yang sengaja ia buat untuk memerangkap anak-anak yang matanya selalu hijau setiap kali melihat ragam permainan (ya kayak saya waktu kecillah, kalau sekarang sih sudah insyaf >_< ). Nah salah satu anak yang kemudian terjebak itu adalah Attar. Dengan mata kepala sendiri ia menyaksikan si penyihir mengkopi dirinya dan mengirim anak hasil kopian itu pulang ke rumah orangtuanya. Sakitnya itu di sini loh (nunjuk dada Attar), kok bisa-bisanya ada orang yang ngaku sebagai anak orangtuanya, dan mengambil semua teman-temannya. Tapi, Attar bisa apa? toh anak itu mirip sekali dengan dia, dan lagi, dia kan terperangkap dalam labirin.

Akhirnya setelah merasa putus asa selama beberapa waktu, ia mulai berupaya mencari jalan keluar berbekal buku teka-teki di tangannya. Buku itu diberikan seorang anak perempuan cantik berambut halus seperti sutra yang ia kenal sebagai Mandira. Setiap anak yang baru masuk labirin mendapat buku teka-teki. Mereka hanya boleh menjawab salah sebanyak tiga kali. Lebih dari itu, kesempatan mereka untuk keluar tertutup sudah. Say bye bye aja dengan dunia luar. Gawatnya, jawaban teka-teki sulit dan menjebak, pun setiap kali pertanyaan terjawab, bahaya akan bermunculan, belum lagi sang penyihir yang selalu berusaha mencegah setiap usaha Attar menemukan pintu demi pintu ke luar. Upaya itu makin sulit dengan maraknya pesimisme anak-anak yang sudah terjebak bertahun-tahun di dalam labirin. Ya, apa yang bisa dilakukan dengan itu? Setelah bertahun-tahun hidup dalam ketakutan, apakah masih bisa diharap orang untuk terus optimis? Mereka kan tidak hidup dalam dunianya para motivator >_<

Saya membuat semacam twist di akhir cerita. Tidak semua hal sebagaimana kelihatannya. Dunia ini punya banyak rahasia, dan kita tidak mungkin mengetahui semuanya. Saya mencoba mengajak pembaca Labirin Sang Penyihir untuk melihat bahwa ada hal-hal lain yang harus kita ketahui sebelum mulai menghakimi sesuatu. Kita tidak hidup dalam foto polaroid gitu, dimana segala sesuatunya cuma berwarna hitam dan putih. Ada hal-hal yang harus kita lihat dengan kebijaksanaan yang tinggi. Pada akhirnya, jika kita sedia merendahkan hati untuk memahami banyak hal dari berbagai sisi, kita akan mampu mendengar suara-suara kebajikan terhalus dari alam ini.

Well ya, ini bukan sekadar novel biasa berisi pertarungan antara yang baik dan benar. Ini lebih dari itu. Ada hal-hal yang bersifat filosofis yang saya sampaikan di sini. Hal-hal yang juga menjadi pertanyaan-pertanyaan dalam hidup saya. Hal-hal yang saya ungkapkan secara halus, menjadi urat-urat, darah dan tulang dalam cerita Labirin Sang Penyihir.

Pembaca awal novel ini berasal dari beragam usia. Mulai dari anak-anak, remaja sampai dewasa. Jadi, novel ini sudah lewat tes awal gitu ^_^ tinggal menunggu gimana hasilnya di tangan pembaca Indonesia secara luas.

Novel ini terbit April 2015 di Kakilangit Kencana (imprint Prenada Media Grup). Bagi yang ingin memilikinya silakan melakukan pemesanan ke email mayalestarigf@gmail.com. Harganya Rp. 50 ribu (di luar ongkos kirim)

 

Share Button

Leave a Reply

Your email address will not be published.