Pertanyaan-pertanyaan Tentang Metode yang Anti Mainstream : Workshop Menulis Pustaka Daerah Sumbar

Saat menyusun materi menulis kreatif untuk peserta workshop Pustaka Daerah saya bertanya pada diri sendiri: apa sasaran yang hendak saya capai? Peserta workshop berada dalam rentang usia 7-11 tahun. Sebagian mereka baru saja mengenal dunia cerita, sebagian yang lain baru pandai baca tulis dan hanya sebagian sangat kecil dari anak-anak ini yang memang menjadikan tulis baca sebagai dunianya. Di antara anak-anak ini ada yang ikut workshop karena memang suka menulis, ada pula yang karena didorong orangtua saja. Ada diantaranya yang suka menulis cerita, ada yang suka menulis non fiksi. Dengan anak-anak yang terlalu beragam ini, saya harus mampu menyusun materi dan menyajikannya semenarik mungkin.

Saya menyusun materi ke dalam dua tahapan. Masing-masingnya terdiri atas delapan kali pertemuan. Tahap pertama saya sebut pengenalan. Di tahap ini saya berusaha mengenali karakter dan kecenderungan semua peserta didik. Adapun tahap kedua saya sebut tahap lanjutan. Di tahap ini saya berupaya mengajar anak-anak sesuai kecendrungan mereka yang saya temukan.

Hari Minggu 12 April 2015 lalu workshop sudah memasuki minggu ke tujuh, itu artinya tahap pertama sudah hampir berakhir. Saya sudah mulai memahami kecendrungan setiap anak dan ini menjadi landasan bagi saya untuk menyusun menu belajar baru untuk anak-anak. Bila pada tahap pertama menu belajarnya saya samakan, tapi pada tahap kedua ini, masing-masing anak hanya mendapat materi yang sesuai dengan kecendrungan mereka masing-masing. Akan ada sedikit perubahan dalam metode ajar pastinya, tapi insyaallah suasana belajarnya akan tetap menarik.
Saya kira, ini kesempatan saya untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan yang ditujukan pada saya mengenai metode belajar menulis saya yang anti mainstream dan terkesan main-main.

1.Mengapa saya selalu mengajak anak-anak menonton film?

Anak-anak adalah manusia baru di muka bumi. Di kelas saya, anak yang paling besar berusia sebelas tahun. Itu artinya, pengalaman hidupnya masih sangat sedikit, baru sebelas tahun. Ia baru belajar meraba-raba tentang banyak hal dalam kehidupan ini. Dan karena pengalaman hidup mereka masih sedikit, mereka akan lebih cepat memahami sesuatu jika pelajaran itu ditunjukkan secara kongkrit di depan mata mereka. Sederhananya begini, jika ingin mengajarkan rasa asin pada seseorang, kita tidak mungkin menerangkan dengan cara “asin itu adalah suatu rasa yang membuatmu bla..bla..bla..” orang itu dijamin tidak akan mengerti. Cara termudah adalah: beri dia garam untuk dicicipi. Pengajaran yang diberikan secara kongkret begini, yang membuat seseorang mengalami pelajaran itu sendiri, akan cepat dipahami. Nah begitulah kira-kira filosofi saya saat menyajikan film untuk ditonton anak-anak. FIlmnya bukan sembarang film, bukan pula film yang asal lucu. Filmnya adalah film-film yang betul-betul saya seleksi dengan baik. Dari 20 film yang saya ambil, belum tentu separuhnya saya berikan ke anak-anak. Pertimbangan imajinasi, visualisasi dan tentu, pendidikannya lebih dominan. Salah satu film yang saya ambil, yakni Rolling Wild (durasinya nggak sampai lima menit), saya berikan dengan pertimbangan film itu sangat imajinatif. Dalam Rolling Wild ada satu pikiran yang menarik, yakni: bagaimana seandainya seluruh hewan berbentuk balon, kira-kira apa yang terjadi? Nah imaji-imaji macam begini akan membantu anak-anak berpikir di luar kotak alias out of the box.

2.Mengapa saya selalu memberikan materi di luar kegatan menulis, seperti menggambar, mewarnai, menempel stiker, bahkan membuat semacam diorama?

Sekarang izinkan saya melontarkan satu pertanyaan balik, menurutmu, jika setiap kali belajar anak-anak hanya disuguhi cerita si guru, lalu setelah itu mereka disuruh menulis, berapa besar kemungkinan mereka bertahan hingga minggu ke 16? Nggak usah lama-lama, di minggu ke delapan aja saya tidak yakin mereka bertahan. Bahkan selepas minggu ke empat, saya kira jumlah mereka menyusut satu-satu. Jika guru menerapkan metode seperti ini, berarti tanpa sadar dia sudah menjadikan pelajaran menulis menjadi momok bagi anak-anak. Pelajaran itu tidak akan menarik lagi. Anak-anak akan memberi label pada pelajaran menulis dengan kata “membosankan”. Saya tidak ingin begitu.
Karena sifat anak-anak yang selalu ingin aktif, bergerak, berpikir, dan mengalami sesuatu dengan semua indranya, maka saya pikir metode belajar yang tepat bagi mereka adalah metode yang melibatkan semua indranya dan memancing kreativitasnya. Menulis adalah pekerjaan kreatif, dan ide-ide kreatif tidak mungkin datang dalam suasana belajar yang kaku dan membosankan.

11065946_10152953412309830_1236319852552027054_n
Diorama kebun karya peserta yang sudah selesai

 

 

 

 

 

 

 

 

Perlengkapan diorama kebun: pemandangan, gambar pohon, buah-buahan, kotak tempat mengemas buah yang sudah dipanen, stiker label kemasan dan lembaran yang berisi keternagan singkat tentang pengelolaan perkebunan
Perlengkapan diorama kebun: pemandangan, gambar pohon, buah-buahan, kotak tempat mengemas buah yang sudah dipanen, stiker label kemasan dan lembaran yang berisi keterangan singkat tentang pengelolaan perkebunan

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Tujuan utama pembelajaran pada tahap pertama bagi saya adalah untuk memahami kecenderungan-kecenderungan semua peserta didik, jadi saya memberikan materi dengan semua metode kreatif yang mampu saya pikirkan. Salah satu metode itu adalah membuat semacam diorama (ini materi 12 April 2015). Saya memberikan bahan-bahan kreasi dan anak-anak harus merakit semua bahan itu menjadi sebuah diorama perkebunan, lengkap dengan alur tanam, rawat, panen dan mengemas hasil perkebunan. Setelah mereka selesai mengerjakan diorama itu, mereka dipersilakan menulis apa saja tentang perkebunan di buku. Ada yang menulis artikel tentang perkebunan, cerita juga pengalaman mereka mengunjungi sebuah perkebunan. Bagi anak-anak membuat diorama itu sangat menarik sehingga mereka membawa hasil karya mereka pulang. Bagi saya, yang paling menarik tentu hasil tulisan mereka. Imajinasi mereka tampak berkembang di situ dan ada pencapaian-pencapaian baru yang tidak terduga dalam tulisan mereka. Jadi..huh…i’m on the right track kayaknya ya ^_^

10942602_10152953414324830_4971322940187923895_n
Salah satu tulisan peserta didik yang terilhami dari diorama kebun

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

3.Apa tujuan pengajaran saya
Tujuan utama saya mengajar anak-anak bukan untuk menjadikan mereka semua pengarang, tapi untuk membuat mereka mampu:
A.Mengungkapkan pikiran dan perasaaan mereka dalam bentuk lisan dan tulisan
B.Berpikir secara sistematis (runtut) karena ini akan berefek pada tulisan mereka
C.Berpikir tentang sebab akibat yang logis karena ini sangat penting dalam sebuah tulisan (entah itu fiksi maupun non fiksi)
D.Mengajar mereka untuk mengerti dengan data dan bagaimana mengolahnya ke dalam tulisan.

Saya menyebut gambar ini sebagai "Nona Berkacamata". Anak-anak diminta menggamabr pantulan peristiwa/pemandangan apa yang dilihat si nona di lensa kacamata. Setelah setelahnya, anak-anak menuliskan persitiwa/pemandangan tersebut
Saya menyebut gambar ini sebagai “Nona Berkacamata”. Anak-anak diminta menggambar pantulan peristiwa/pemandangan apa yang dilihat si nona di lensa kacamata. Setelahnya, anak-anak menuliskan persitiwa/pemandangan tersebut

 

 

Empat poin di atas adalah hal-hal yang seharusnya dimiliki seorang anak entah apapun bakatnya dan entah akan jadi apapun dia nanti setelah dewasa, juga entah apapun kecenderungan tulisannya, fiksi atau non fiksi. Saya kira, tugas seorang guru seperti saya, bukanlah untuk memaksa anak-anak untuk menjadi begini atau begitu, tapi untuk memberikan anak kemampuan-kemampuan paling mendasar dalam kehidupan, yang dengannya mereka bisa berkembang untuk menjadi seseorang yang hebat suatu saat saat nanti.

 

 

 

 

 

 

11062927_10152893145619830_5700046030499811884_n
Ini adalah maze lengkap dengan gambar hewan yang bisa ditempel. Saya berkata ke anak-anak: Bantulah dinosaurus mencari jalannya menuju pantai. Tempel gambar hewan-hewan apa saja yang kira-kira ditemuinya sepanjang jalan, lalu tulis apa isi pembicaraan mereka.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Ini adalah mini book, terdiri atas dua cerita bergambar (yang tulisannya sengaja saya hapus). Saya minta anak-anak menulis di bawah gambar-gamabr mengenai apa kira-kira dialog/peristiwa yang terjadi. Bahannya saya dapat di situs dltk
Ini adalah mini book, terdiri atas dua cerita bergambar (yang tulisannya sengaja saya hapus). Saya minta anak-anak menulis di bawah gambar-gamabr mengenai apa kira-kira dialog/peristiwa yang terjadi. Bahannya saya dapat di situs dltk

 

 

 

Saya seorang pengarang, tapi saya tahu terlarang bagi saya untuk punya ambisi menjadikan semua peserta didik saya untuk jadi pengarang juga seperti saya. Jadi inilah yang bisa saya lakukan. Mengajari mereka hal-hal kecil yang mudah-mudahan bisa mengantar mereka menapak di jalan mereka masing-masing dan menjadi besar di situ. Jika ada di antara mereka yang memang serius ingin menjadi penulis, maka tentu saja, kebahagiaan saya sangat besar dan saya akan membantu mereka sebisanya untuk mencapai cita-cita itu.

Share Button

Leave a Reply

Your email address will not be published.