#4 Diari Seorang Penulis: Hukum Karma dan Hahaha lainnya

Wahaa makin lama kok makin rutin aku nulis diari macam begini? jangan-jangan aku udah kena hukum karma ini karena keseringan mengeritik orang-orang yang menjadikan kegiatan menulis sebagai rutinitas. Oh kalau memang iya, balasan hukum karmanya kok membuatku jadi maju gitu (berasa maju dan hebatĀ  sendiri >_<) nanti nanti aku mau sering-sering ngeritik orang yang hobinya bikin kue ah, supaya nanti ketularan jadi pandai masak juga gitu (hadeeh >_< ). Untuk diketahui bersama, aku ini termasuk orang yang anti kemapanan dalam memasak. Maksudnya, rasa masakanku nggak pernah mapan >_<. Hari ini rasanya enak, besok nggak enak, besoknya lagi bikin huek huek hahaha.. Pernah suatu kali aku bikin sup yang kata suamiku itulah sup terlezat yang pernah dimakannya seumur hidupnya, besoknya aku coba bikin lagi, ternyata rasanya kok malah jadi kacau balau, padahal bumbunya sama, lah salahnya dimana gitu? apa di kompornya ya? (mulai nyalahin pihak lain) atau jangan-jangan salah lidah suamiku ya hahaha…. Kalau rasa masakanku diberi nilai dari skala 1 sampai 5, maka nilainya 2,5 lah hahaha…eh, dinaikkan dikit, 2,75 gitu, biar kalau dipanggil pas wisuda dapat prediket ‘baik’ gitu. Hahaha..(<—–info nggak penting banget kayaknya ya hahaha…)

Bagi ibu beranak tiga macam aku ini, untuk bisa menulis berarti harus bisa memanage pikiran, kalau nggak ya mana bisa nulis, soalnya kegiatan menulis itu kan erat kaitannya dengan berpikir. Kan nggak wakwau banget ya, pas lagi asyik asyik nulis tiba-tiba anakku yang paling kecil datang dan bilang ‘bu, pipis…’ lalu keluarlah ompolnya bagai air terjun haha…atau, pas lagi seru-serunya nulis adegan romantis tiba-tiba anak-anakku ribut dan rebutan mainan, menangis keras-keras, lalu mainan itu patah dan isi mainan itu bertebaran di sepanjang rumah :v :v mau bikin adegan romantis kayak mana itu? jangan-jangan malah jadinya bikin adegan perkelahian. Jadi, kalau suatu saat kamu baca adegan pertengkaran di novelku, berprasangka buruk sajalah, jangan-jangan itu ditulis di tengah-tengah perang dunia ke delapan hahaha…

Jarang sekali aku nulis di tengah suasana hening sedemikian hening seakan-akan tidak ada lagi yang lebih hening dari itu <—-ini gaya menulis Seno Gumira Ajidarma. Aku kadang iri juga ama orang-orang yang bangun pukul tiga pagi trus nulis sampai matahari terbit. Menurutku pola hidup macam begitu emejing banget yah >_< lah aku nggak bisa gitu. Pas bangun tidur, pikiran pertama adalah: beres-beres rumah, nyuci piring, bikin sarapan, bikin cemilan, bikin makan siang dan makan malam, nyiapi materi belajar untuk anakku yang homeschooling dan blabla…mana ada kepikiran buat nulis? aku susah nulis kalau pekerjaan rumah belum beres. Pernah beberapa kali aku coba nulis sebelum mengerjakan apapun, hasilnya pikiranku nggak tenang. Tiap sebentar melihat jam. Aduh udah jam segini, aku belum masak. Aduh udah jam segitu aku belum ngeprint materi belajar anakku dan blala lainnya. Akhirnya aku kapok. Jadi kubereskan dulu pekerjaan rumah tangga supaya pikiranku tenang. Kalau tanggungjawabku sudah selesai, aku bisa nyaman berpikir dan menulis, tak peduli apapun yang terjadi di rumah. Mau ada perang dunia, mau anak menjerit-jerit, mau gelas pecah, de el el. NovelĀ Love, Interrupted kukerjakan kebanyakan dalam situasi kacau balau. Waktu itu aku lagi hamil tua, dan anakku yang kedua rewelnya bukan main. Sering aku nulis sambil menggendongnya sampai tengah malam. Haha…jangan kira itu emejing, itu nyiksa, tapi lebih nyiksa lagi kalau ide di kepala nggak dikeluarkan, bisa bikin frustasi. Haha…kebalik kayaknya ya, mestinya yang bikin frustasi itu anak rewel ya hahaha….

Durasi menulisku dalam sehari nggak lama, bahkan sering juga dalam beberapa hari aku nggak nulis sama sekali, tapi aku tetap membaca, minimal baca status facebook orang hahaha…Nah karena itu aku heran juga nih kenapa dalam empat hari berturut-turut aku bisa nulis diari acakadut macam begini. Jangan-jangan ada yang salah di otakku hahaha….

Okeh sebaiknya kusudahi saja sebelum kamu makin sinting baca diari gak jelas ini hahaha….nantikan ya novel terbaruku Labirin Sang Penyihir, diterbitkan oleh Kakilangit Kencana (Prenada Media Grup). Nantikan juga kejutan yang dibawanya.

bye bye

 

 

Share Button

Leave a Reply

Your email address will not be published.