#7 Diari Seorang Penulis: Status Galau

Konon katanya, di zaman medsos macam sekarang, wajib hukumnya bagi seorang penulis untuk punya satu akun media sosial. Tujuannya supaya bisa membangun ikatan yang lebih kuat dengan para pembaca karya-karyanya. Tujuan lebih besarnya, supaya bisa mempopulerkan diri sendiri. Kalau seseorang sudah populer, bisa diramalkan apapun yang dihasilkannya akan populer juga dan ujung-ujungnya diburu orang. Coba perhatikan para selebtwit yang jumlah pengikutnya di atas lima ratus ribu itu. Mereka bahkan nggak perlu susah payah nawarin naskah ke penerbit. Para editorlah yang mengontak dan meminta karya tulis mereka, nggak peduli seacakadut apapun tulisan tersebut. Toh–dalam pikiran sebagian editor ini mungkin–para editorlah yang akan memperbaiki kualitas naskah tersebut. Yang penting si empunya karya punya nama dan punya ratusan ribu pengikut. Ini membuat karya tersebut jadi sangat marketable. Bila sang selebtwit punya satu juta pengikut dan diperkirakan satu persen dari mereka akan membeli buku tersebut, maka bisa dipastikan cetakan pertama bukunya habis dalam sekejap. Ya iya dong. Sebuah buku rata-rata dicetak antara 2000-5000 eksemplar. Satu persen dari satu juta adalah 10 ribu. Nah itu artinya, jika satu persen pengikut selebtwit aja yang beli, buku itu minimal cetak ulang dua kali. Menggiurkan banget kan?

Tapi nggak mudah buat punya pengikut sebanyak itu (kecuali kalau beli follower >_< ). Nah aku pernah dikasi resep untuk menjadi selebtwit. Konon katanya, kalau aku menerapkan resep itu, karir kepenulisanku akan berubah 180 derajat. Aku akan menjadi selebtwit dan buku-bukuku laku keras ras ras ras…

Nah apakah resepnya?

1.Buatlah status-status galau

What? Status galau? Ou-em-ji.
“Bener lho, May, coba perhatikan status-status para selebtwit, sebagian mereka menulis status-status galau untuk mendapatkan pengikut.”
“Misalnya kayak mana nih?” tanyaku. Maklum ajah, aku termasuk makhluk yang anti dengan kegalauan. Jadi segala hal yang berbau galau-galau tidak built in di otakku.
Misalnya gini, si teman mulai mencontohkan, ‘bukan kehadiranmu yang kubutuhkan, tetapi cintamu. Apalah arti hadir bila tiada cinta.’ Astaganaga.
Ia terus melanjutkan.
“Seandainya rindu berbentuk hujan, maka sudah banjirlah kota ini dengan rinduku!”
Aaaah! Nyaris terjengkang aku mendengar kalimat-kalimat macam gitu. Kalimat-kalimat apaan tuh?! Masak aku harus jadikan kalimat-kalimat macam gitu sebagai status facebook dan twitter?! Memangnya aku ini Gadis Perindu di Atas Kapal Kerinduan yang Berlayar di Lautan Kenangan? (julukan macam begini sering kudengar dulu di acara kirim-kirim salam di radio). Apa kata keluargaku kalau aku nulis kayak gini? Apa kata dosen-dosenku? Teman-temanku? Anak-anak didikku yang punya akun facebook dan twitter? Apa kata dunia? Ooh…(mulai lebay).
Aku NGGAK MUNGKIN bikin status-status galau macam gitu. Kok sepertinya aku merendahkan diri sendiri, nulis status cengeng macam gitu hanya untuk mendapatkan pengikut. Bagi aku, media sosial hanyalah sarana untuk menyampaikan pikiran-pikiranku, gagasan-gagasan baru, promosi karya-karyaku, membangun jaringan dan (sedikit) bernarsis ria. Aku berhubungan dengan keluargaku yang jauh-jauh, yang ada di berbagai belahan dunia, seringnya dengan media sosial, lebih murah gitu ya >_< dan lebih asyik karena bisa ngomong pake kamera (facebook messenger kan ada camera call ya, ada yang pernah nyoba? Asyik banget ^_^ ). Untuk tujuan itulah aku memiliki akun medsos, bukan untuk bergalau-galau ria.
“Etapi…” kata temanku, “nggak ada salahnya dicoba, May.”
Hahaha…terimakasih atas sarannya, tapi aku nggak akan mencoba. Bukan karakterku. Nggak mungkin aku melakukan sesuatu yang bukan diriku sendiri, jika dipaksa, aku bisa menjadi manusia yang kehilangan jati diri, begitu kan? (mulai serius >_<). Lagipula aku nggak mau menipu orang. Coba ya …aku mau tanya sama kamu-kamu yang suka ngikutin selebtwit galau, yang suka ngeretwit status mereka untuk menebar kegalauan lebih banyak, kamu tahu nggak siapa selebtwit yang kamu idolakan itu? Jangan nilai orang hanya dari status-statusnya. Kalau kamu tahu yang sebenarnya, bisa galau beneran kamu >_< . Di dunia media sosial yang abu-abu, tempat orang-orang bisa menjadi orang lain, kita tidak pernah benar-benar tahu siapa sebenarnya yang sering komenin kita di situ. Kita nggak tahu siapa selebtwit yang sering bikin galau itu. Jangan-jangan mereka cuma orangtua yang nyamar jadi anak usia delapan belas tahun. Kebayang nggak kalau selebtwit idolamu, yang suka bikin status-status cinta galau, ternyata seumur bapakmu sendiri? Hahaha….ada tuh yang kayak gitu, saya mah nggak akan mau ngasi tahu siapa >_<

2.Buatlah status-status motivasi dan jangan lupa cantumkan AMIN di akhirnya >_<

Haha…kalau yang ini bolehlah ya (minus AMIN gitu haha…), tapi hidup tidak seindah kata-kata motivasi. Hidup kita ini kan terdiri atas dua bagian, pertama, bagian yang bernama harapan dan itu bahan bakarnya adalah doa, usaha dan kata-kata motivasi. Kedua, bagian yang bernama kenyataan, masa kini, hari ini dan orang-orang saat ini. Terlalu sibuk mencapai mimpi, boleh jadi akan membuat kita abai pada apa yang paling berharga yang kita miliki saat ini. Kita tidak berlari mengejar mimpi dengan meninggalkan apa yang ada di genggaman, kita berlari bersamanya. Kata suamiku, yang terbaik itu adalah: lakukan hal terbaik, apapun dan dimanapun posisi kamu berada saat ini, hal-hal baik itu akan mengantarmu ke masa depan. Kalau kata Aa Gym, ‘bagaimana kalau kita mati sebelum berhasil mencapai mimpi?’ Itu artinya, teruslah bermimpi, bercita-cita, berharap, tapi jangan lupakan hal-hal berharga di sekelilingmu. Sederhananya, berikhtiar, berdoa dan bersyukur dengan apa yang kita miliki saat ini. Itulah kunci hidup bahagia. E… tapi, aku sering ragu kalau mau nulis status motivasi, pasalnya aku ini orang yang antimotivasi banget. Sering matah-matahin semangat orang gitu hahaha…. Jadi, resep yang kedua ini pun tidak mempan untukku.

Baiklah, aku ini sepertinya tidak ditakdirkan untuk jadi seleb di dunia maya ya. Ya sudahlah, aku terima saja takdirku dengan hati ikhlas dan lapang hahaha….tidak jadi seleb maya pun tidak apa, yang penting aku bisa jadi seleb di hatimu hahaha…

Nah itulah dua resep untuk jadi seleb dunia maya versi temanku. Kamu boleh mengikutinya kalau merasa cocok. Kalau aku sih hahaha….kayaknya jadi pengikut selebtwit galau sajalah ya, sambil lihat-lihat mana tahu ada di antara status galaunya yang bisa kuretweet ke followerku yang jumlahnya luar biasa banyak itu (602 orang hahaha….) Sila berteman denganku di twitter (@mayalestarigf), tapi siap-siap kecewa karena aku ini adalah penulis yang anti dengan kegalauan. Hahaha…

Share Button

Leave a Reply

Your email address will not be published.