Ketika Ainaya Bertanya: Seberapa Besar Bunda Mencintaiku

Dimuat Padang Ekspres, Minggu, 21 Juni 2015

 

Ainaya Namira selalu punya pertanyaan tak terduga. Ini karena dia terlalu kerap memikirkan hal-hal yang jarang dipikirkan anak seusianya. Seperti malam ini, ketika mata Ainaya sudah terpejam, dan bunda mulai menutup buku dongengnya, tiba-tiba Ainaya bertanya.

“Bunda, seberapa besar bunda mencintaiku?”

Bunda kaget. Mata Ainaya membuka.

“Mengapa kamu menanyakan itu?” tanya bunda sambil meletakkan buku dongeng ke atas meja nakas.
“Sebab, kata orang di televisi, cinta bunda sangat besar. Sebesar apakah itu? Apakah sebesar kamar ini?”

Bunda memandang dinding kamar Ainaya yang dihiasi mainan tempel berbentuk bintang dan bulan yang bisa bersinar kala gelap.

“Cinta bunda lebih besar dari kamar ini, Ainaya,” bunda menjawab perlahan. Diusapnya rambut Ainaya yang berserak kusut di keningnya.
“Apakah sebesar rumah kita?” tanya Ainaya sambil menguap. Tuan Tom, boneka penyunya yang berwarna coklat, ia peluk erat-erat.
“Rumah kita terlalu kecil untuk menampung cinta bunda,” jawab bunda. Bibirnya membentuk senyum.
“Apakah sebesar rumah kakek? Bukankah rumah kakek lebih besar dari rumah kita?”
“Rumah kakek juga terlalu kecil, Ainaya.”

Ainaya memandang wajah bunda. Dielusnya pipi bunda.
“Apakah sebesar sekolahku?”
Bunda menggeleng.
“Cinta bunda lebih besar dari sekolah atau dari gedung apapun di dunia ini.”

“Kalau begitu sebesar apakah cinta bunda?”
“Sangat besar. Saking besarnya, kamu tak bisa melihat dimana batasnya. Tak bisa melihat dimana ujungnya. Bahkan, meski kamu sudah berjalan bertahun-tahun, kamu tetap tidak bisa mengelilinginya. Cinta bunda sangat besar.”
“Oh, apakah sebesar bumi? Aku pasti bisa mengelilinginya dengan pesawat.”
“Bumi terlalu kecil, Ainaya. Cinta bunda lebih besar dari seratus ribu bumi.”

“Waah….” Ainaya terkagum, “Mengapa cinta bunda begitu besar? Jika cinta bunda lebih besar dari seratus ribu bumi, pasti tempat cinta bunda sangat besar.”
Bunda tersenyum. Diusapnya kepala Ainaya.
“Ainaya, tahukah kamu mengapa sumur di rumah kakek tidak pernah kering, meski kita terus menerus mengambil airnya?”
“Itu karena di sumur kakek ada mata air.”

Bunda tersenyum. Mengangguk.
“Benar. Begitu pula cinta bunda. Di dalam hati bunda ada mata air cinta yang tidak akan pernah kering. Airnya akan terus mengalir, tak peduli seberapa sering atau seberapa banyak kamu mengambilnya. Air cinta bunda mengalir ke danau, ke lautan, ke angkasa, sehingga kemanapun kamu pergi, kamu akan selalu berada di dalam cinta bunda.”

“Oh…” Ainaya takjub, “Apakah di bintang juga ada cinta bunda?”
“Ya, cinta bundalah yang membuat bintang-bintang itu bersinar.”
“Oh, bunda…” Ainaya memeluk bunda, “Aku cinta pada bunda. Cintaku pun sebesar cinta bunda. Cintaku pun terbang ke bintang-bintang.”
Bunda memeluk Ainaya.

“Benar, Sayang. Cintamu dan cinta bunda, akan membuat bintang-bintang itu bersinar selamanya.”
Bunda mengusap rambut Ainaya.
“Nah, tidurlah sekarang, Sayang. Jangan cemas, sebab, cinta bunda juga terbang ke dalam mimpimu.”
Ainaya memejamkan mata. Dalam sekejap ia tertidur. Bibirnya membentuk senyum.
**

 

 

Cerpen ini khusus untuk Ainaya Namira, murid workshop menulis kreatifku di Pustaka Daerah Sumbar.

Share Button

Leave a Reply

Your email address will not be published.