Bastian dan Jamur Ajaib: Sebuah Kilasan

24953633

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Begini, saya bukan tipe orang yang suka mereview buku-buku yang saya baca (sejenis kebiasaan buruk yang coba saya berantas dengan mendirikan grup literasi online Titik Temu yang salah satu misinya adalah, mereview buku-buku keren), bukan karena malas, tapi karena agenda mereview itu tidak built in di kepala saya. Kalaulah saya sempat mereview, itu boleh jadi karena, buku itu bagus sekali atau karena sudah berjanji untuk mereviewnya. Nah, kali ini kebetulan saya bertemu sebuah buku yang masuk ke dua kategori, buku bagus dan janji untuk mereview. Buku itu berjudul Bastian dan Jamur Ajaib, kumpulan cerpen Ratih Kumala. Ratih termasuk penulis bagus Indonesia. Namanya melejit setelah naskah novelnya, Tabula Rasa memenangkan sayembara novel DKJ. Salah satu bukunya yang cukup menyedot perhatian adalah Gadis Kretek (2012). Novel itu masuk ke dalam Top Five Khatulistiwa Literary Award 2013, sebuah ajang penghargaan sastra bergengsi di Indonesia.
Bastian dan Jamur Ajaib berisi sembilan cerpen. Cerpen paling ‘tua’ berjudul Lelaki di Rumah Seberang, pernah dimuat Jurnal Nasional edisi 9 Juli 2006. Cerpen yang termuda adalah Pacar Putri Duyung, dipublikasi oleh edisi Media Indonesia pada 24 Agustus 2014. Semua cerpen di dalam buku ini kuat dan bertenaga. Namun, kalau boleh memilih yang mana favorit saya, maka saya bisa menyebut dua cerpen, yaitu Ah Kauw dan Foto Ibu.
Ah Kauw mengisahkan hidup seorang tionghoa bernama Ah Kauw yang bekerja sebagai penggali makam. Suatu kali, ia ditawari untuk menjadi tukang bongkar kuburan untuk membantu pengusaha yang ingin membangun mall dengan menggusur pemakaman. Pekerjaan itu dilakoninya dengan senang hati, selain karena upah yang lumayan, ia juga sering menemukan harta karun dari kuburan orang-orang yang ia bongkar. Namun, keluarganya tidak senang dengan pekerjaan Ah Kauw. Orangtuanya berpendapat pekerjaan itu akan membuatnya dikutuk para leluhur. Lagipula, menjarah harta orangmati sama artinya dengan mencuri. Namun Ah Kauw tidak mendengarkan, dan seperti peringatan orangtuanya, hidup Ah Kauw kemudian dibuntuti rentetan kutukan.

Cerpen ini paling menarik bagi saya karena terasa sangat bulat dan utuh. Ini adalah sejenis cerpen, yang ketika seseorang selesai membacanya, akan tertegun sejenak dan berkata “oh.” Penuturannya sederhana, namun mengena. Ibarat pertandingan sepakbola yang kedua tim sama-sama bermain ofensif, cerpen ini selalu menyodorkan ketegangan demi ketegangan, pengertian demi pengertian, untuk kemudian mengejutkan kita dengan sebuah gol di akhirnya. Cerpen ini menyentil kenyataan dengan cerdas. Menyodorkan satu fenomena yang jamak ditemui, yang Ratih sendiri tidak membiarkannya sekadar menjadi fenomena belaka. Dia mengakhirinya dengan sebuah …apa namanya, pemecahan? Pemahaman? Perenungan? Ada sebuah pikiran yang ditawarkan Ratih di dalam cerpen itu. Dan itu menurut saya keren sekali.

Cerpen Foto Ibu termasuk cerpen yang sangat indah menurut saya. Cerpen ini mengisahkan cinta seorang anak perempuan pada ibunya. Bahasanya seperti bahasa surat. Manis dan mendatangkan rindu. Cara si anak perempuan bercerita (dan tentunya cara Ratih bercerita ya) membuat sosok si ibu tampil sangat jelas dan berkarakter. Dia mengisahkan keanggunan, kekuatan mental, kekerasan hati dan kelembutan sang ibu melalui pemilihan kata dalam dialog dan narasi yang diucapkan si aku (anak perempuan). Yang paling unik bagi saya adalah keinginan si anak untuk memiliki tato wajah ibunya. Menurut saya itu cara yang cukup cerdas untuk menunjukkan sekuat apa cinta sang anak pada ibunya.
Cerpen-cerpen Ratih yang lain bagus-bagus, dan boleh jadi, meski bukan favorit saya, akan menjadi favorit pembaca lain, sebab selera itu subjektif. Cerpen Ode untuk Jangkrik berkisah tentang kegemaran anak-anak kampung pada permainan adu jangkrik. Cerpen Nonik mengisahkan kepahitan seorang perempuan muda yang menjadi simpanan seorang lelaki tua kaya raya. Cerpen ini digarap dengan alur maju mundur.
Cerpen Nenek Hijau mengisahkan mitos-mitos seputar mimpi basah pertama anak lelaki.
Menurut saya, dari semua cerpen Ratih di buku ini, cerpen Nenek Hijaulah yang paling unik karena bentuknya mirip mitos yang diremake, layaknya legenda rakyat Eropa yang digarap secara modern oleh Hollywood. Cerpen Tulah saya kira akan menjadi salah satu cerpen favorit banyak pembaca. Pertama, karena bahasanya kuat, frasanya bagus dan penuturannya mengesankan. Cerpen ini menceritakan lintasan beberapa abad sejarah kenabian.
Telepon mengisahkan kehidupan puluhan tahun sepasang manusia yang terhubung melalui sebuah telepon. Lelaki di Rumah Seberang menceritakan pikiran-pikiran seorang perempuan renta yang tinggal di panti jompo. Keretamu Tak Berhenti Lama mengisahkan batas kesabaran tertinggi yang mampu dihadang seorang perempuan bernama Ning dalam menghadapi kemiskinan dan suami yang tidak bertanggungjawab. Dalam Rumah Duka kita dihadapkan pada ketabahan seorang istri, yang setelah suaminya wafat baru mengetahui bahwa ia telah diselingkuhi selama 17 tahun, sementara di cerpen Bastian dan Jamur Ajaib, kita disuguhi luka-luka batin yang didera seorang Bastian pasca tewasnya sang kekasih.
Dari sembilan cerpen, ada dua cerpen yang memiliki benang merah, yakni Bau Laut dan Pacar Putri Duyung. Keduanya sama-sama mengisahkan kecintaan pada laut dan putri duyung, dan keduanya sama-sama mengangkat kisah Mencar. Bedanya, dalam Bau Laut, Mencar dikisahkan cukup panjang, sementara dalam Pacar Putri Duyung, Mencar hanya dikisahkan sebatas legenda belaka.

Ada satu hal yang menganggu dalam kumcer ini, yakni saya menemukan kalimat-kalimat yang tak utuh. Seperti dalam cerpen Ah Kauw, saya menemukan kalimat ‘Ah Kauw berjanji akan menyekolahkan perawat jika mendapat uang di Jakarta… ‘(hal. 46) saya kira maksudnya mungkin, ‘Ah Kauw berjanji untuk menyekolahkan Meilan di sekolah perawat…’ mungkin kalimat ini terpotong tak sengaja saat pengeditan. Kalau buku ini akan dicetak ulang, baik Ratih maupun editor mesti cermat mengulangbaca semua cerpen, sebab kalimat-kaimat yang tak utuh begini muncul di beberapa cerpen dan itu sangat menganggu.

Oh ya, well akhirnya sampai juga saya di akhir tulisan ini. Saya kira, apa yang saya tulis ini tidak tepat disebut review, karena sebuah review yang baik mestilah dilahirkan seorang kritikus yang baik. Tulisan ini lebih tepat disebut hasil pembacaan saja. Saya cukup suka kumcer ini. Saya pikir, karena Ratih sudah menulis dua cerpen yang memiliki benang merah di buku ini (Bau Laut dan Pacar Putri Duyung), bolehlah kiranya berharap suatu saat ia akan menulis kumcer yang seluruh cerpennya memiliki benang merah, layaknya cerpen-cerpen senja karya Seno Gumira Ajidarma. Mudah-mudahan.

 

BioBuku

Judul: Bastian dan Jamur Ajaib

Penulis: Ratih Kumala

Penerbit: Gramedia Pustaka Utama

Tahun terbit: 2015 (cet. 1)

Jumlah halaman: 124

Share Button

Leave a Reply

Your email address will not be published.