Pelatihan Menulis Kreatif Untuk Anak: Mendeskripsikan Emosi

Minggu ini pelatihan menulis kreatif untuk anak yang dihelat Perpustakaan Daerah Sumatra Barat memasuki pekan ke delapan. Waktu berjalan terlalu cepat ternyata. Rasanya baru kemarin aku membaca nama-nama calon peserta di formulir pendaftaran, eh tahunya sekarang pelatihan sudah melewati bulan kedua. Benarlah apa yang dikatakan Ali bin Abi Thalib r.a. ‘waktu itu bagai pedang, jika kau tak menggunakannya dengan baik, maka ia akan menebasmu.’

Materi di kelas menulis pekan ini adalah mendeskripsikan emosi. Aku memberikan empat kartu bergambar emotikon ke para siswa dan meminta mereka menulis jawaban dari pertanyaan yang tertera di situ.

10986936_10152939782974830_37208108748777579_n

 

 

 

 

 

 

Kartu pertama bergambar emotikon bahagia, pertanyaannya: aku bahagia ketika…….
Kartu kedua bergambar emotikon sedih, pertanyaannya: aku sedih ketika………
Kartu ketiga bergambar emotikon marah, pertanyaannya: aku marah ketika……
Kartu keempat bergambar emotikon takut, pertanyaannya: aku takut kalau…..

Contoh yang kutuliskan seperti ini:

Aku bahagia ketika mendapatkan sepatu roda dari ayah dan ibu. Sepatu roda itu adalah hadiah ulangtahunku yang ke delapan. Sebenarnya aku sudah lama menginginkan sepatu itu, namun kata ibu aku harus bersabar.

10408646_10152939720414830_3009413926184540637_n

 

Berdasarkan contoh ini aku mengajak anak-anak untuk mengingat kembali momen-momen yang paling membahagiakan dalam hidup mereka. Aku mengajak mereka untuk mendeskripsikannya dengan jelas. Jika kebahagiaan itu membuat mereka melompat-lompat, maka mereka harus menuliskannya. Syukurnya anak-anak mampu mendeskripsikan waktu, kejadian dan perasaan yang mereka alami dengan baik. Bahkan ada yang mendeskripsikannya dengan sangat baik sekali.

Hari ini untuk pertamakalinya aku memberi mereka tugas yang dikerjakan di rumah. Sebenarnya aku enggan menyebutnya PR karena aku paling tidak suka dengan PR. Karena itu aku dengan jelas mengatakan pada anak-anak, bahwa tugas itu bukanlah PR yang harus mereka lakukan. Tugas itu hanyalah hal menggembirakan yang mereka boleh mengerjakannya dengan senang, boleh pula tidak mengerjakannya. Tidak satu pun anak yang akan dihukum hanya karena mereka tidak mau atau tidak mampu mengerjakan tugas tersebut. Mengerjakan PR hanyalah sebuah pilihan, tapi belajar adalah sebuah kewajiban, dan bagiku, mengerjakan PR tidak sama artinya dengan belajar.

Aku meminta anak-anak membuat sebuah cerita di rumah berdasarkan gambar yang mereka terima. Aku mencetak gambar-gambar hewan lucu di atas kertas, dan memberinya judul. Misal, gambar seekor sapi yang terbang dengan balon kuberi judul: Kisah Repi Sapi Berkelana Dengan Balon. Nah, anak-anak kuminta untuk membuat cerita berdasarkan gambar dan judul yang kubuat. Setiap anak mendapat gambar yang berbeda. Jadi karena ada 18 anak di kelasku, kukira bolehlah aku berharap akan mendapat 18 cerita berbeda pekan depan. Aku tak sabar menantikannya ^_^

Insyaallah mulai sekarang aku akan memposting metode dan materi pengajaranku. Semoga ada manfaatnya bagi para orangtua dan guru-guru menulis kreatif.
Salam

Share Button

Leave a Reply

Your email address will not be published.