#Diari Seorang Penulis 3: Buku Gratisan

Setelah menasbihkan diri menjadi seorang penulis, aku banyak mengalami kejadian lucu bin unik bin aneh bin ajaib. Misalnya ini. Pada suatu hari, ketika matahari sedang terik-teriknya ( >_< abaikan kelebay-an ini sodara-sodara. Aku sendiri nggak yakin waktu itu siang apa malam >_<) aku menerima sebuah email yang isinya meminta aku mengirimkan softcopy novel Kupu-kupu Fort de Kock karena DIA MAU MEMBACANYA! astaga! nyaris syok aku membaca  email itu. Yang minta-minta buku gratisan, umumlah ya, dan dalam batas tertentu masih bisa ditoleransi, tapi minta SOFTCOPY NOVEL YANG KUKERJAKAN SELAMA TIGA TAHUN DENGAN BERDARAH-DARAH YANG MELIBATKAN KEPUYENGAN MERISET SEJARAH SILAT MINANG PLUS MENEMUI GURU BESAR ALIRAN SILAT KUMANGO PLUS SEKIAN LAMA WAKTU YANG KUHABISKAN UNTUK MEMOTRET TEMPAT-TEMPAT YANG AKAN KUJADIKAN SETTING CERITA ADALAH SESUATU YANG TIDAK MASUK AKAL SAMA SEKALI (tarik napas dulu). Menulis cerita itu tidak sama dengan membuat pesawat mainan kertas sederhana, yang hanya dengan tiga kali lipatan, langsung jadi deh tuh pesawat. Menulis adalah sebuah upaya intelektual yang melibatkan begitu banyak emosi dan waktu di dalamnya. Belum lagi riset data yang bisa mencapai jangka tahunan. Meminta buku gratisan dari penulis sama artinya dengan kurang menghargai usahanya, apalagi meminta softcopy novelnya.

Bayangkan ini. Kamu mau jualan kue. Kamu beli tepung, gula, telur, mentega, dan bahan lainnya, lalu kamu habiskan waktumu untuk mengolah bahan-bahan itu menjadi sebuah kue yang lezat. Trus, setelah kamu pajang di etalase kue, tiba-tiba ada aja orang yang datang, “mana nih kue gratisannya? Bikin kue nggak bilang-bilang. Kasi dong aku satu.” pengin nangis nggak kamu mendengarnya. Terbayang nggak berapa uang yang kamu habiskan untuk membeli bahan-bahan kue, dan lama waktu yang kamu gunakan untuk memasaknya? Setelah semua itu kamu lalui, inikah penghargaan yang kamu terima?(mulai drama¬† >_<)

Tidak mudah menghasilkan sebuah karya tulis. Jangankan novel yang jumlah halamannya mencapai ratusan, cerpen yag panjangnya sekitar delapan halaman saja, tidak segampang membalikkan telapak tangan untuk membuatnya. Jika memang menulis itu gampang, sehingga menurutmu penghargaan atasnya tidak perlu terlalu tinggi, maka cobalah kamu menulis. Minimal satu cerpen aja. Bisa nggak? kalau udah bisa coba kirimkan ke koran. Nembus nggak? Kalau kamu nggak bisa, maka mengapa kamu meremehkan penulis-penulis dengan seenaknya minta gratisan karyanya? Mau tahu berapa yang didapat seorang penulis dari satu eksemplar buku? rata-rata 10%. Kalau harga bukunya 50 ribu, si penulis cuma dapat lima ribu dari satu buku. Nah coba, masa rezekinya yang lima ribu rupiah ini mau kamu minta pula? malu dong. Lagipula, pernah nggak mikir, buku-buku yang kamu minta gratisan itu didapat darimana? Untuk diketahui, penulis yang bukunya diterbitkan pihak lain, paling cuma menerima 5-10 eksemplar buku dari penerbit sebagai bukti terbit. Yang sepuluh ini pastilah sudah dikapling untuk orang-orang yang besar jasanya dalam hidup si penulis. Untuk keluarganya, guru menulisnya, para penulis yang membantu memberi endorsement untuk bukunya, dan lain-lain. Nah, kamu jasanya apa dong sehingga merasa berhak dapat buku gratisan? Sebagai teman? Nah itu dia, kalau kamu betul-betul teman, seharusnya kamu beli buku temanmu untuk mendukung karir kepenulisannya, jangan malah jadi tukang gerogot gitu dong >_< (aduh kok sayah jadi emosih genee sseeh? >_< ). Setelah jatah buku gratisan dari penerbit habis, si penulis dapat buku darimana buat ngasi gratisan? nggak ada kan? Kalau kamu terus maksa minta gratisan, dia terpaksa beli dengan uang sendiri dong di toko buku. Udahlah dia nggak dapat royalti dari satu buku itu, malah harus ngeluarin duit lagi buat ngasi teman cerewet kayak kamu. Kira-kira sakitnya itu di mana sih? >_<

Aku pribadi, kalau ada teman yang menerbitkan buku, aku usahakan untuk membelinya. Kalau kebetulan bukuku juga terbit, maka minimal aku dan dia barter buku. Karena itu, bagiku, penulis-penulis favoritku adalah teman-teman sendiri. Beberapa kali di sebuah acara launching buku, aku ikut antri bersama orang lain untuk minta tandatangan si penulis yang notabene adalah teman sendiri. Bukannya mau begaya (emang itu bisa disebut begaya? -_- ) tapi karena aku memang ingin, pertama, ikut merasakan kebahagiaan dia (si penulis), kedua, ingin menunjukkan secara kongkrit bahwa aku mendukung karirnya, pilihan hidupnya. Tak mudah lho memutuskan menjadi seorang penulis di negeri ini, karena itu ketika ada yang melakukannya mesti didukung penuh penuh.

Nah bagaimana kalau si penulis buku membiayai sendiri penerbitan bukunya? yang ini lebih terlarang lagi meminta gratisannya. Coba mikir. Udahlah dia menulis buku dalam waktu lama, trus membiayai sendiri penerbitan bukunya, trus dia sendiri pula yang menjualnya. Nah masa kamu bukannya menolong membeli bukunya supaya dia balik modal, malah menggerogoti dia dengan minta gratisan? malu dong ya. Malu sama kerja kerasnya untuk maju gitu.

Jadi hentikanlah minta gratisan sama penulis. Malu sama intelektualitas sendiri. Kalau kamu ingin punya bukunya, tapi tak ada uang untuk membeli, minimal barter dengan resensi. Janjikan padanya untuk mengirim resensi itu ke koran. Kalau resensimu nggak tembus, pajang di grup-grup kepenulisan, di Goodreads, di blog kamu sendiri, di facebook dan tag orang-orang. Setidaknya inilah cara kamu membayar buku yang didapat. Ini lebih elegan dan menunjukkan harga diri kamu yang tinggi.

Mari beri respek pada penulis, terutama pada teman-teman penulismu dengan tidak meminta gratisan. Besarkan hati dan semangatnya dengan membayar bukunya sesuai harga. Siapa lagi yang akan membesarkan penulis-penulis dari negeri sendiri kalau bukan kita kita ini, para pembaca buku-buku Indonesia.

Share Button

Leave a Reply

Your email address will not be published.