Labirin Sang Penyihir dan Kisah Jane yang Tersesat

Oleh Majenis Panggar Besi

 

Malam telah benar-benar jatuh di Jakarta. Cahaya terakhir dari senja telah lenyap sama sekali, menyisakan langit berwarna biru tua dengan bercak keunguan. Lampu-lampu kota bersinar malas dan layu. Cahayanya redup, seperti gadis yang baru ditinggal mati kekasihnya.

Jane duduk di kursinya, memandang ke arah kota melalui jendela apartemennya di lantai dua puluh sembilan. Secangkir coklat di hadapannya masih mengepulkan asap, menunggu untuk disesap. Dia mengalihkan pandangannya dari lanskap kota pada buku yang terbuka di tangannya. Beberapa kalimat awal dari buku itu mulai mengikat matanya. Lalu ruangan di sekitarnya mulai ambyar. Warna-warna berhamburan. Jane tercebur ke dalam buku di tangannya tanpa terelakkan. Dia lupa belum meminum coklatnya, dia lupa belum menutup tirai jendela.

Di dalam buku, dia terikat pada seorang tokoh anak-anak umur belasan yang bernama Attar. Seolah ada tali yang mengikat mereka berdua. Jane akan terseret kemanapun Attar pergi. Tak peduli Jane menjerit-jerit histeris atau memaki dengan kata-kata kotor, tak ada satupun orang yang peduli. Akhirnya Jane sadar, bahwa dia tidak tertulis dalam buku ini. Sialan. Jane mulai menyesal telah membaca buku ini.

Pada awal Jane terjebak, buku itu memperkenalkannya pada rasa penasaran Attar tentang sebuah wahana di pasar malam yang konon menyediakan hadiah-hadiah yang yang meneteskan air liur, semisal robot atau pesawat terbang mini dengan remote control. Tak peduli mamanya melarang, Attar secara sembunyi-sembunyi tetap memasuki wahana itu. Sebuah labirin rumit yang tak jelas pintu keluarnya.

Di dalam labirin ternyata banyak anak-anak seumuran Attar yang telah lebih dulu terjebak tanpa bisa keluar, beberapa bahkan sudah terjebak di dalamnya selama beratahun-tahun, atau bahkan puluhan tahun. Sebab di dalam labirin tak ada siang dan malam. Attar bertemu Mandira dan Geo, yang dengan semangat membantu Attar untuk memecahkan teka-teki sang penyihir.

Menurut penjelasan salah satu anak yang bernama Mandira, Attar harus menyelesaikan teka-teki yang disediakan oleh labirin itu sendiri sebagai satu-satunya cara untuk bebas dari labirin tersebut. Bukan teka-teki biasa, sebab setiap kali Attar berhasil menyelesaikan satu pertanyaan, maka jawaban yang ia tulis akan hadir dalam labirin.

Ketika Attar berhasil menjawab kata ‘badai’ misalnya, maka cuaca langsung berubah murung, dan badai yang ganas menyerbu labirin.

Jane harus jungkir balik untuk menyelamatkan dirinya dari hal-hal ganjil yang dihadirkan Attar selama dalam labirin. Dari mulai hampir dilahap sepasang harimau hutan, terseret arus banjir bandang, sampai serbuan burung-burung raksasa yang dapat mencabik-cabik tubuh Jane dengan paruh dan cakarnya yang tajam.

Tubuh Jane memar di beberapa bagian, saat secara tiba-tiba pepohonan di hutan dalam labirin seolah hidup dan membelit semua anak-anak yang terjebak dalam labirin–termasuk dirinya. Pohon itu mencekiknya dengan luar biasa kuat. Sampai Jane kehabisan nafas. Lalu semuanya gelap.

Beberapa detik sebelum sepenuhnya menghilang dalam kegelapan, Jane teringat coklatnya yang belum ia minum. Juga tirai jendela apartemennya yang belum ia turunkan. Lalu buku itu, yang menyeretnya pada dunia gila ini, ia ingat judulnya: Labirin Sang Penyihir, yang ditulis oleh Maya Lestari GF.

Jane menjeritkan kata yang tak pernah benar-benar keluar dari mulutnya: siapapun di luar sana, jangan membaca buku itu. Atau kau akan terseret pada dunia gila seperti yang aku alami.

 

Catt. Artikel ini diposting Majenis di grup literasi Titik Temu

 

Share Button

Leave a Reply

Your email address will not be published.