Les Belajar: Solusi atau Masalah

Saya kadang merasa sesak napas sendiri kalau terlibat percakapan macam begini:

Saya: Anaknya pulang jam berapa, Bu?

Si ibu: Jam lima sore.

Saya: Wah, anak Ibu sekolah di full day school ya?

Si ibu: Enggak, pulang sekolahnya jam satu, habis itu les di xxx sampai jam lima

Saya: les apa, Bu?

Si ibu: les matematika, fisika dan kimia

Alamaaak. Percakapan biasanya langsung terhenti atau  saya hentikan. Pertama, karena saya nggak tau mau ngomong apa lagi. Kedua, saya ingin menyampaikan sesuatu yang ada di kepala tapi tak mampu karena berbagai sebab seperti: baru kenal, tidak terlalu kenal atau si ibu kelihatan bahagia dengan jawabannya. Tak bisa saya bayangkan kalau saya yang berada di posisi anak si ibu itu. Setelah belajar matematika, fisika dan kimia di sekolah, saya masih dipaksa mempelajari pelajaran yang sama di luar sekolah. Trus di rumah masih harus mengerjakan PR dari pelajaran-pelajaran itu. Apa nggak jadi stres lahir batin saya akhirnya?

Anak pertama saya les bahasa Inggris di sebuah tempat les yang cukup beken di Padang. Saya amati, rata-rata murid les mengambil kelas belajar jam lima sore atau tujuh malam. Sebagian besar mereka masih mengenakan seragam sekolah begitu sampai di tempat kursus. Iseng-iseng menyelidiki, ternyata di antara anak-anak itu ada yang sekolahnya baru selesai jam tiga atau empat sore, ada juga yang sepulang sekolah pergi les dulu di bimbingan belajar, baru belajar bahasa Inggris di situ. Wajah sebagian mereka kucel, capek kayaknya ya, meskipun setelah ketemu teman-teman di tempat les mereka sepertinya bersemangat lagi. Ada juga yang nyampai ke situ dengan bus sekolahnya. Jadi, pagi-pagi mereka diantar orangtua ke sekolah, setelah sekolah usai, mereka diantar ke tempat les, baru kemudian pukul lima sore dijemput pulang. Saya hitung-hitung, lama anak berpisah dari orangtua sekitar sepuluh jam sehari (dengan asumsi anak-anak itu sampai di sekolah pukul tujuh pagi dan baru dijemput pukul lima sore). Boleh jadi mereka sampai di rumah sekitar pukul setengah enam sore, lalu mereka mandi, istirahat (setelah seharian beraktivitas pasti capeknya luar biasa ya), salat, makan malam, lalu mungkin pukul setengah delapan harus mengerjakan PR. Kalau tidak ada PR mungkin mereka akan nonton televisi atau main game di gadget. Pukul sembilan malam mereka berangkat tidur. Nah pertanyaanku di sini: dari 24 jam waktu anak, berapa jam waktu yang diberikan orangtua agar anak bisa mengeksplorasi hobi dan bakatnya? Jangan-jangan tidak ada.

Seorang bayi lahir lengkap dengan semua perangkat yang mampu membuat ia bertahan hidup setelah dewasa nanti. Perangkat itu kita namakan bakat. Bakat adalah chip yang ditanamkan Tuhan ke dalam otak anak, yang dengan chip itu si anak bisa eksis di dunia ini. Tugas para pendidik (dalam hal ini orangtua dan guru) adalah memberi kesempatan agar chip itu bekerja dan mampu mengembangkan dirinya. Chip ini tak akan mungkin bekerja baik bila si anak dipaksa melakukan hal-hal yang tidak sesuai dengan karakter chip itu. Misal, anak yang ditanamkan Tuhan chip musik dalam dirinya, tidak akan mampu mengembangkan chip itu bila sehari-hari hanya disuruh mempelajari matematika, fisika dan kimia. Begitu juga anak yang punya chip pemikir dalam dirinya, tidak akan mampu berkembang jika dipaksa menjadi pedagang. Setiap orang adalah khas, karena itu tidak mungkin menyamaratakan metode dan materi pengajaran.

Saya punya beragam pengalaman menarik setiap kali membicarakan hal di atas ke orang-orang. Salah satunya, menerima komentar sebagai berikut: ‘Alaah mendidik anak kok ribet begitu. Semua anak-anak saya belajar di sekolah negeri, les di bimbel, toh mereka pintar-pintar juga. Juara kelas lagi.’ Biasanya, kalau udah nerima reaksi macam begini saya diam aja. Kalau saya balas, pasti jadinya berbantah-bantahan kan, dan ujung-ujungnya gak bakalan enak. Memang betul, dengan ikut segala macam les itu si anak bisa juara kelas, tapi seharusnya pertanyaan orangtua ke anak bukanlah: ‘kamu dapat rangking berapa di sekolah?’ tapi ‘di usia kamu yang sekarang (16 atau 17) kamu udah bisa apa?’ Terlalu banyak saya melihat anak-anak yang juara di sekolahnya, tapi di kehidupan nyata nggak bisa apa-apa. Masak nggak bisa, mengurus pakaian sendiri nggak sanggup, membersihkan rumah asal-asalan. Jangankan bisa mencari uang sendiri, mengatur pemasukan dan pengeluaran saja tidak mampu. Nyaris tidak tampak korelasinya antara prestasi akademik yang hebat di sekolah, dengan prestasi kemandirian di kehidupan sehari-hari.  Sungguh nggak lucu, kalau setelah anak tamat SMA, trus dia ditanya orang, “apa kemampuan kamu yang paling bisa diandalkan?’ masa si anak menjawab begini, “saya mampu menjawab soal-soal pelajaran”. Oh ayolah. Sekolah bukanlah dunia tersendiri dan kehidupan nyata bukanlah dunia tersendiri yang lain. Sekolah dan kehidupan di luar sekolah seharusnya saling berkorelasi. Jika sekolah tak mampu melakukannya, orangtualah yang mengambil peran. Jangan orangtua jadi ikut-ikutan menjelma sekolah, tiap sebentar memaksa anak-anak mengerjakan materi pelajaran. Beri mereka ruang untuk mengembangkan bakat mereka, beri mereka waktu untuk mengenali chip potensi yang ditanamkan Tuhan dalam benak mereka.

Saya sering menemukan orang-orang yang setelah bertahun-tahun kuliah baru sadar bahwa potensi mereka ada di x, y atau z. Seorang teman cowok saya baru menyadari bahwa ia punya bakat menjahit justru setelah beberapa tahun tamat kuliah pertanian di sebuah PTN. Ada juga yang baru tahu kalau dia suka membuat aneka kerajinan tangan setelah tiga tahun (!!) tamat kuliah di jurusan sejarah. Seandainya chip potensi orang-orang seperti ini diberi kesempatan untuk berkembang di sepuluh tahun pertama hidupnya, takkan mungkin mereka menghabiskan sekian tahun  untuk mempelajari apa-apa yang bukan minat mereka.

Itulah sebabnya kenapa saya sering prihatin terhadap anak-anak yang sekolah dari pagi sampai siang, lalu ikut les belajar pula sampai sore. Lucunya, kadang yang menyelenggarakan les belajar ini adalah sekolah. (Kalau gitu ngapain aja guru mereka kok sehabis jam pelajaran anak-anak ini masih harus les pelajaran yang sama di sekolah? Lesnya dengan guru yang itu pula >_<) Kira-kira dengan durasi belajar yang sepanjang itu, masih punya waktu dan energi nggak anak-anak untuk mengenali potensinya? saya khawatir tidak. Jadi, dunia pendidikan Indonesia ini sebenarnya dua kali kena musibah. Musibah pertama, jadwal belajar yang sepanjang itu ternyata tidak mampu juga menaikkan peringkat pendidikan Indonesia di mata dunia. Musibah kedua, anak-anak terhalang mengembangkan potensi dirinya yang sebenarnya. Sudah jatuh tertimpa tangga pula itu namanya.

Menurut saya, nggak usahlah anak-anak berlama-lama menghadapi pelajaran-pelajaran di sekolah. Seperlunya saja. Seusai belajar, biarkan anak bermain dengan temannya menikmati masa kecil yang bahagia, lalu perluas wawasan mereka. Kenalkan anak dengan beragam keahlian. Mulai dari dagang sampai musik, dari tani hingga teknik. Saya kira bila ini dilakukan orangtua, mereka akan cepat menemukan bakat anaknya di sepuluh tahun pertama hidup si anak, maksimal di 15 tahun pertama. Jika bakat mereka ditemukan dengan cepat, anak takkan perlu membuang sekian tahun hidup mereka untuk mempelajari hal-hal yang tidak menjadi minat mereka.

Kita sebagai orangtua mungkin merasakan betapa pahitnya tidak kenal dengan bakat sendiri, jangan sampai kepahitan yang sama berulang pada anak kita.

Salam

Share Button

Leave a Reply

Your email address will not be published.