Lima Trik Untuk Membuat Anak-anak Gembira dan Fokus Belajar

Tidak mudah menarik perhatian anak-anak, terlebih membuat mereka fokus pada pelajaran selama beberapa waktu. Sering, setelah kelas berjalan selama sepuluh atau lima belas menit, anak-anak mulai ribut, bergerak ke sana kemari, mengobrol dengan teman, minta izin ke luar kelas dan segala macamnya. Kondisi seperti ini kadang bikin stres guru, karena mereka merasa tidak berdaya mengatur anak-anak, tidak mampu menarik perhatian mereka. Kadang mereka merasa menjadi guru yang buruk.

Selama pengalaman saya menjadi guru (guru playgroup dan TK serta guru kelas menulis yang siswanya berusia antara 7-13 tahun), kondisi seperti di atas alhamdulillah belum pernah saya alami. Selama pelajaran, anak-anak selalu fokus, gembira, bahkan tertawa-tawa dalam kelas. Bahkan, khusus kelas menulis, terlalu sering saya alami, durasi belajar yang seharusnya 75 menit, molor menjadi 90 menit bahkan pernah 120 menit karena anak-anak enggan pulang, ingin terus belajar. Apakah itu karena saya guru yang hebat? Bukan. Itu karena saya mengetahui hal-hal berikut:
1.Secara psikis, kemampuan rata-rata anak berkonsentrasi sesuai dengan umurnya. Satu menit untuk setiap umur. Anak usia tujuh tahun mampu berkonsentrasi selama tujuh menit. Delapan tahun delapan menit. Sembilan tahun sembilan menit. Begitu seterusnya. Coba ingat kembali saat kita masih di SMA dulu (usia antara 15-18 tahun) berapa lama kita sanggup berkonsentrasi? Cuma antara 15-20 menit kan? Setelah itu banyak di antara teman-teman yang minta izin ke luar. Alasannya pergi ke toilet, padahal nongkrong di kantin. Orang yang sudah dewasa saja, paling cuma sanggup berkonsentrasi selama 20 menit pada suatu objek, setelah itu, pikiran ngelantur ke mana-mana.

2.Setelah 45 menit belajar, otak akan kering, efeknya konsentrasi buyar. Karena itu penting sekali di tengah pelajaran anak-anak disuruh minum.

3.Anak-anak adalah manusia pembelajar dan paling kreatif. Mereka tidak betah disuruh duduk tenang selama satu jam memperhatikan guru koar-koar di depan kelas. Mereka adalah tipe manusia yang selalu ingin melakukan sesuatu yang menyenangkan. Dan duduk memperhatikan guru serta mengerjakan tugas-tugas tertulis bukanlah sesuatu yang menyenangkan bagi mereka. Pengalaman mereka masih terbatas, yang mereka butuhkan bukanlah mengerjakan tugas, tapi menambah pengalaman kreatif.

4.Anak-anak bukanlah manusia dewasa yang bertubuh kecil, karena itu mereka tidak bisa diperlakukan seperti orang dewasa. Anak-anak sama dengan tunas tanaman. Bagaimana menurut kamu kalau tunas tanaman ini tidak pernah diberi air, dipotongi daun-daunnya, bahkan diinjak? Pasti mati kan? Kalaupun tetap tumbuh, tunas itu akan menjadi tanaman yang kerdil. Nah anak-anak juga begitu. Jangan kritik mereka, karena kritik akan menjadi racun bagi jiwa mereka yang baru belajar mengenal dunia (apanya yang mau dikritik? mereka kan sedang dalam proses belajar). Sering-seringlah mengapresiasi karya-karya mereka, sesederhana apapun itu. Puji usahanya dalam membuat karya-karya itu. Karya sederhana di mata kita, belum tentu sederhana di mata dunia. Bayangkan, anak yang baru belajar mengenal dunia dengan segala keterbatasan wawasan dan kemampuan motorik mereka, berhasil menciptakan suatu karya, bukankah itu hebat? Jangan ukur karya cipta anak-anak berdasarkan ukuran orang dewasa, ukur karya mereka berdasar kemampuan mereka sebelumnya.

5.Anak tidak bisa disebut bodoh hanya karena mereka sangat lambat mengerjakan tugas. Lambat (dalam kata kerja) bukan berarti lamban (dalam kata sifat). Pikir lagi kalau mau menyebut seorang anak sebagai si bodoh. Berapa usia si guru? Taruhlah 25 tahun. Berapa usia si anak? Taruhlah sepuluh tahun. Bagaimana bisa, seorang manusia yang sudah 25 tahun berpengalaman hidup di dunia, sudah kuliah di perguruan tinggi dan dapat gelar sarjana pula, menyebut seorang anak yang pengalaman hidup di dunia baru sepuluh tahun, belum pernah kuliah pula apalagi dapat gelar sarjana, sebagai si bodoh? Tanya dong si guru. Sudah 25 tahun hidup, udah kuliah pula, tapi kok tak mampu memberi wawasan intelektual pada manusia yang masih berumur 10 tahun? Untuk diketahui, persepsi seorang guru terhadap murid mempengaruhi perlakuan. Jika sejak awal guru sudah mencap seorang anak sebagai si bodoh dan si nakal, tanpa dia sadari, dia akan memperlakukan si anak sebagai si bodoh dan si nakal. Bagaimana akan berkembang anak tersebut? Jadi, bebaskan pikiran-pikiranmu dari cap-cap-an kayak gini.

Kelas Menulis

Kelas menulis yang saya tangani sebenarnya merupakan bagian dari program pengembangan budaya menulis dan membaca yang digagas perpustakaan daerah Sumatra Barat. Posisi saya di situ sebagai tutor saja. Awalnya saya meminta jumlah peserta antara 10-15 saja. Lebih baik kalau sepuluh orang, karena saya pikir itu akan membuat saya mengajar lebih maksimal. Kenyataannya, ada 18 anak yang mendaftar yang kemudian diterima semuanya oleh panitia. Rentang usia anak-anak ini antara 7-13 tahun. Bisa dibilang, pelajaran ini sebenarnya cukup berat karena mereka‘dipaksa’ berimajinasi dan menuliskan imajinasi mereka. Jangankan bagi anak, bagi orang dewasa pun pelajaran ini bisa dibilang sulit. Itu baru tantangan pertama, tantangan berikutnya adalah menghadapi keragaman usia dan kemampuan menulis anak. Ada anak yang sudah besar yang kemampuan menulisnya bagus, ada pula anak yang baru saja pandai menulis kata-kata. Untuk menghadapi mereka semua, saya mempunyai beberapa cara.

1.Saya memulai dan mengakhiri kelas dengan gembira.

Saya meniru trik ini dari konser-konser musisi favorit saya, Yanni. Dari semua konsernya yang saya tonton, Yanni selalu mengawali dan mengakhiri konsernya dengan musik-musik yang menyentak dan menggembirakan. Rata-rata konsernya diakhiri dengan lagu Niki Nana yang mengajak semua penonton berdiri dan bertepuk tangan. Saya melihat wajah-wajah penonton yang gembira dan berseri-seri. Saya kira ini bagus sekali ya. Penonton yang disuguhi musik gembira di akhir konser akan pulang dengan suasana hati gembira pula, efeknya, mereka akan terus merindukan konser Yanni. Saya pikir tak ada salahnya jika trik ini saya sajikan dalam kelas saya. Maka selalu, saya menyajikan hal-hal menggembirakan bagi anak-anak di awal dan di akhir kelas. Sesuatu yang membuat mereka tersenyum dan tertawa-tawa. Hal-hal yang saya sajikan itu adalah:
A.Film-film lucu yang memancing tawa. Saya biasanya memutar film-film Charlie Chaplin atau pencilmation. Durasinya paling lama lima menit. Saya mencari film-film ini dari Youtube (catatan: saya selalu menyeleksi film mana yang cocok disajikan untuk anak-anak)

B.Menampilkan drama boneka kertas. Materinya dari cerita-cerita rakyat yang bertema kepahlawanan. Misalnya kisah tentang Si Nabang Penunggang Paus, cerita rakyat Aceh. Saya membuat panggung bonek dari kotak sepatu besar dan menghiasinya dengan gambar-gambar yang mendukung cerita.

C.Membacakan cerita di buku. Saya membacakan cerita-cerita yang berasal dari buku-buku bergambar yang ukurannya besar. Tujuannya supaya semua anak bisa melihat gambar tersebut. Kadang saya berkeliling kelas untuk memperlihatkan adegan cerita ke setiap anak. Cerita yang saya bacakan biasanya yang gembira atau lucu.

2.Saya memberikan pekerjaan kreatif yang menyenangkan anak-anak.
Pelajaran menulis tidak berarti anak-anak hanya belajar tentang trik menulis saja. Mereka bisa diajak melakukan hal-hal lain selama pelajaran. Inilah yang saya lakukan.

A.Menggambar. Saya meminta anak-anak menggambar dan mewarnai gambar mereka. Setelah selesai, mereka boleh menceritakan gambar tersebut melalui tulisan. Yang saya lihat biasanya anak-anak kalau disuruh menggambar akan langsung bilang hore. Seakan-akan dengan menggambar mereka bisa keluar dari penjara pelajaran. (Ini membuat saya prihatin dengan sekolah-sekolah yang meminimalkan jam pelajaran menggambar. Waktu anak saya masih mau sekolah dulu, pelajaran menggambar cuma sekali tiga minggu, itupun bukan pelajaran yang tersendiri, tapi bagian dari Seni Budaya dan Keterampilan)

B.Membuat semacam prakarya, membuat maze, menempel dan membuat cerita tentang apa yang ada dalam prakarya tersebut. Ini juga pelajaran yang sangat menyenangkan bagi anak-anak. Kalau sudah ada pelajaran ini, kelas biasanya heniiing, anak-anak sibuk dengan prakarya mereka. Tak satupun yang mau diganggu. Saat menulis pun mereka nggak ribut. Mereka menulis sambil memperhatikan hasil karya mereka, mungkin untuk cari ide ya.

3. Saya memberikan materi dalam bentuk kreatif. Anak-anak tidak menulis tugas mereka dalam buku, tapi dalam kertas kerja yang saya bikin sendiri. Kertas kerja itu bentuknya macam-macam. Ada yang berbentuk buklet kartu, mini book, dan lainnya.

4. Selalu ada air minum di atas meja (pustaka daerah menyediakan air mineral gelas). Setiap 45 menit saya selalu mengingatkan anak-anak untuk minum. Ini penting untuk menyegarkan otak mereka agar tidak kering. Saya pikir, guru-guru di sekolah bisa mengingatkan anak-anak untuk membawa air minum dari rumah ya. Setelah pelajaran berlangsung sekian lama, anak-anak harus disuruh minum.

5. Saya memberi anak-anak waktu selama lima menit untuk tidak mengerjakan apa-apa di kelas. Saya menyebutnya ‘waktu bersenang-senang’. Selama waktu tersebut, mereka boleh mengobrol, berjalan dari meja ke meja, memutar-mutar kursi (kursi belajar mereka adalah kursi yang bisa diputar-putar, seperti kursi bos-bos di kantor) atau membaca (saya selalu menyediakan sekitar 15 buku cerita bergambar di atas meja). Selama waktu itu saya hanya memperhatikan mereka, mempelajari sifat dan karakter mereka. Waktu bersenang-senang ini biasanya saya beri setelah mereka selesai mengerjakan tugas. Mengapa saya melakukan ini? Karena, menurut sebuah studi yang dilakukan Queen’s University, Kanada, bila guru memberi rehat selama minimal empat menit pada siswa dan membiarkan mereka melakukan berbagai kegiatan fisik (lari-lari, melompat, berjalan, dll) di kelas, maka itu bisa membuat siswa fokus belajar sampai 50 menit. Lebih lanjut tentang penelitian itu bisa dibaca di sini

Nah itulah hal-hal yang saya lakukan selama di kelas. Pengalaman saya, semua trik ini berhasil membuat anak-anak tetap gembira dan fokus belajar. Kegembiraan belajar itu penting, sebab bisa memberi sugesti positif bagi anak-anak. Bila kamu berhasil membuat anak-anak bergembira dalam pelajaran, maka bisa dikatakan lebih separuh tugas guru sudah ditunaikan dengan baik.

Selamat mengajar 🙂

Share Button

Leave a Reply

Your email address will not be published.