#6 Diari Seorang Penulis: Diari Melankolis dan Tips Nulis yang Nggak Pernah Berhasil

Apakah setiap penulis sudah pasti punya diari? Ah ya tidaklah. Contohnya aku ini. Aku termasuk orang yang paling anti nulis diari. Pernah sih dulu pas SMA nyoba ikut-ikutan nulis diari kayak tokoh-tokoh cerita dalam cerpen majalah Anita Cemerlang (haha…ketahuan umur >_<) tapi nggak pernah berhasil. Padahal diari yang kubeli itu termasuk yang paling kece untuk ukuran saat itu, ada gemboknya pula (haha…) tapi setelah sekian lama isinya cuma gambar-gambar nggak jelas saja, kadang pantun, kadang malah jadwal ujian semester. Hahaha…
Beberapa kali aku pernah dituduh macam begini: “Eh, kamu pasti udah nulis diari sejak kecil ya.” Hah? Fitnah dari mana itu? Haha…tidak semua penulis mengawali karir kepenulisannya dari diari. Aku malah mengawalinya dari pantun, misalnya pantun kayak gini:

Jalan-jalan ke Pasar Baru

Nampak orang menjual balon

Kalaulah boleh aku tahu

Abang yang manis udah ada yang punya belon

hahaha….

Apa yang kusebut diari sebenarnya adalah cerita sangat pendek yang isinya menyuarakan pikiran-pikiranku. Anehnya, aku nulis ‘diari’ itu dalam bahasa Inggris. Nggak tahu juga tuh dapat ilham dari mana. Berprasangka baik sajalah, mana tahu salah satu nenek moyangku berasal dari Inggris. Kan kalau diliat-liat eikeh juga ada potongan bule hahaa… (bule dari seberang kampung?! >_<)

Sebab pertama kenapa aku nggak suka nulis diari adalah: aku sering mual kalau baca kalimat macam begini, apa kabar, Di. Malam ini begitu dingin ya. Sedingin hatiku yang telah lama ditinggalkannya, ooh, betapa pahitnya hidupku ini. Aku merasa sebagai insan termalang di dunia (mulai mengalunlah lagu dangdut “aku merasaaaa orang termalang di duniaaaaa… Haha…umur berapa umuuur? Hahaha….) Bukan apa-apa aku cenderung makhluk yang anti segala macam yang berbau melankolik begini, tapi…seperti biasa, aku selalu kena karma untuk hal-hal yang terlalu sering aku kritik. Toh pada akhirnya aku nulis novel yang melodramatik juga hahaha…—–>nunjuk novel Love, Interrupted. (ehem..btw, novel itu ratingnya tinggi lho di Goodreads dan menurut yang baca, jelas bukan novel cinta cemen <——promosi >_< ). Sebab kedua kenapa aku nggak suka nulis diari adalah: aku nggak tahu mau nulis apa hahaha…<——sebenarnya ini alasan paling utama. Dalam berbagai seminar kepenulisan, setiap kali aku ditanya, “Kak Maya, apa sih tips menulis paling jitu?” aku sering bilang, “tulislah apa yang paling dekat bagimu.” Yah…seperti biasa, tips nulis yang aku koar-koarkan itu jarang relevan dengan kenyataan hidupku sendiri. Aku malah nggak tahu apa yang paling dekat dengan diriku sehingga nulis diari aja nggak bisa haha….hahaha….uhuk uhuk…
Nah setelah kamu kamu tahu kenyataan hidupku yang sebenarnya, apakah kamu masih tetap ngefans ama aku (berasa seleb hahaha….) atau apakah kamu kamu masih mengidolakan aku…(kantong kresek mana woiii…mau muntah nih hahahaha….) jelas aku ini termasuk golongan penulis yang menyedihkan, yakni penulis yang tak punya kecakapan nulis diari haha….

Etapi aku pernah lo jadi guru menulis beberapa orang, dan rata-rata mereka jadi keren tuh tulisannya (mulai bela diri haha…) tapi aku nggak tahu juga ya, tulisan mereka itu jadi keren apa benar-benar karena aku yang ngajarin atau justru karena mereka emang udah keren dari dulu. Jangan-jangan aku cuma ngaku ngaku aja hahaha…

Ah ya sudahlah, makin lama makin ngawur tulisan ini. Tolong jangan dicari pelajaran moral apa yang bisa didapat dari artikel ini, karena aku ragu tulisan ini ada pelajaran moralnya. Hahaha….

bye bye

Share Button

Leave a Reply

Your email address will not be published.