#2 Diari Seorang Penulis: Maya Lestari Gf yang Takut Pada Permen Karet, Adonan Lengket dan Kerupuk Masuk Angin

Mungkin aku akan membuat #Diari Seorang Penulis ini seperti catatan si Wimpy dalam Diary of a Wimpy Kid. Itu cerita anak-anak beken karangan Jeff Kinney. Saking bekennya sampai dibuat berseri, dan difilmkan secara berseri pula. Aku lupa apa pernah nonton film ini…o iya! aku pernah nonton film ini sekali. Sekitar tiga atau empat tahun lalu. Aku minjam di rental film. Ceritanya yah…lumayanlah.

Atau mungkin…(tunggu! menurut aturan tata paragraf yang benar, kata penghubung TIDAK BOLEH berada di awal paragraf, jadi, paragraf kedua ini bisa dibilang nilainya minus menurut para pakar tata bahasa. Tapi, mari pura-pura saja paragraf yang ini sudah benar ya. Please please haha….)…ehm…kita lanjut ya setelah tadi dijeda iklan tata bahasa, mungkin aku akan membuat diari ini semacam diari si Alvin Ho karya Lenore Look. Si ALvin Ho ini menulis ketakuta-ketakutannya di diari tersebut. Misal: Alvin Ho takut berkemping, hiking, bencana alam dan anak perempuan. Alvin Ho alergi pada sekolah dan hal-hal menakutkan dan blablabla. Jadi karena teori menulis yang kedua adalah (teori pertama: tulis apa aja yang terpikir) tiru gaya tulisan pengarang favoritmu, maka–meski aku nggak memfavoritkan Jeff Kinney dan Lenore Look– Diari Seorang Penulis yang kedua ini akan meniru cara Jeff Kinney dan Lenore Look bercerita.

Aku akan memberi judul diari ini dengan: Maya Lestari Gf, penulis yang takut pada  permen karet, adonan lengket dan kerupuk masuk angin.

Berikut uraiannya.

1. Permen Karet

Aku  berkali-kali mengalami kejadian buruk dengan permen karet. Kejadian buruk ini terbagi menjadi dua: kejadian yang disebabkan olehku sendiri, dan kejadian yang disebabkan oleh orang lain.

1.a. Kejadian buruk yang disebabkan olehku sendiri.

Waktu kecil, aku dan teman-teman suka sekali membeli permen karet warna warni berbentuk kelereng. Dulu harganya Rp. 25 >_< Kalau ibu sudah ngasi jajan, makanan pertama yang dibeli adalah permen karet. Aku dan teman-teman akan sama-sama mengunyah dan berlomba-lomba membuat balon. Siapa yang balonnya paling besar, dialah pemenangnya. Gawatnya, aku sama sekali nggak tahu bagaimana cara meniup permen karet supaya jadi balon. Meski sudah ribuan kali berusaha, tapi balon itu tak pernah tercipta. Orang bilang, usaha keras pasti akan membuahkan hasil. Contoh yang selalu diberikan adalah Thomas Alfa Edison.

“Bayangkan!” seru sang motivator, “Edison sudah melakukan 999 kali percobaan dan gagal. Apa jadinya kalau ia menyerah di percobaan yang ke 999 kali? kita nggak akan punya lampu!” (well, ya menurutku ini berlebihan, karena kalau Edison nggak menemukan lampu, toh orang lain yang akan menemukannya, dan kita di masa sekarang tetap akan punya lampu. Tapi abaikan saja ini, kita fokus pada maksud sang motivator). “Karena dia punya prinsip tidak mau menyerah, maka di percobaan yang ke seribu, dia berhasil menemukan lampu!”

Dan peserta pun bertepuk tangan.

Oke, aku tahu formula berhasil itu, tapi agaknya formula itu tidak mempan padaku. Aku sudah mencoba setidaknya 1.887.999 kali untuk membuat balon permen karet, tapi tidak berhasil (tolong abaikan angka di atas saudara-saudara!). Apakah aku harus menggenapkan usaha ke angka 2.000.000? oh kalau itu sampai terjadi pastilah bibirku sudah memble-memble. Dan itu makin memperparah usahaku untuk menciptakan balon. Jadi jelaslah sudah, permen karet adalah mimpi burukku. Selalu, dalam setiap perlombaan meniup balon permen karet, aku menempati kursi juara satu dari belakang (hikz…hikz…)

1.b. Kejadian buruk yang disebabkan orang lain.

Ini salah satu hal paling menyebalkan dalam hidupku. Ada orang-orang yang tak bertanggungjawab, yang setelah makan permen karet seenaknya aja meludahkan ampas permen itu ke jalan. Aku nggak ingat sudah berapa kali aku terpaksa menyingkirkan ampas permen yang lengket itu dari tapak sepatuku. Huh, tahu begini mending aku hidup di Singapura aja! (mulai drama >_<) apa susahnya sih menaruh ampas permen itu ke dalam kertas pembungkusnya dan membuangnya ke tong sampah? Nggak ada tong sampah gitu? kantongin dong! nggak ada kantong gitu? pegang aja! Lagi bawa banyak barang gitu? ya udah, ke laut aja -_-*

Sahlah sudah, permen karet adalah salah satu mimpi buruk dalam hidupku :v :v

 

2. Adonan Lengket!

Aku suka kue, suka membuatnya tapi benci adonan lengketnya. Adonan yang melekat di tangan, susaaaaah sekali dibersihkan, apalagi kalau adonannya pakai mentega. Aku mesti menggosok-gosok tangan dengan spon pencuci piring yang kasar, di bawah kran air selama kira-kira dua menit. Parahnya, saat membuat adonan, kadang aku harus mengambil gelas, mangkok atau apa gitu, dan adonan yang melekat di tanganku, akhirnya melekat pula di barang-barang itu. Ini membuat aku kerja dua kali. Mencuci tangan dan mencuci adonan yang nempel di wajan. Ini membuat aku sering berkhayal punya robot yang kerjanya khusus membersihkan adonan lengket dengan sekali tiup. Haha…ada nggak ya..

3. Kerupuk masuk angin.

Nah makanan yang satu ini sering menipuku. Beberapa jam setelah digoreng, kerupuk yang nggak dimasukkan ke stoples biasanya jadi masuk angin, alias lunak alias nggak kriuk kriuk lagi. Beberapa kali aku mengalami kejadian buruk yang membuatku galau sepanjang hari (drama!). Saat mengigit kerupuk, ternyata kerupuknya udah keras, seperti kerupuk mentah. Nah bayangkan itu saudara saudara! betapa mengerikannya kejadian ITU! Sakitnya tuh di siniiiii (nunjuk gigi).

Oh well yah, beberapa waktu lalu seorang relawan yang biasa menangani trauma korban KDRT bertanya dalam English Club yang kuhadiri.

“Apa traumamu?” tanyanya, “ungkapkan di sini, dan ceritakan pada kami bagaimana caramu mengatasinya.”

Aku berpikir-pikir, apakah seharusnya kubilang aku trauma pada permen karet, adonan lengket dan kerupuk masuk angin? ah, kalau aku bilang, nanti semua orang pada takjub secara mengkhawatirkan padaku. Yang lain traumanya betul-betul keren (kalaulah itu bisa disebut keren -_-), seperti trauma sama ular, gempa, kecelakaan lalu lintas. Lah, masa aku dengan polosnya bilang kalau aku trauma dengan permen karet karena nggak pernah berhasil meniupnya jadi balon? kan nggak wakwaw banget ya? trauma ama Voldemort, ama Orc, atau ama Saruman kek! (korban novel fantasi) lah ini trauma permen karet -_- nggak zekzih banget gitu >_<

Haha…nggak usah dipikir-pikir bangetlah tulisan ini, aku juga nulisnya nggak pake mikir hahah…pokoknya nulis aja dengan meniru gaya Lenore Look sesuai TEORI MENULIS YANG CETAR MEMBAHANA KARANGAN MAYA LESTARI GF. HAHA…tapi serius, apapun teori atau tips menulis yang kamu baca di web ini, jangan terlalu dipercaya, karena seringnya tips itu tidak berhasil untuk diriku sendiri. Hahahaha…….

byebye

 

Share Button

2 Replies to “#2 Diari Seorang Penulis: Maya Lestari Gf yang Takut Pada Permen Karet, Adonan Lengket dan Kerupuk Masuk Angin”

  1. endah

    Bacanya agak bingung, tapi mengerti intinya: Pokoknya nulis nggak pakai mikir. Edit belakangan. Ah, mungkin gara-gara kebanyakan mikir, ya, saya… ah sudahlah. Trims Mba Maya. 😀

    • admin

      ini sebenarnya kisah sehari-hari saja. Ditulis tanpa banyak teori. Pokoknya apa yang terlintas, langsung dituliskan ^_^

Leave a Reply

Your email address will not be published.